
HAPPY READING GUYS!!🥰
JANGAN LUPA PENCET TOMBOL LIKE, COMMENT DAN VOTE!!!
Setelah mendapatkan tawaran yang luar biasa dari Digo, membuat signal hati bagi Alexa bahwa Digo juga mempunyai ketertarikan padanya, walaupun dia masih belum tau sudah berapa persen tahap itu.
Sebenarnya Alexa tidak ingin mengejar laki-laki, karena dia juga memiliki pengalaman buruk tentang itu. Tapi entah mengapa dia merasa Dr. Digo itu berbeda, dia memang pantas untuk di kejar walaupun harus bersaing dengan wanita manapun.
Keesokan harinya, adalah jadwal pemeriksaan rontgen pada Alexa untuk ke 2 kalinya, Risa mengantarnya ke ruang lab . Mereka berharap agar hasilnya baik dan tidak ada kendala lainnya lagi, karena sudah banyak sekali pekerjaannya yang menunggu. Dia harus tetap menunggu hasilnya besok.
Seperti biasa setelah itu Risa pergi meninggalkan dia sendirian karena harus mengurus bisnisnya yang lain. Dia mengambil notebook kecil dari tasnya dan menuliskan sesuatu disana. Dia tidak tau apakah bisa bertemu dengan Digo lagi setelah dia dinyatakan sembuh dan boleh pulang..
Karena keasikan menulis dia bahkan tidak tau jika Keivan datang ke kamar rawatnya.
“Ekhemm” dehem Keivan agar Alexa melihatnya.
“Astaga, kamu membuatku kaget saja” ujar Alexa benar-benar kaget melihat Keivan didepannya.
Keivan tertawa “kamu terlalu fokus menulis sesuatu hingga tidak melihatku masuk kekamarmu, jika boleh tau apa yang kamu tulis?”
Alexa langsung menutup notebooknya dan menyimpannya di tas “cuma agenda untuk endorse aja kok, btw… kamu gak lagi sibuk?
Keivan menggeleng “aku lagi free sekarang, aku juga udah minta ijin sama Digo untuk ngajak kamu keluar makan malam”
“Terus gimana jawaban Dr. Digo?” Tanya Alexa penasaran.
“Yaaahh dia mengijinkannya walau sebentar, dan aku harus menjaga mu tentunya” balas Keivan.
“Apakah kamu mau pergi bersamaku?” Lanjut Keivan lagi.
Alexa mengangguk “Iya, aku harus berganti pakaian dulu, kamu tunggu diluar ya”
Keivan mengangguk setuju dan keluar kamar dengan senang.
Alexa merasa binggung kenapa Digo mengijinkan dirinya pergi bersama Keivan “jika dia mempunyai perasaan kepadaku.. seharusnya dia melarang Kei mengajakku pergi karena dia akan merasakan cemburu.. apa jangan-jangan dia hanya mempermainkan aku?”
Setelah beberapa menit Alexa mempersiapkan
dirinya sendirian akhirnya dia sudah siap. Dia tidak perlu menggunakan tongkat lagi karena Risa sudah membelikan dia semacam alat terapi yang dipasang di pinggang agar menghilangkan rasa nyeri saat berjalan. Dia sudah nampak normal sekarang.
Alexa membuka pintu kamar rawatnya dan menemui Keivan yang sudah menunggunya di luar “Maaf lama ya Kei”
Keivan memaklumi Alexa “it’s okey, yuk pergi sekarang?”
Alexa mengangguk
Bahkan mereka juga melewati ruangan Digo, dan Alexa melihat Digo sedang sibuk bekerja melayani pasien.
“Dia benar-benar sedang sibuk” batin Alexa sedih.
Keivan membukakan pintu mobilnya untuk Alexa dan membantunya untuk duduk dan setelah itu mereka menuju cafee terdekat di daerah sana.
“Huuhhh akhirnya aku keluar kandang setelah beberapa hari” ujar Alexa sedikit bercanda.
“Aku paham sih rasanya hahaha.. aku pernah di diagnosa tifus dan harus dirawat sampai 1 minggu, demi apapun.. aku selalu ingin pergi keluar saja” balas Keivan sambil fokus menyetir.
“Kamu benar, jadi terimakasih sudah mengajakku pergi” ujar Alexa serius.
__ADS_1
“Sama-sama” balas Keivan senang.
Hanya dengan 10 menit perjalanan mereka akhirnya sampai di cafee yang dimaksud oleh Keivan, cafee yang nampak sangat sepi walaupun sudah saat jam makan malam.
“Selamat sore tuan Keivan” ujar Waitress itu sambil menunduk.
Keivan merangkul pundak Alexa sambil memastikan agar Alexa tidak terjatuh saat berjalan.
Waitress tersebut menunjukkan meja untuk mereka berdua “silahkan tuan dan nona”
“Terimakasih” balas Alexa sambil tersenyum.
