OPERASI CINTA

OPERASI CINTA
Bukan salah kamu


__ADS_3

Maaf guys cerita lama ke pending karena lagi ada kerjaan yang super duper banyak poll, oke aku lanjutkan lagi..


Dr. Edi menyatakan operasi untuk pasien VVIP akan dilaksanakan sore ini, padahal para dokter belum ada yang memutuskan untuk menjalankan operasi, Entah mengapa Dr. Edi mengambil keputusan secepat itu.


Raisa mendapatkan info operasi mendadak dari salah satu perawat UGD, dia langsung menuju keruangan Digo untuk meminta pernyataan karena Digo lah yang memberikan izin untuk dijalankannya operasi tersebut.


Raisa membuka pintu ruangan Digo dan melihat Digo sedang sibuk dengan komputernya.


“Go, why?” Tanya Raisa didepan meja Digo sambil membawa berkas yang telah ditandatangani oleh Digo.


Digo paham maksud Raisa “Tenang dulu..”


“Tenang gimana! Kamu gak bisa ngambil keputusan sendiri! Semuanya harus dirundingin!! Ini bersangkutan dengan nyawa Go!” Balas Raisa.


“Aku ngerti, aku sudah periksa semuanya, dan pasien sudah layak untuk ditangani, semakin lama penanganan bukankah akibatnya semakin buruk?” Tanya Digo.


Raisa tidak habis pikir dan hanya menghembuskan nafasnya kasar.


“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, ada dokter-dokter hebat yang akan menangani pasien itu dengan baik” ujar Digo lagi.


Raisa percaya dengan keputusan Digo, tidak baik juga mengekang keputusan dokter dirumah sakit yang bukan tempatnya bekerja, dia hanya berharap operasinya berjalan lancar.


Raisa pun keluar dari ruangan Digo.


KRING


“Halo Sayang..” sapa Alexa menelpon Digo karena merasa rindu.


Digo tersenyum manis “Halo Sayang, kok suara kamu aneh?”


“Aneh gimana?” Tanya Alexa, memang suaranya terdengar bengek karena terserang flu akibat berendam terlalu lama di kolam.


“Kamu lagi flu ya sayang?” Tanya Digo.


“Emmmm… Iya sayang..” balas Alexa enteng.


“Ini pasti karena kamu berendam terlalu lama tadi, kamu bandel banget sih” Ujar Digo.


“Udah minum obat? Kamu mau aku beliin apa sayang?” Tanya Digo lagi.


“Jangan khawatir.. Udah di kerokin juga sama Mama kamu hehe.. gimana operasinya sayang?” Tanya Alexa.


“Operasinya besok pagi sayang, maaf yaa aku belum bisa ke hotel, besok pulang kerumah dianter Papa mau kan?” Tanya Digo.


Alexa mengangguk “It’s Okey sayang… semoga operasinya lancar yaaa, semangat kerjanya sayangku cintaku muah muahhh”


“Kamu minum obat dulu.. abis itu istirahat yang cukup.. sampai ketemu besok sayangku” balas Digo.


Akhirnya panggilan telpon mereka berakhir.


Digo juga harus tidur diruangannya, karena adanya perintah dari Dr. Edi untuk tidak boleh pulang sebelum operasi dilaksanakan.


Raisa merasa cemas didalam ruangannya, dia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang, dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke atas rooftop.


Kebetulan arah rooftop melewati ruangan Digo, jadi Raisa memutuskan untuk menyapa Digo sebentar.


“Go, lagi sibuk gak?” Sapa Raisa membuka pintu ruangan Digo sedikit.


“Enggak kok, ada apa?” Tanya Digo.

__ADS_1


“Temenin aku ke rooftop dong..” ajak Raisa.


“Udah malem, dingin disitu” elak Digo.


Raisa masuk keruangan Digo dan menarik tangan Digo “Ihhh ayooooo”


Sesungguhnya Raisa belum tau kalau Digo sudah menikah, dia pasti akan menjauh jika dia mengetahui itu.


Digo akhirnya menurut, mereka akhirnya berjalan-jalan menuju ke rooftop


“Wahhhhh bagus banget….” Ujar Raisa setelah sampai di rooftop.


“Kamu pasti sering kesini kan?” Tanya Raisa.


Bagi Digo banyak sekali kenangan manis bersama Alexa disana, bahkan Alexa lah yang membuatnya datang ke rooftop untuk pertama kali.


“Beberapa kali..” balas Digo.


“Oh gitu…”


“Go.. aku boleh nanya sesuatu gak?” Ujar Raisa.


Digo mengangguk.


