
Semenjak pertemuan dirumah Sari terakhir kali. Pelangi tidak pernah sekalipun menelpon atau sekedar menanyakan kabar tentang Sari atau menanyakan calon keponakannya kepada ibu begitu juga dengan Sari,dia tidak pernah menanyakan apapun tentang Pelangi.
Sebagai orang tua,ibu sedih melihat anak-anaknya tidak akur saling membenci satu sama yang lain. Ibu mengerti kalau Pelangi saat ini belum bisa memaafkan Sari tapi ibu yakin mereka akan saling memaafkan dan biar waktu yang berbicara.
#####
Bulan ini sudah waktunya kelahiran bayi Sari semua perlengkapan bayinya sudah dia siapkan dari popoknya,baju-baju bayi sampai tempat tidur bayi sudah lengkap. Pikirannya belum tenang karena Sari teringat dengan perjanjiannya dengan Reza. Reza akan menceraikannya setelah anak yang ada didalam kandungannya itu lahir. Aku akan membujuk lagi mas Reza supaya dia mau membatalkan perceraian itu batin Sari. Apa pun akan kulakukan untuk kebahagiaan anakku ucap Sari dalam hati. Sari sudah tidak sabar akan kelahiran bayinya kedunia. Sari begitu antusias tetapi Reza seakan tidak perduli kepada Sari dan calon anaknya. Saat ini dipikiran Reza hanyalah bagaimana caranya membuat Pelangi jatuh cinta lagi kepadanya dan mau menjadi kekasihnya.
Sari mengambil handphonenya dan menelpon Dewi, dan tidak berapa lama Dewi pun mengangkat telpon dari Sari.
"Halo Sar.....ada apa," tanya Dewi.
"Halo...maaf Wi,aku cuma mau minta tolong sama kamu beberapa hari lagi kan kayanya aku mau melahirkan Wi, bisa gak nanti aku minta tolong kalau nanti aku mau melahirkan antarin aku ke rumah sakit,mas Reza kayanya gak mau deh Wi," kata Sari.
"Masa dia setega itu sih Sar,kayanya gak mungkin deh,dia kan ayah anak yang kamu kandung," ucap Dewi.
"Kan kamu tau sendiri,aku juga sering cerita mas Reza itu gimana sama aku dan calon anaknya dia gak pernah perduli," jawab Sari.
"Ya sudah kalau kamu gak mau tolongin aku gak apa-apa Wi,maaf merepotkan kamu," ucap Sari.
"Jangan marah dong Sar,aku pasti mau tolongin kamu,aku mau kok nganterin kamu,kalau perlu aku nanti yang nungguin kamu dirumah sakit aku penasaran mau lihat wajah keponakanku," kata Dewi.
"Ah,kamu Wi bisa aja," sahut Sari sambil tertawa.
"Ya sudah makasih ya Wi," ucap Sari.
"Oke,sama-sama," sahut Dewi kemudian dia mematikan handphonenya.
Aku heran kok bisa Reza secuek itu kepada anaknya padahal itu darah dagingnya sendiri batin Dewi.
#####
Sore ini Sari ingin berjalan-jalan keliling komplek dia jenuh seharian dikamar kata dokter bagus juga untuk melahirkan nanti. Sari berganti pakaian yang agak longgar dan berjalan pelan-pelan keluar kamar.
"Kita jalan-jalan ya nak,pasti kamu bosan didalam rumah terus ya,maaf ya sayang papa kamu gak bisa nemanin kita, papa lagi sibuk sayang cari uang buat kamu," kata Sari kepada bayi yang dikandungnya.
Baru beberapa langkah menuju halaman rumah,Sari merasakan perutnya mulai sakit dan lama-lama sakitnya mulai bertambah mungkin ini waktunya melahirkan batin Sari. Sari kembali lagi kedalam rumah dengan menahan sakit dia mencari handphonenya,untung tadi dia meletakkannya diatas meja ruang tamu. Sari lalu menelpon Reza tapi tidak diangkat,dicobanya lagi berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari Reza. Sari semakin panik dan kesakitan Ya Allah ini semakin sakit,kuatkan aku Ya Allah doa Sari dalam hati. Sari lalu teringat Dewi,semakin lama perutnya semakin sakit Sari menelpon Dewi berharap Dewi mengangkat telponnya.
"Halo.....Wi tolong aku mau melahirkan sekarang," ucap Sari menangis kesakitan.
"Iya tunggu Sar,aku secepatnya kesana sabar dulu ya," kata Dewi.
Setelah pamit kepada ibunya, Dewi lalu bergegas kerumah Sari. Dewi menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi untunglah sore itu jalanan tidak macet. Tidak berapa lama akhirnya sampailah ditempat Sari. Dewi masuk kerumah Sari sambil berteriak.
"Sari ayo aku bantu kamu berdiri kita ke rumah sakit secepatnya, kamu masih bisa berjalan kan," kata Dewi.
Sari hanya bisa mengangguk. Dewi lalu memapah Sari keluar menuju mobilnya sambil membawa tas yang berisi perlengkapan buat persalinan dan beberapa perlengkapan bayi.
"Ayo Wi cepetan aku sudah gak tahan bayinya mau keluar," teriak Sari menangis kesakitan.
"Tahan ya Sar sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit," ucap Dewi.
"Aduuh sakit banget aku sudah gak kuat Wi.....aaahhh sakit banget Ya Allah," teriak Sari.
Sari merasa ini perjalanan terpanjang dan terlama menuju rumah sakit yang pernah dia rasakan. Sari merasakan ada air yang mengalir disela-sela kakinya, ternyata air ketubannya sudah pecah. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di rumah sakit ada beberapa perawat yang dengan cepat membantu Sari. Sari dibawa keruangan persalinan sedangkan Dewi mengurus semua administrasinya. Setelah dua jam Dewi menunggu akhirnya Sari melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Setelah dibersihkan Sari lalu dipindahkan ke ruang perawatan. Dewi mencoba menelpon Reza mengabarkan bahwa anaknya sudah lahir.
"Halo.....za ini Dewi, maaf mengganggu," ucap Dewi.
"Oh Dewi,iya ada apa Wi," sahut Reza.
"Aku cuma mau kasih tau kamu sekarang Sari sudah melahirkan dirumah sakit R dan anaknya cowok," kata Dewi.
__ADS_1
"Iya Wi makasih udah ngasih tau,maaf aku masih ada meeting Wi dengan klienku," kata Reza lalu menutup telponnya.
"Dasar laki-laki gak punya perasaan,gak punya hati anaknya sudah lahir malah gak perduli," ucap Dewi.
Dia lalu menemui Sari dan anaknya. Kebetulan Sari menyusui anaknya.
"Eh kamu Wi ayo sini masuk Wi,coba liat keponakanmu cakep kan mirip sama papanya," ucap Sari.
"Makasih ya kamu sudah banyak bantuin aku,maaf aku selalu merepotkan kamu," ucap Sari lagi.
"Sar,Sar kamu kok ngomong gitu,aku kan sahabatmu ya wajarlah kita saling bantu,gimana sih," sahut Dewi.
"Oh iya Sar,tadi aku menelpon Reza untuk mengabarkan anaknya sudah lahir tapi jawabannya bikin aku kesal deh,masa dia bilang masih ada meeting dengan kliennya Reza sama sekali gak perduli sama anaknya," kata Dewi.
"Ya udah Wi sini,kamu mau coba gendong dede baby gak," tanya Sari.
"Mau dong aku gendong sebentar ya," jawab Dewi.
Dewi lalu menggendong bayi Sari yang lagi tertidur.
"Siapa namanya Sar," tany Dewi lagi.
"Namanya Gilang Rahardian," jawab Sari.
"Namanya bagus banget cocok dengan wajahnya yang tampan," puji Dewi.
Setelah puas menggendong baby Gilang, perawat pun datang untuk mengambil baby Gilang untuk dibawa kekamar bayi.
"Maaf ya Sar,aku gak bisa temani kamu sampai malam aku harus nemani mama ke tempat om Iwan kakaknya mama, ada acara lamaran anaknya om Iwan,kakak sepupuku Dina," kata Dewi.
"Iya gak apa-apa Wi aku bisa kok,ditinggal aja gak apa-apa kan ada perawat juga nanti yang bantuin aku," ucap Sari.
"Makasih banyak ya Wi," kata Sari lagi.
"Apa salahnya kalau kucoba untuk menelpon mas Reza siapa tau dia mau mengangkat telpon dariku," pikir Sari.
Sari mencoba menelpon Reza,tapi tidak diangkat,Sari mencobanya sekali lagi dan terus mencoba. Akhirnya Reza mengangkat telpon dari Sari.
"Halo mas Reza,mas anak kita sudah lahir anak kita laki-laki mas," kata Sari.
"Iya...." jawab Reza singkat.
"Mas Reza bisa minta tolong kesini mas,anak kita belum diazankan," ucap Sari.
"Iya nanti aku kesana," jawab Reza ketus.
######
Malam hari jam 19.30, Reza datang ke rumah sakit dan menemui Sari. Sari tidak menyangka kalau Reza akhirnya mau menemui Sari. Alhamdulilah,mas Reza mau juga menemui aku dan bayinya batin Sari. Reza duduk disamping ranjang Sari.
"Kamu sehat mana bayinya," tanya Reza tanpa basa basi.
"Iya mas,aku dan bayi kita sehat," jawab Sari.
"Mas,bayi kita laki-laki,aku sudah memberi nama tapi kalau mas Reza mau mengganti nama anak kita gak apa-apa mas," ucap Sari.
"Biar kamu aja yang kasih nama," kata Reza.
"Aku kasih nama anak kita Gilang Rahardian mas, sebentar mas aku panggilkan suster untuk membawakan bayi Gilang," kata Sari.
Sari memencet tombol untuk memanggil suster. Tak berapa lama suster pun datang.
__ADS_1
"Ada apa ibu Sari, ada yang bisa saya bantu ibu," tanya suster itu dengan lemah lembut.
"Suster bisa minta tolong bayi saya bisa dibawa ke sini sebentar,suami saya mau mengazani bayinya sus," kata Sari.
"Sebentar ya bu saya ambilkan dulu bayinya," ucap suster.
Suster itu lalu pergi ke ruangan bayi, kebetulan baby Gilang masih bangun dan menangis. Suster menggendong baby Gilang dan membawanya kekamar Sari.
"Ini pak bayinya...." suster itu menyerahkan bayi Gilang kepada Reza.
Reza kebingungan dia belum pernah menggendong bayi,Reza sangat hati-hati takut melukai bayinya dan dia mengazani baby Gilang. Sari hanya tersenyum melihat Reza yang masih kaku menggendong baby Gilang. Semoga dengan kelahiran baby Gilang mas Reza bisa berubah lebih perhatian lagi dengan anak dan istrinya doa Sari dalam hati. Baby Gilang yang tadi menangis menjadi tenang dan nyaman berada digendongan Reza, baby Gilang pun tertidur. Reza terus memandangi wajah baby Gilang,wajahnya yang imut tidak berdosa membuat Reza merasa bersalah. Dari masih dalam kandungan,Reza tidak pernah memperdulikannya bahkan dia sempat tidak mengakui kalau itu bukan anaknya. Reza merasa kasihan dengan baby Gilang. Maafkan papa ya nak batin Reza dalam hati. Reza mencium lembut baby Gilang. Tidak berapa lama suster datang mau mengambil baby Gilang untuk ditidurkan diruangan bayi.
"Selamat malam bapak dan ibu,saya mau mengambil bayinya dulu ya bu mau dipindahkan ke ruangan bayi,ibu dan bayinya harus banyak istirahat," kata suster.
"Iya sus makasih," ucap Sari.