Setelah itu Waitress pun pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kenapa sepi ya? ini kan di pusat kota, jam makan malam pula” ujar Alexa sedikit binggung.
“Mungkin saja cafee ini belum terlalu terkenal” balas Keivan asal.
“Kamu ingin pesan apa?” Tanya Keivan sambil membuka buku menu.
Alexa juga membuka buku menu itu “Hmmm.. aku mau tenderloin steak dan orange jus”
Keivan memanggil waitress untuk memesan makanan, dia menyebutkan pesanan mereka dan setelah itu waitress itu pun pergi.
Singkat cerita makanan yang mereka pesan sudah datang, dan mereka menikmati makan malam itu.
“Alexa, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Ujar Keivan.
Alexa mengangguk
Alexa hampir tersendat “Huk.. maaf, maksudmu? tidak tidak.. aku tidak mempunyai kekasih”
“Lalu.. bagaimana dengan mu?” Lanjut Alexa balik bertanya.
Keivan tertawa “syukurlah.. aku juga tidak mempunyai kekasih”
“Benarkah? Bukankah bapak Keivan Sanjaya itu terkenal ….” Ujar Alexa terpotong.
“Playboy maksudmu? Itu hanya rumor” jawab Keivan dengan cepat.
“Lagipula wajar jika banyak orang yang menyukai seseorang sepertimu, aku saja binggung titik kurangmu dimana..” ujar Alexa sambil menguyah makanannya.
“Jadi apakah aku termasuk tipe mu?” Tanya Keivan berani.
Alexa kebinggungan harus menjawab apa “Emmmmm.. aku tidak mempunyai tipe khusus.. tapi aku senang berteman denganmu Hehehe”
“Jadi hanya teman..” batin Keivan sedih.
Keivan langsung melanjutkan memakan makanannya itu, begitupun Alexa.
Suasana menjadi canggung setelah pembahasan tadi, Alexa juga merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka sekarang.
“Bagaimana kalau kita kembali ke rumah sakit? Aku harus segera minum obat” ujar Alexa sudah menyelesaikan makanannya.
“Sekarang? Tapi ini.. kita baru saja pergi” ujar Keivan sambil melihat jam tangannya.
“Baiklah, ayo kita pulang” lanjut Keivan memahami Alexa harus kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
Bahkan saat perjalanan kembali ke rumah sakit, mereka hanya fokus dengan urusan masing-masing, tanpa perbincangan yang serius.
“Terimakasih untuk hari ini Kei” ujar Alexa saat di bantu turun dari mobil.
Keivan tersenyum “sama-sama”
“Sampai jumpa lagi” balas Alexa langsung hendak pergi ke dalam.
Keivan langsung mencegah Alexa pergi dengan menarik tangannya “Tunggu Alexa”
Alexa menoleh ke arah Keivan lagi “iya?”
“Aku.. aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu..” ujar Keivan sambil menatap mata Alexa.
“Iya, katakan saja Kei” ujar Alexa.
“Aku menyukaimu” ujar Keivan dengan tulus.
DEG
“APA!! AKU?” Tanya Alexa cukup kaget dengan pernyataan Keivan tadi.
Keivan mengangguk “Iya, aku sangat bersungguh-sungguh”
Alexa terdiam cukup lama dia sungguh binggung harus menjawab apa kepada Keivan, karena memang dirinya tidak pernah merasakan rasa lebih apapun kepada Keivan selain teman.
“Maaf Kei, aku tidak bisa” ujar Alexa yakin.
“Berikan aku alasan kenapa kamu menolakku?” Tanya Keivan.
“Aku sedang tidak berminat membuka hati untuk siapapun sekarang, maaf.. aku harus masuk sekarang” ujar Alexa langsung pergi meninggalkan Keivan sendirian.
Alexa mempercepat langkahnya karena takut Keivan mengejarnya lagi karena dia sudah kehabisan kata-kata untuk meladeninya.
“Astaga.. kenapa harus aku..” ujar Alexa menggerutu sendirian.
BRUK
Alexa menabrak seseorang karena tidak konsentrasi saat berjalan.
“Maaf maaf maaf” ujar Alexa menutup matanya sambil mengelus dahinya yang terpentok di bahu seseorang yang dia tabrak.
“Alexa?” ujar seseorang yang tertabrak itu.
Alexa langsung membuka matanya saat mendengar suara yang terdengar tak asing itu “Dokter?”
“Kenapa? Ada apa? Kenapa langkahmu terburu-buru?” Tanya Digo cepat.
Alexa menggeleng “Tidak.. tidak ada masalah”
“Aku harus masuk ke kamar rawatku sekarang dokter” lanjut Alexa lagi langsung berjalan ke kamarnya.
Digo kebinggungan melihat tingkah Alexa yang terlihat aneh itu “Ada apa dengannya?”.
__ADS_1