“Kamu masih marah gak sama aku?” Tanya Raisa.


Wajar saja Raisa saat itu meninggalkan Digo begitu saja, terlebih lagi Digo mempergoki Raisa tengah bertemu dengan Keivan.


“Aku sama Keivan itu gak ada apa-apa..” ujar Raisa lagi.


“Udahlah.. jangan dibahas lagi, lagipula itu sudah lama sekali” balas Digo.


“So, we can be friend now? (Jadi, kita akan berteman sekarang?” Tanya Raisa.


Hati Raisa sedikit lega, dia sudah tidak menyimpan rasa apapun, tapi ada rasa canggung didalam hatinya yang masih mengganjal.


“Aku udah nikah sekarang” ucap Digo.


Raisa refleks menoleh Digo, dia tidak percaya Digo sudah menikah.


“Serius?” Tanya Raisa.


Raisa langsung cemberut “kenapa gak undang aku?”


“Aku gak tau kontak kamu, lagipula acara pernikahanku itu sangat sederhana” balas Digo.


Raisa paham, dia senang karena Digo sudah bahagia.


“Siapa istrimu? Apakah aku mengenalnya?” Tanya Raisa kepo.


“Diaa.. Artis, Alexa Virana.. kamu pasti mengenalinya” balas Digo dengan senyuman, menyebut nama Alexa saja sudah membuatnya rindu.


“What?? Dia cantik sekali… selamat atas pernikahan kalian” balas Raisa excited.


“Terimakasih Raisa” balas Digo.


Angin di rooftop semakin kencang dan membuat tubuh mereka mulai kedinginan, daripada mereka jatuh sakit, mereka memutuskan untuk kembali keruangan masing- masing.


Ruang Operasi

__ADS_1


Keesokan harinya Operasi pasien VVIP yang terkena penyakit kanker pankreas dilaksanakan, seluruh persiapan sudah selesai, ada beberapa dokter senior yang ikut ambil alih, untuk operasi kali ini akan dipimpin oleh Dr. Edi.


Pasien sudah diberikan anestesi dan siap di meja operasi.


“Bisa dimulai Dr. Raisa?” Tanya Edi.


“Iya, silahkan dimulai” jawab Raisa


“Pasien ini, menderita kanker kepala pankreas, dan sekarang kita akan memulai operasi whipple” ujar Edi memberikan informasi kepada dokter-dokter.


“Pisau bedah” ujar Edi.


Asisten perawat mempersiapkan peralatan yang diminta oleh dokter.


“Bovie”


“Retactor”


“Tie” ujar Digo ikut ambil alih.


“Bagaimana kondisi pasien?” Tanya Edi kepada Raisa.


“Stabil” balas Raisa.


Tiba-tiba detakan jantung pasien meningkat drastis, hal yang ditakutkan pun terjadi.


“V tach” ujar Digo langsung


V tach adalah kondisi detakan jantung yang tidak normal.


“Sepertinya dia mengalami A-fib karena sindrom WPW” ujar Raisa.


Raisa langsung mengecek nadi di leher pasien “Aku masih merasakan denyut nadinya”


“Tekanan darahnya?” Tanya Edi.


“80/40” balas Raisa.


“Synchronized cardioversion. 15 joules” ujar Raisa meminta kepada perawat.


Raisa langsung memasang alat pemompa jantung di dada pasien, ruangan operasi menjadi riuh.


Dr. Edi hanya terdiam kaku, dia telah salah mengambil tindakan.


Setelah beberapa menit tidak ada perubahan, Digo naik keatas meja operasi dan memompa jantung pasien secara manual.


“1 mg epinefrin setiap tiga menit melalui infus” ujar Raisa.


“Memeriksa detak jantungnya” Ujar Dokter yang lain.


“Charged ke 200 joules” ujar Raisa lagi, keringatnya sudah banyak bercucuran.


Suasana ruang operasi menjadi tegang, keadaan pasien benar-benar sudah tidak bisa tertolong.


Pasien dinyatakan meninggal pada pukul 07.30 pagi.


Raisa tak bisa berkata-kata lagi, mereka sudah gagal.


Entah mengapa Dr. Edi menjadi sangat pendiam, wajahnya memerah karena menahan ketakutan, untuk pertama kalinya dia salah mendiagnosa pasien.

__ADS_1


Pasien langsung dibawa keruangan jenazah untuk diproses lebih lanjut.


Raisa pergi ke toilet dan menangis sekencang-kencangnya, ada rasa bersalah didalam hatinya, bayangan tentang operasinya kali ini selalu terngiang-ngiang di otaknya.


__ADS_2