Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 38 Kembali Ke Australia


__ADS_3

Kebencian Nina terhadap Sandra semakin besar, Nina merasa karena Sandra lah ibu Merry akhir-akhir ini selalu memarahinya. Hubungannya dengan mamanya tidak seakrab dulu lagi. Tiga hari lagi liburan kuliah Nina berakhir dan dia harus kembali lagi ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya. Nina ingin menghabiskan sisa liburannya bersama Pelangi. Minggu siang, Nina sedang berada dirumah Pelangi. Mereka asyik memasak didapur.


"Kak Pelangi...Nina boleh tanya gak," tanya Nina.


"Kamu mau tanya apa," jawabku.


"Kakak gak ada niat gitu mau nikah dengan kak Hendra," ucap Nina.


"Nina...kakak itu maunya ya secepatnya menikah dengan kakak kamu," ucapku.


"Tapi ya..kamu tau sendiri kan, mama kamu gak senang dengan kakak, mama kamu lebih senang kalau Sandra yang menikah dengan kakak kamu," kataku.


"Terus...kak Hendra gak ada inisiatifnya gitu, misalnya nih ngajak kakak kawin lari," kata Nina.


"Hahaha...ya capek lah Na, kawin lari," kataku.


Nina ikut tertawa mendengar aku tertawa. Dasar anak kecil pemikirannya sesederhana itu, batinku.


"Kak Pelangi gak mau menikah tanpa restu dari orang tua," kataku.


"Nina cuma bisa berdoa semoga kak Pelangi dan kak Hendra bisa secepatnya ke pelaminan," kata Nina.


"Amiin...makasih ya doanya Nina," kataku.


"Kakakmu kok belum datang ya, katanya mau makan siang disini," kataku lagi.


"Mungkin sebentar lagi kak," ucap Nina.


Setelah selesai memasak dibantu ibu dan Nina, Pelangi menyiapkan makan siang diatas meja yang sederhana. Tidak berapa lama Hendra pun datang, dia memang sudah berjanji mau makan siang dirumah Pelangi.


"Sekarang kita semua sudah berkumpul, ayo kita makan," ajak ibu.


Semua berkumpul di meja makan menghadapi hidangan yang menggugah selera makan.


"Pasti ini enak semuanya," ucap Hendra.


"Iya lah..ini semua kak Pelangi yang masak," ucap Nina.


"Kak Pelangi memang istri idaman," kata Nina.


"Aah kamu ini bisa aja Nina," kataku.


"Calon istri siapa dulu...," ucap Hendra menggoda Pelangi.


"Awas looh kak Hendra, kalau sampai gak jadi nikah sama kak Pelangi, nanti kak Hendra, Nina mutilasi," kata Nina.


"Idiiih...bisanya cuma ngancam," kata Hendra sambil tertawa.


"Ayo dihabiskan semua makanannya, jangan ada yang tersisa ya," kata ibu.


"Hari ini kita merayakan keberangkatan Nina ke Australia, sebentar lagi liburan Nina kan sudah selesai," kataku.


"Yah..aku gak bisa ketemu lagi sama kak Pelangi," ucap Nina.


"Lebay kamu Nina, kaya gak bisa komunikasi aja, memangnya kamu tinggal dihutan," kata Hendra.


"Kan bisa telpon, video call...," kata Hendra lagi.

__ADS_1


"Ya beda lah kak, video call sama ketemu langsung, kalau ketemu langsung kan bisa peluk, lebih berasa," kata Nina.


"Iya kan kak Pelangi," ucap Nina.


"Betul itu...100 buat kamu Nina," ucapku.


"Yaah...kok belain Nina sih..aku kan pacar kamu," kata Hendra pura-pura merajuk.


"Aku gak belain Nina, memang benar kok apa kata Nina, kalau ketemu langsung itu berasa hilang kangennya karena bisa peluk, kalau lewat telpon kan gak bisa peluk-pelukan," kataku menjelaskan.


"Sudah Hendra kamu gak bakalan menang dengan calon emak-emak ini, dua lawan satu," kata ibu sambil tertawa.


Semua tertawa mendengar kata-kata ibu. Siang itu kami semua menyantap makanan dengan rasa bahagia. Lebih bahagia lagi kalau makan siang ini ada mama dan papanya Hendra, bercanda tawa seperti ini, tapi itu semua tidak mungkin batinku.


#####


Hari keberangkatan Nina pun tiba, Nina diantar kedua orang tuanya ke bandara. Sehari sebelumnya Nina sudah berpamitan dengan Pelangi.


"Nina kamu hati-hati ya disana, jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak main, fokus dengan kuliahmu," kata bu Merry.


"Iya ma," ucap Nina pendek.


"Kalau ada apa-apa cepat kabarin papa ya nak," ucap pak Anton.


"Iya pa..," ucap Nina sambil memeluk pak Anton.


Sebenarnya pak Anton berat melepaskan putrinya sendirian kuliah diluar negeri, tapi demi mencapai cita-cita Nina, pak Anton harus merelakannya. Ibu Merry juga tidak lupa memeluk putri kesayangannya, walaupun beberapa hari yang lalu selalu berselisih paham dengan Nina. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, akhirnya pesawat yang membawa Nina pun terbang.


"Ayo ma..kita pulang," ajak pak Anton.


"Iya pa...tapi siang ini mama mau ke butik sebentar ya pa," kata bu Merry.


Pak Anton mengantar istrinya ke butik. Didalam perjalanan ibu Merry merasakan kepalanya agak sedikit pusing.


"Pa...kepala mama kok pusing ya," ucap bu Merry.


"Kalau gitu mama gak usah ke butik, papa antar pulang aja," kata pak Anton.


"Gak pa, mama gak apa-apa kok, paling juga sebentar hilang sakitnya," ucap bu Merry.


"Ya udah...nanti kalau masih pusing, mama pulang aja," kata pak Anton.


"Iya pa...," ucap bu Merry.


Setelah mengantarkan ibu Merry dan berpamitan dengan istrinya, pak Anton kembali ke kantornya. Setelah menyapa karyawannya ibu Merry berkeliling melihat butiknya yang ramai dikunjungi pembeli. Ibu Merry turun langsung melayani customernya karena karyawan lagi sibuk melayani beberapa pembeli. Setiap hari sabtu dan minggu butik ibu Merry memang selalu ramai pengunjung. Kebetulan Pelangi dan Sinta sahabatnya juga ada di butik ibu Merry. Sinta mengajak Pelangi untuk menemaninya mencari baju kebaya yang akan digunakan Sinta dihari pertunangannya.


"Selamat ya Sin, akhirnya kamu bertunangan juga dengan Dani," kataku.


"Iya Pelangi, makasih ya," ucap Sinta.


"Aku mau tampil cantik diacara pertunanganku nanti," kata Sinta.


"Ayo Pelangi kita kesana," ajak Sinta sambil menunjuk kearah tempat baju-baju kebaya.


Pelangi mengikuti Sinta dari belakang, dia membiarkan sahabatnya memilih-milih baju yang dia suka. Ketika Pelangi dan Sinta sedang asyik memilih-milih baju, tiba-tiba saja terdengar suara wanita berteriak.


"Tolooong...," kata wanita yang ternyata seorang customer.

__ADS_1


"Ada ibu-ibu pingsan, tolong..," kata wanita itu.


Semua pengunjung menoleh kearah suara itu. Pelangi dan Sinta segera menuju kearah wanita tersebut karena jaraknya lumayan dekat dengan wanita itu. Pelangi melihat wanita jatuh pingsan dilantai, dan Pelangi kaget ternyata wanita itu ibu Merry mamanya Hendra. Pelangi berjongkok untuk melihat keadaan ibu Merry.


"Mba tolongin ibu ini kasian," kata wanita itu.


"Iya, saya kenal dengan ibu ini, langsung bawa kerumah sakit aja, pak security tolong pak angkat dulu ibu ini," kataku kepada security yang kebetulan ada disitu.


"Saya cari taksi dulu ya pak," ucapku lagi.


"Iya mba...," sahut security.


"Kamu kenal dengan ibu ini," tanya Sinta.


"Ibu ini mamanya Hendra," jawabku.


Sinta hanya terdiam mendengar jawaban dari Pelangi. Setelah taksi tiba, Pelangi dan Sinta membawa ibu Merry ke rumah sakit. Pelangi langsung mengabari Hendra bahwa ibunya jatuh pingsan dan dibawa kerumah sakit. Tiba dirumah sakit ibu Merry langsung ditangani dokter.


"Bagaimana keadaan ibu Merry dok," tanyaku.


"Ibu Merry terkena serangan stroke ringan, jadi harus dirawat dirumah sakit, ibu Merry sekarang sudah sadar tapi masih perlu banyak istirahat," kata dokter.


"Mba ini anaknya ibu Merry," tanya dokter.


"Bukan dok, saya cuma kenal aja sama ibu Merry," jawabku.


"Sebentar lagi keluarganya datang dok," kataku.


"Kalau begitu ini saya kasih resep obatnya ibu Merry, ada sebagian obat yang harus ditebus diapotek ya," kata dokter.


"Baik dok," ucapku.


Pelangi lalu mengambil resep dari dokter dan berniat untuk menebusnya.


"Gimana keadaan mamanya Hendra," tanya Sinta.


"Sudah sadar sih, tapi harus diopname, tante Merry kena serangan stroke ringan," jawabku.


"Sinta sudah malam, kamu pulang aja dulu, kamu kan harus menyiapkan acara pertunanganmu," kataku.


"Kamu gak apa-apa sendirian," ucap Sinta.


"Gak apa-apa sebentar lagi om Anton dan Hendra datang," kataku.


"Ya udah...aku pulang duluan ya," kata Sinta.


"Makasih ya," kataku.


Setelah Sinta pamit pulang, Hendra dan pak Anton datang. Mereka kemudian menemui ibu Merry yang sedang tertidur.


"Makasih ya Pelangi kamu sudah menolong tante," kata pak Anton.


"Iya om tadi cuma kebetulan aja saya ada disitu," kataku.


"Kalau gitu saya pulang dulu ya om," kataku lagi.


"Ayo sayang aku antar," kata Hendra.

__ADS_1


Setelah pamitan kepada pak Anton, Hendra mengantar aku pulang. Sepanjang perjalanan aku menceritakan kejadian sore tadi di butik mamanya Hendra. Hendra berterima kasih kepada Pelangi karena sudah menolong mama. Semoga dengan kejadian ini hati mama bisa terbuka untuk Pelangi batin Hendra.


__ADS_2