
Beberapa jam kemudian pangeranpun siuman.
Tabib segera memeriksa keadaan pangeran.
Atas perintah dari pangeran tabib menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
"ada hal apa pangeran?kenapa mereka harus pergi?" walaupun merasa bingung dengan keinginan pangeran tapi tabib mencoba mendekat dan mendengarkan dengan seksama apa yang akan pangeran katakan.
"ingatanku sudah kembali"
"APAA..."
"sstt......" pangeran menutup mulut tabib dengan tangannya
Pangeran meminta tabib untuk merahasiakan ingatannya yang telah kembali pada siapapun termasuk xhi xhi dan orang tuanya.
Tabibpun mengangguk cepat.
"tapi kenapa pangeran?"
"aku masih ingin mempermainkan xhi xhi,bukankah dia sangat manis ketika marah?"
Tabib hanya bisa menepuk keningnya dan menurut.
WUUUSSHH
__ADS_1
Tiba-tiba saja pengawal bayangan yang baginda utus untuk menjaga xhi xhi muncul dihadapan baginda dan langsung memberi hormat.
"hormat pada baginda"
"kemana saja kamu?"
"maafkan hamba baginda karena tidak langsung bertindak ketika pangeran diserang,hamba bukannya menghilang tapi hamba mencoba mengikuti penculik yang menculik nona xhi xhi hingga ke tempat persembunyiannya"
Walaupun sempat kecewa atas tindakan yang dilakukan oleh pengawal bayangan dan membuat pangeran terluka tapi baginda merasa lega karena mendapat informasi tentang keberadaan xhi xhi.
Baginda mengutus mong nan dan beberapa pengawal untuk mengikuti pengawal bayangan menuju tempat persembunyian dimana xhi xhi disekap,pangeranpun memaksa untuk ikut serta walaupun kondisinya masih lemah.
Karena mustahil untuk melarang keinginan pangeran maka bagindapun mengijinkannya ikut serta,pangeran menjamin bahwa dirinya akan baik-baik saja selama mong nan dan jong su berada didekatnya.
Entah kenapa baginda sangat yakin dalang dibalik semua ini adalah perdana menteri dan putrinya.
Penyerangan yang dilakukan pihak istana tentu saja membuat perdana menteri dan putri sangat terkejut.mereka bukan cuma terkejut tapi juga terlihat sangat ketakutan apalagi ketika melihat tatapan pangeran yang seperti akan memakan mereka berdua.
Jelas pangeran sangat marah karena tindakan yang telah dilakukan oleh ayah dan anak itu.kemarah pangeran memuncak ketika melihat xhi xhi tersungkur dilantai dengan kaki dan tangan yang terikat serta bekas tamparan yang ada dipipi xhi xhi,selain itu ada sedikit darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
"pa-pangeran i-ini salah faham,akan hamba jelaskan" dengan terbata-bata perdana menteri mencoba membela diri dan berlutut.
GRAAB
pangeran mencengkram wajah perdana menteri.
__ADS_1
"aku tidak butuh penjelasan darimu"
PLAAAK
Dengan keras pangeran menampar wajah perdana menteri.
"pa-pangeran.....ciiihh,HABISI MEREKA....." karena tidak terima mendapatkan tamparan perdana menteri memerintahkan anak buahnya untuk menyerang,anak buah perdana menteri langsung menyerang tapi dengan sigap pengawal istana serta mong nan langsung melindungi pangeran.
Tanpa menunggu lagi pangeran langsung melepaskan ikatan xhi xhi dan menggendong xhi xhi.
"TUNGGUU...."
Langkah pangeran terhenti ketika mendengar teriakan putri.
"aku tidak akan membiarkan kalian pergi dengan selamat,aku tidak akan membiarkan wanita pelayan itu hidup,AKU BENCI KALIAN,KENAPA....?apa hebatnya wanita pelayan itu dariku?KATAKAN....apa yang dia punya hingga membuat kamu mengacuhkan aku?APAA......?" putri menangis tersedu,nada bicaranya turun naik karena emosi.
Sayangnya pangeran tidak mempedulikannya dan terus berjalan meninggalkan putri yang terus berteriak-teriak.
"HEEYY...." karena merasa kesal dengan sikap acuh pangeran,putri langsung mengambil sebatang kayu dan berlari mengejar pangeran lalu mengayunkan tangannya bersiap memukul pangeran dari belakang.
"AWAS....." xhi xhi berteriak dan mencoba memberitahu pangeran.tapi dengan cepat jong su menghadang dan....
CLEEBB
Pedang tajam yang ada ditangan jong su menusuk tubuh putri.
__ADS_1
"ANAKKUU....." perdana menteri berlari dan menangkap tubuh putrinya yang lemah.
"kerajaan dinasty akan mencabut jabatanmu sebagai perdana menteri" pangeran kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh.