Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 57 Pemakaman Sari


__ADS_3

Hari ini cuaca agak mendung tidak secerah kemaren. Matahari tidak mau menampakkan sinarnya. Dikediaman rumah Reza, dengan suasana berkabung dan sedih yang sangat mendalam yang dirasakan Pelangi, Reza dan ibu atas kepergian Sari untuk selamanya. Beberapa sahabat, teman dan juga para tetangga datang menghadiri pemakaman Sari. Tampak juga Hendra disana untuk memberikan semangat kepada Pelangi, dan hadir pula Dewi sahabat Sari yang sangat kecewa karena baru tahu sakit yang diderita sahabatnya itu. Jenazah Sari akan dimakamkan ditempat pemakaman umum. Isak tangis para pelayat mengiringi pemakaman Sari. Setelah semua prosesi pemakaman selesai, para pelayat satu persatu berpamitan pulang.


"Kak Pelangi...kenapa Dewi gak dikasih tau kak, kalau Sari sakit kak," protes Dewi sahabat Sari.


"Maaf Wi...aku kira kamu udah tau kalau Sari sedang sakit," balasku.


Dewi menangis terisak mengenang sahabatnya Sari. Di hari terakhirnya kematian Sari, Dewi pun tidak ada untuk melihatnya, Dewi sangat sedih sekali.


"Iya kak...tempo hari Sari ada menelpon Dewi kak..dia bilang lagi sakit tapi sakit ringan aja...gak parah...," ujar Dewi sambil menangis.


"Sari gak kasih tau kalau dia lagi sakit kanker otak...," tangis Dewi semakin kencang.


"Sudah...sudah Wi...kita doakan aja Sari semoga amal dan ibadahnya diterima disisi Allah Swt dan diampuni segala kesalahannya...," kataku.


"Iya kak Amiin...," ujar Dewi.


"Kalau gitu Dewi pulang ya kak Pelangi," ujar Dewi lagi.


"Makasih ya Wi," ucapku pelan.


Setelah berpamitan kepada ibu dan Reza, Dewi pun pulang. Sementara Hendra masih setia mendampingi Pelangi untuk memberikan semangat kepadanya.


"Pelangi kamu yang sabar dan tabah ya...semoga amal ibadah Sari diterima oleh Allah Swt," ucap Hendra.


"Amiin...makasih ya Ndra...," ucapku pelan.


"Kamu sudah makan ?" tanya Hendra.


"Belum Ndra...aku gak bisa makan disaat suasana seperti ini," ujarku.


"Pelangi kamu harus mencoba makan walaupun sedikit, aku gak mau kamu nanti sakit," ujar Hendra.


Hendra lalu menggenggam tangan Pelangi yang masih bersedih. Pelangi merasa nyaman dan kesedihannya akan kehilangan adiknya sedikit berkurang dengan adanya Hendra yang menemaninya. Jujur saja perasaan Pelangi tidak sedikit pun berubah terhadap Hendra masih sama sewaktu mereka masih menjadi pasangan kekasih, begitu pun juga dengan Hendra. Disaat Pelangi teringat kenangan manisnya bersama dengan Hendra waktu dulu, tiba-tiba saja Pelangi teringat dengan janjinya kepada Sari untuk menikah dengan Reza. Sontak Pelangi melepaskan tangan Hendra, berlari ke halaman depan rumah Reza yang memang lumayan luas sambil menangis. Hendra kaget dengan sikap Pelangi dan langsung mendekati Pelangi.


"Kamu kenapa Pelangi," ucap Hendra.


"Maaf kalau ada kata-kataku yang udah menyakiti hati kamu Pelangi," kata Hendra.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa Ndra, maaf aku jadi terbawa emosi tadi," kataku sambil menghapus air mataku.


"Maaf Ndra...mulai sekarang lebih baik kita ga usah terlalu dekat lagi, kamu gak usah lagi terlalu sering menghubungi aku," ucapku.


"Apa maksud kamu Pelangi ?" tanya Hendra.


"Menjauhlah dariku," ucapku.


"Ada apa Pelangi...jujur sama aku," ucap Hendra.


Pelangi hanya terdiam mendengar pertanyaan Hendra. Hendra tahu kalau ada sesuatu yang membuat Pelangi mengatakan hal tersebut.


"Katakan Pelangi...sebenarnya ada apa ? kenapa aku gak boleh menghubungi kamu lagi," tanya Hendra.


"Gak ada apa-apa Ndra...," ucapku.


Pelangi kemudian berlalu meninggalkan Hendra, dengan cepat Hendra menarik tangan Pelangi kedalam pelukannya. Hendra merasa tidak puas dengan jawaban yang diterimanya.


"Hendra, lepaskan tanganku," ucapku.


"Gak, sebelum kamu jawab pertanyaanku dulu," ujar Hendra.


"Oke, kali ini aku gak akan memaksa kamu untuk mengatakannya," ucap Hendra sambil melepaskan tangan Pelangi.


"Ya udah aku pamit pulang dulu....jaga kesehatan ya," ucap Hendra.


"Tapi aku akan datang lagi untuk meminta jawaban dari kamu, kenapa aku gak boleh mendekati kamu Pelangi," kata Hendra.


"Pelangi...sampai detik ini aku masih mencintai kamu," ujar Hendra sambil berlalu meninggalkan Pelangi yang masih berdiri mematung.


Hendra, sampai sekarang aku juga masih mencintaimu tapi aku sudah terikat janji kepada adikku untuk menikah dengan Reza, maafkan aku Hendra batin Pelangi. Setelah pamit pulang kepada ibu dan Reza, Hendra pun pulang. Malam harinya dirumah Reza dilakukan pengajian untuk mendoakan Sari. Setelah acara selesai semua masuk kamar untuk beristirahat, ibu dan Pelangi masih menginap beberapa hari dirumah Reza. Dikamar Gilang terdengar suara tangis Gilang yang keras, bik Inah sibuk mendiamkan Gilang tapi tidak berhasil. Gilang masih saja menangis. Reza mendengar tangisan Gilang kemudian mendatangi kamar putranya.


"Gilang kenapa bik ?" tanya Reza.


"Ini tuan...Gilang nangis terus gak mau diam dari tadi manggil-manggil mamanya...mungkin kangen sama mamanya," ujar bik Inah.


"Mamaaa...," tangis Gilang.

__ADS_1


"Sini sayang sama papa ya," ucap Reza.


"Bibik kalau mau istirahat..silakan istirahat aja, biar Gilang sama saya bik," kata Reza.


"Iya tuan, saya permisi tuan," ucap bik Inah.


Gilang masih saja menangis tidak berhenti dan terus saja memanggil mamanya. Reza kewalahan untuk mendiamkannya, tangis Gilang semakin kencang. Pelangi yang ingin kedapur untuk mengambil air minum mendengar tangisan Gilang diruang tamu. Ternyata Reza membawa Gilang ke ruang tamu untuk menenangkannya tapi tidak berhasil. Pelangi mendatangi Gilang yang tidak berhenti menangis.


"Reza...Gilang kenapa ? " tanyaku.


"Dari tadi aku dengar nangis terus, apa dia sakit," tanyaku sekali lagi.


"Gak tau ini...mungkin dia kangen sama mamanya dari tadi manggil mamanya terus," jawab Reza.


"Cup..cup..cup..Gilang kenapa nangis sayang...," ujarku.


"Sini bobo sama tante ya...anak pintar jangan nangis ya...," ucapku sambil mengambil Gilang yang sedang di gendong Reza.


Pelangi lalu menggendong Gilang dan menina bobokannya sambil menepuk-nepuk pantat Gilang dengan lembut. Gilang merasa nyaman berada dipelukan Pelangi dan perlahan-lahan berhenti menangis. Kasihan Gilang mungkin dia kangen dipeluk Sari batin Pelangi.


"Biar Gilang tidur sama aku aja malam ini," ucapku.


"Kamu kalau mau istirahat silakan aja," kataku.


"Biar aku temani kamu sampai Gilang tertidur," ujar Reza.


Pelangi merasa agak risih kalau harus ditemani Reza. Dengan terpaksa Pelangi membiarkan Reza untuk menemaninya malam ini. Sambil membaca-baca majalah Reza duduk menemani Pelangi, sesekali dia memperhatikan Pelangi. Pelangi kamu memang pantas untuk menjadi seorang ibu terutama ibu dari anakku, gak salah memang kalau Sari menyuruhku untuk menikah denganmu batin Reza.


"Syukurlah Gilang sudah tertidur, biar Gilang tidur dikamarku aja malam ini, takutnya nanti tengah malam dia terbangun dan menangis lagi," kataku menjelaskan.


"Makasih ya Pelangi....," ucap Reza sambil menatap Pelangi agak lama.


Pelangi merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Reza seperti itu kepadanya.


"Pelangi aku...," ucapan Reza terpotong oleh Pelangi.


"Maaf Za...udah malam, aku ke kamar dulu bawa Gilang ya...," ucapku.

__ADS_1


Pelangi lalu membawa Gilang tidur dikamarnya, Pelangi tidak tahu apa yang hendak dikatakan Reza tadi. Pelangi tidak mau membahas masalah pernikahan dengan Reza. Malam ini Pelangi ingin tidur dengan nyenyak dan bangun dengan segar.


__ADS_2