OPERASI CINTA

OPERASI CINTA
Membujuk Sisca


__ADS_3

HAPPY READING🥰


Jangan lupa di like, comment dan vote aku yaa, follow aku juga agar tau tentang novel-novel terbaru aku😘😘


Part ini khusus yang kangen Bobby, Sisca dan Bursis 21+++


...****************...


Setelah acara kremasi mendiang Rudy, dan momen dimana Digo menyatakan kebenaran tentang masa lalu Alexa.


Bobby dan Sisca tak saling berbicara, Sisca masih marah dengan sifat Bobby yang kekanak-kanakan itu.


Mereka juga tak saling sekamar, tak saling menyapa, tak saling peduli seperti biasanya.


Bobby tidak tahan hal itu, walaupun kini dia sudah tua, kemesvmannya masih ada, bahkan lebih aktif lagi.


Seperti malam ini, Sisca hendak masuk kekamar tamu untuk tidur disana.


“Bund..” ujar Bobby merengek.


“Tidur diatas yuk” bujuk Bobby lagi.


Sisca masuk kedalam kamar tapi sebelum itu Bobby mencegah pintunya untuk tidak tertutup.


“Kita jelaskan semuanya dengan baik-baik yaa Bund..” bujuk Bobby.


“Gak ada yang perlu dijelasin! Dari dulu Kamu selalu suka ngambil keputusan sendiri, sekarang terserah kamu aja deh” balas Sisca.


“Iya iya aku setuju Bund.. aku setuju Digo sama Alexa” ujar Bobby lagi.


Setelah beberapa hari berpikir, Bobby akhirnya menyetujui hubungan Digo dan Alexa, bagaimanapun permasalahan hidup tidak selamanya bisa mulus, pasti ada saja masalahnya dan mungkin itu yang sedang mereka hadapi saat ini.


“Beneran kamu setuju?” Tanya Sisca memastikan.


Bobby mengangguk.


“Awas ya kamu bohong?!” Ujar Sisca setelah itu.


“Aku juga ingat saat ayah kamu gak merestui hubungan kita, sekarang kasihan dong Digo juga harus merasakan hal yang sama” ujar Bobby


Sisca memeluk tubuh Bobby senang “akhirnya pikiran dan hati kamu terbuka juga..”


“Maafin aku yaa..” ujar Bobby juga membalas pelukan Sisca.


“Bilang maaf juga ke Digo dan Alexa” balas Sisca.


“Iyaa, besok kita undang mereka makan malam dirumah, kita bicarakan tentang pernikahan mereka” lanjut Bobby.


“Aaghhh aku jadi makin sayang sama kamu” balas Sisca sambil memeluk tubuh Bobby makin erat.


“Emphh sayang.. gawat!” Ujar Bobby.


Bobby merasakan sesuatunya yang berada dibawah bergetar hebat, seperti mendapatkan panggilan alam yang membuatnya berdiri dengan tegak dan kokoh.


Sisca yang masih memeluk Bobby pasti juga menyadari hal itu, bagaimanapun dia juga sudah lama tak menyapa teman baiknya itu, selama berselisih dengan Bobby mereka tak melakukan ritual kebiasaan.


“Kangen Bund..” rengek Bobby.


Sisca mengalungkan tangannya dileher Bobby “Aku juga kangen yahh..”

__ADS_1


CUP


Bobby mengangkat tubuh Sisca dan mengajaknya perputar-putar, jangan lupa aktivitas ciumannya masih berlanjut…


BRUM


Terdengarlah suara mobil Digo yang telah sampai dirumah.


Sisca langsung turun dari tubuh Bobby “Ada Digo..” ujarnya pelan.


“Lanjutin dikamar aja yah” lanjut Sisca.


Bobby mengangguk dan langsung menarik tangan Sisca cepat menuju kekamar.


Setelah sampai di kamar mereka, tanpa basa-basi lagi, mereka melanjutkan ciuman yang tadi sempat tertunda.


“Aghhh yahh yahh” ujar Sisca mendezah saat jari-jari nakal suaminya berhasil mengobrak-abrik gunung dan intinya.


Bobby juga sudah berhasil melepaskan busana mereka hingga tak berbusana lagi.


Sisca berada dibawah Bobby, menerima segala serangan hebat yang langsung membuat suhu badannya panas.


“Aghh keluar ahhh” teriak Sisca keenakan.


Bobby menjilat inti Sisca tanpa ampun, hal itu tidak akan pernah membosankan, itu adalah titik kelemahan Sisca.


Sisca menggelengkan kepalanya kekanan kekiri “aghh ahh ahhhh”


Dia sudah keluar beberapa kali.


Bobby langsung memegang Bursis, senjata pusakanya dan mengarahkan itu ke inti favoritnya.


“Siap ya Bund.. bentar lagi Bursis landing” ejek Bobby.


Jleb Jleb Jleb….


“Aghhh ahhhh” racau Bobby sambil aktif menyodok Bursis keluar masuk.


Sisca mengelap keringat yang membasahi wajah suaminya itu dengan tangannya dan mencium bibir tebal suaminya lagi, rasa nikmat bagian tubuh bawahnya saat menerima servis dari suaminya membuat dirinya melayang.


Bobby membalikkan posisi setelah berhasil mengeluarkan cairannya.


“Aghh diatas Bund.. bergerak ahh ahh” dezah Bobby dengan nafas terengah-engah.


Sisca sebenarnya lebih suka dengan posisi berhubungan dibawah, dia senang Bobby yang bekerja dan memberikan dia kenikmatan yang hakiki.


Sisca dengan rambut yang terurai panjang dan indah menjadikannya sangat memukau jika terlihat dari bawah, dan Bobby senang melihat itu.


Bobby meremas pinggul sintal istrinya itu, membantunya untuk bergerak dan bermain.


“Aghhh yahh stophh ahh” racau Sisca sudah sangat kelelahan.


Bobby sudah melakukannya dengan sangat lama.


“Sebentar ahh ahhh belum..” racau Bobby masih aktif menyodok inti istrinya.


Sisca mengalungkan tangannya dileher Bobby, memeluk pasrah saat terjadi tumbrukan-tumbrukan panas yang menjalar didalam tubuhnya.


Akhirnya gerakan Bobby terhenti, dia sudah merasakan kelelahan juga.

__ADS_1


“Makasih Bunda” ujar Bobby sambil mengecup bibir istrinya.


“Mandi malem yuk?” Ajak Bobby lagi.


Sisca mengangguk malu.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain Taniara kebelet pipis, dia sudah setengah mabuk, dia bahkan sudah menghabiskan 1 setengah botol soju, dia tidak bisa menahan pipisnya dan harus keluar tenda.


Taniara membuka tenda dan melihat Keivan yang berada diluar tenda juga.


“Sayang?” Ujar Keivan kaget melihat Taniara keluar tenda.


“Aku mau pipis” ujar Taniara.


Keivan mengerti “Oh begitu.. mau aku antar?”


Taniara mengangguk “Iya sayang”


Keivan memapah tubuh Taniara menuju toilet “sudah.. masuklah sayang”


Taniara pun masuk ke toilet sendiri.


Dia menyelesaikan urusannya dengan cepat.


“Sudah?” Tanya Keivan saat melihat Taniara membuka pintu toilet.


Taniara mengangguk.


“Kamu mabuk sayang?” Tanya Keivan.


Taniara menggeleng “Belum.. aku masih sadar” sambil tertawa-tawa.


“Pasti dia sudah menghabiskan sojunya..” batin Keivan heran melihat kelakuan kekasihnya itu.


“Sekarang tidurlah, jangan diam diluar tenda, cuaca sangat dingin sayang” ujar Keivan.


“Emmmmm.. baiklah” balas Taniara.


Tiba-tiba Taniara menjadi oleng, dia jatuh tersungkur.


“Awhhhh” keluh Taniara memegang lututnya yang terluka.


Bukannya menangis tapi Taniara malah tertawa-tawa.


“FIX dia sudah mabuk” batin Keivan menggeleng.


Keivan membopong tubuh Taniara masuk ke Tendanya.


Keivan membersihkan luka Taniara, walaupun sebenarnya dia tidak suka melihat darah, dia benar-benar menyayangi Taniara sepenuh hatinya.


Taniara menarik tangan Keivan saat Keivan ingin pergi dari tendanya.


“Tunggu.. ada maling, maling” teriak Taniara aneh.


Keivan yang takut jika orang-orang salah sangka langsung menutup bibir Taniara dengan tangannya.


“Usttt…..” bujuk Keivan agar Taniara diam.

__ADS_1


Taniara akhirnya diam, dia memejamkan matanya, masih ada sisa senyuman diwajahnya, wajahnya sangat imut jika begitu.


“Emmmm.. orang sadarpun akan melakukannya jika bertemu dengan wanita imut seperti ini” ujar Keivan memandang wajah Taniara


__ADS_2