
"Pelangi..." kata Reza terkejut.
"Reza...." aku pun tidak kalah terkejutnya.
"Kak Pelangi ini suami Sari," kata Sari memperkenalkan suaminya.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar ternyata suami Sari itu Reza kekasihku.
"Mas,ini kakakku kak Pelangi," kata Sari lagi.
Aku tidak tahan tangisku pun pecah. Sari menjadi bingung kenapa Pelangi menangis. Hatiku sangat sakit tiba-tiba saja aku menampar wajah Reza dengan keras.
"Kamu jahat,tega kamu mengkhianati aku apa salahku sama kamu za,ternyata selama ini kamu selingkuh dengan adikku," kataku sambil terus menangis.
Sari sangat terkejut mendengar perkataanku.
"Apa kak,jadi mas Reza itu kekasihnya kakak itu tidak mungkin,kak," tangis Sari.
"Pelangi,maafkan aku,aku bisa jelaskan ini semua sayang," kata Reza.
"Cukup,jangan pernah kamu panggil aku sayang, aku benci sama kamu," kataku.
"Pelangi aku sangat mencintaimu sayang,tolong dengarkan penjelasan aku dulu," kata Reza memohon.
"Kak Pelangi maafkan Sari kak,aku gak tau kalau ternyata mas Reza itu kekasihnya kakak," tangis Sari semakin kencang.
"Asal kamu tau ya Sar,Reza ini calon suami aku,kita sudah satu tahun lebih pacaran dan akan menikah akhir tahun ini dan semua berantakan gara-gara kamu," kataku sambil menangis.
"Mulai sekarang,Sar aku bukan kakak kamu lagi kakakmu sudah mati," kataku lagi.
"Dan kamu Reza diantara kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi,aku gak mau dengar alasan apapun dari kamu lagi dan aku gak mau lagi lihat muka kalian berdua,aku benci kalian," kataku lagi.
Aku lalu berlari meninggalkan mereka dan menuju mobilnya Dewi.
"Pelangi tunggu..." teriak Reza sambil mengejarku.
Mobil Dewipun melaju kencang keluar dari halaman rumah Sari. Didalam mobil Dewi,aku menangis sekencang-kencangnya. Dewi menjadi bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan pelan-pelan dia lalu menghentikan mobilnya. Aku terus saja menangis,Dewi lalu memberikan air mineral kepada Pelangi.
__ADS_1
"Kak Pelang.....,ini diminum dulu kak.
Aku lalu mengambil air mineral yang diberikan Dewi dan meminumnya. Aku mulai agak sedikit tenang.
"Makasih ya Wi," kataku.
"Kak Pelangi ada apa kak,kenapa kakak menangis,kakak bisa cerita sama aku kalau itu bisa bikin kakak sedikit lega tapi kalau gak mau kakak gak usah cerita," kata Dewi.
"Saat ini hatiku hancur,hatiku sakit banget Wi,aku merasa dikhianati oleh orang-orang yang aku sayang," kataku.
"Aku baru tau kalau suaminya Sari ternyata Reza."
"Reza itu calon suami aku,kami pacaran sudah lumayan lama karena Reza lagi mengurus pekerjaannya disini,jadi kita pacaran LDR dan berencana menikah akhir tahun ini," kataku menjelaskan.
"Ya Ampun kak," Dewi terkejut mendengarnya.
"Kakak yang sabar ya,aku yakin kak Pelangi pasti kuat menghadapi semua cobaan ini," kata Dewi lagi.
Aku hanya diam saja mendengar perkataan Dewi.
"Kakak gak mau nginap ketempat Dewi aja dulu kak,"ucap Dewi.
"Kakak kan juga masih capek,kalau jam segini pulang nanti kakak kemalaman sampai dirumah,nginap aja ya kak," bujuk Dewi.
"Gak Wi,kakak mau langsung pulang aja,kakak gak mau ngerepotin kamu lagi,kamu sudah banyak bantuin kakak lagian kasian ibu dirumah sendirian,"sahutku.
"Baiklah kak,Dewi antarkan ke terminal sekarang nanti kapan-kapan kakak main ke rumahku ya kak,kak Pelangi sudah kuanggap seperti kakakku sendiri kak," kata Dewi lagi.
"Iya lain kali kakak mampir ketempatmu,Wi makasih banyak udah nolongin kakak," kataku.
"Iya kak,sama-sama," sahut Dewi.
Akhirnya aku sampai juga diterminal,untunglah bis sore masih ada,aku lalu berpamitan dengan Dewi. Didalam bis seperti biasa aku mencari tempat duduk didekat jendela. Pikiranku saat ini sangat kacau,aku memejamkan mataku berharap semua masalah yang kuhadapi ini bisa hilang. Tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan,aku membuka mataku dan tak terasa air mataku mengalir. Aku benci dengan Reza dan Sari,aku merasa dikhianati dan aku rasa aku tidak akan bisa memaafkannya.
Harapanku untuk hidup bersama Reza hancur sudah. Kulihat dihandphoneku banyak panggilan dan pesan-pesan dari Reza dan Sari. Aku lalu memblokir nomor telpon Reza dan Sari. Aku sudah tidak mau berhubungan dengan mereka lagi,walaupun Sari itu saudara kandungku. Mungkin saat ini aku belum bisa memaafkan mereka,aku butuh waktu entah sampai kapan. Cobaan ini sangat berat buatku apa aku sanggup menghadapinya. Ya Allah berilah hamba kekuatan,doaku dalam hati. Hatiku sangat sakit,aku menangis lagi.
"Mba,kenapa,mba sakit ya," kudengar suara seorang pemuda yang duduk disebelahku mengagetkanku.
__ADS_1
"Oh...gak,aku aku gak apa-apa," kataku gelagapan.
"Ini mba tissu buat mba,jangan nangis mba,sayang mba wajahnya yang cantik kena air mata," kata pemuda itu sambil menyerahkan tissu kepadaku.
"Makasih,"jawabku singkat.
Saat ini aku lagi tidak ingin mengobrol dengan siapa pun termasuk pemuda yang duduk disebelahku ini.
"Mbanya mau kemana," tanya pemuda itu.
"Pulang,"Jawabku singkat.
"Ooh..."katanya lagi.
Pemuda itu tahu kalau aku tidak ingin ngobrol dengannya. Dia lalu diam tidak mengganggu lagi. Pemuda itu lalu asyik memainkan game dihandphonenya. Baguslah dia tidak menggangguku lagi,saat ini aku lagi malas untuk mengobrol dengan siapa pun. Saat ini dipikiranku hanya ada Sari dan Reza,aku masih saja memikirkan keduanya yang begitu tega terhadapku. Aku bingung apa yang harus aku katakan kepada ibu nanti,aku tidak mau ibu tahu apa yang terjadi tapi aku juga tidak mau membohongi ibu. Kasihan ibu kalau aku harus berbohong lagi cukup Sari yang membohongi kami. Aku tidak mau ibu terluka karena kebohongan-kebohongan anak-anaknya. Bangkai walaupun ditutupin pasti akan tercium juga akhirnya,baunya pasti gak enak.
Aku putuskan nanti setelah sampai dirumah aku akan menceritakan semua yang terjadi kepada ibu,aku harus jujur kepada ibu dan tidak ada satupun yang ditutupi,semoga ibu kuat mendengar semua yang terjadi batinku dalam hati. Hari semakin gelap kulihat jam tanganku sudah menunjukan jam 7.30.Satu jam lagi sampai pikirku.
\#\#\#\#\#
"Mba ini dimakan mba," tiba-tiba pemuda
disebelahku memberikan aku roti.
Aku lalu mengambil dan memakannya,aku memang lapar,aku lupa tadi sebelum ke terminal seharusnya aku membeli cemilan dulu.
"Makasih," jawabku kepada pemuda itu.
"Kenalkan mba,aku Hendra," kata pemuda itu.
"Aku Pelangi," jawabku masih dengan jawaban yang singkat.
"Bisnya sudah mau sampai mba," katanya.
"Iya..."sahutku.
Lama-lama aku kesal juga dengan pemuda ini,terlalu berisik. Aku lalu turun dari bis meninggalkan dia dan segera mencari taksi menuju rumahku.
__ADS_1