Baby Gilang sudah dipindahkan ke ruang bayi, entah kenapa Reza merasa tidak rela berpisah dengan baby Gilang. Apa mungkin aku sudah jatuh cinta dengan baby Gilang batin Reza. Setelah berpamitan dengan Sari, dia kemudian pulang. Sepanjang perjalanan pulang Reza masih saja membayangkan wajah mungil baby Gilang yang menggemaskan. Wajah baby Gilang sangat mirip dengan dirinya sewaktu masih bayi. Besok Reza berencana untuk melihat baby Gilang lagi.
#####
Pagi-pagi sekali Reza sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit sebelum berangkat kerja dia ingin bertemu dengan baby Gilang dulu,tak lupa dia mampir ke kios buah untuk membeli buah buat Sari. Sesampai di rumah sakit,Reza lalu masuk kedalam ruangan Sari, Reza melihat Sari sedang menyusui baby Gilang
"Oh maaf,aku keluar dulu nanti aku masuk lagi setelah kamu selesai menyusui," kata Reza.
Dia tidak sengaja melihat gunung kembar Sari yang putih mulus,bulat dan montok itu. Degh..rasanya dadanya berguncang hebat,hasratnya sebagai laki-laki timbul melihat itu semua. Ah ada apa dengan aku ini batin Reza dalam hati, Reza berusaha membuang pikiran aneh itu.
"Mas Reza tunggu,ini sudah selesai kok baby Gilang udah tidur," kata Sari.
Reza lalu menghampiri Sari dan baby Gilang yang sedang tidur disamping Sari.
"Aku kesini mau liat baby Gilang setelah itu aku berangkat kerja,ini buah buat kamu," ucap Reza.
"Iya mas makasih," jawab Sari.
Mimpi apa aku semalam mas Reza begitu perhatian sama aku dan baby Gilang,selama menikah belum pernah mas Reza membelikan aku sesuatu bahkan waktu aku ngidam pun apa yang aku inginkan aku cari sendiri batin Sari.
"Boleh aku gendong baby Gilang," tanya Reza.
"Iya boleh,ini kan anakmu juga mas," jawab Sari.
Dengan pelan-pelan Reza menggendong baby Gilang yang tertidur pulas dan menciuminya. Setelah puas dengan baby Gilang,Reza pamit kepada Sari untuk berangkat kerja. Semoga ini awal bahagiaku setelah penderitaanku selama ini doa Sari dalam hati.
Sari ingin membagi kebahagiaannya kepada ibu,dia ingin memberitahu ibu kalau sekarang dia sudah melahirkan. Sari mengambil handphonenya dan menelpon ibu.
"Halo bu....gimana keadaannya ibu," tanya Sari.
"Alhamdulillah sehat-sehat aja nak,kamu disana gimana nak," kata ibu.
"Bu,sekarang ibu sudah jadi nenek,Sari sudah melahirkan kemaren bu," ucap Sari.
"Apa...! sekarang ibu sudah jadi nenek oalaah jadi tambah tua dong sekarang ibu," kata ibu sambil tertawa.
"Biar tua tapi ibu masih tetap cantik kok," canda Sari.
"Ah kamu bisa aja bercandanya Sar, mana anakmu,ibu pengen liat cowok atau cewek Sar," tanya ibu.
"Sari masih dirumah sakit bu,bayinya sekarang tidur diruang bayi tadi habis kekenyangan minum susu bu,bayi Sari cowok bu namanya Gilang Rahardian," jawab Sari.
"Mungkin besok atau lusa Sari baru bisa pulang dari rumah sakit bu," kata Sari menjelaskan.
"Ya udah dulu ya bu, Sari mau istirahat lagi," kata Sari lagi.
__ADS_1
"Ya sudah kamu banyak-banyak istirahat ya nak," kata ibu lalu mematikan telponnya.
Didalam kamar aku mendengar semua pembicaraan Sari dan ibu karena ibu mengaktifkan speaker handphonenya. Sekarang Reza sudah menjadi Ayah dan Sari sudah menjadi ibu pasti mereka sangat bahagia, sekarang aku sudah mengikhlaskan semuanya semoga Sari dan Reza bisa hidup bahagia doaku dalam hati.