Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 41 Sup Asparagus


__ADS_3

Ibu Merry akhirnya bisa keluar dari rumah sakit setelah dua minggu dirawat dirumah sakit. Walaupun keadaannya belum sembuh total karena tangan kanannya belum terlalu bisa digerakkan. Dokter meminta ibu Merry untuk tidak terlalu stres dan menjaga emosinya agar stabil.


"Mama harus banyak istirahat dan ingat pesan dokter, jangan sering marah-marah," kata pak Anton.


"Iya pa...," sahut bu Merry.


Ibu Merry memang punya riwayat penyakit darah tinggi dan harus selalu memperhatikan pola makannya dan mnghindari stres. Sebelum jatuh sakit, ibu Merry memang terlalu banyak pikiran. Ibu Merry selalu memikirkan bagaimana caranya untuk memisahkan Hendra dan Pelangi, dan menjodohkannya dengan Sandra. Sampai sekarang pun Ibu Merry masih belum bisa menerima Pelangi, walaupun Pelangi sudah menolong ibu Merry sewaktu pingsan dibutik tempo hari. Pelangi masih tetap berusaha untuk menarik simpati dari ibu Merry, Pelangi yakin ibu Merry pasti akan berubah dan mau menerimanya. Hari ini Pelangi mau ke rumah Hendra untuk mengantarkan sup asparagus kesukaan ibu Merry. Sengaja Pelangi bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membuatkan sup asparagus dan membuatnya agak banyak buat yang lain juga karena hari ini hari minggu jadi semuanya pasti ada dirumah. Hendra menjemput Pelangi dirumahnya. Setelah berpamitan dengan ibu, mereka menuju rumah Hendra.


"Semoga mamamu mau makan sup buatanku ini," ucapku.


"Aku yakin mama pasti suka," ucap Hendra.


"Yaaah...semoga aja mamamu gak akan membuang makanan ini seperti tempo hari," kataku.


Pelangi masih ingat kejadian tempo hari dimana ibu Merry membuang makanan yang diberikan oleh Pelangi.


"Gak lah sayang...nanti kalau mama gak mau makan nanti biar aku dan papa yang habisin," kata Hendra.


"Ooh iya...aku belum ada cerita ya sama kamu tentang Sari," ucapku.


"Belum....memang Sari kenapa," tanya Hendra.


"Sewaktu mau menjenguk mama kamu dirumah sakit, aku ketemu sama Sari dan Reza," kataku.


Hendra hanya diam saja mendengarkan perkataan Pelangi.


"Sari lagi sakit....," ucapku pelan.


"Sari sakit apa ? " tanya Hendra.


Pelangi tidak menjawab pertanyaan Hendra, mata Pelangi mulai berkaca-kaca. Pelangi mencoba menahan air matanya, tapi dia tidak kuat air matanya pun mengalir membasahi pipinya. Melihat Pelangi menangis Hendra menjadi kebingungan. Hendra lalu menghentikan mobilnya dan memarkirkannya ditepi jalan dibawah pohon besar. Hendra lalu menggenggam tangan Pelangi untuk menenangkannya.


"Sayang...kalau kamu saat ini gak kuat untuk cerita lebih baik gak usah cerita dulu," kata Hendra.


"Sari sakit kanker otak," ucapku sambil menangis.


Hendra lalu memelukku dan membelai rambutku, aku pun menangis dipelukan Hendra.


"Waktu itu Sari baru selesai kemoterapi," ucapku.


"Kondisinya sekarang sangat memprihatinkan," kataku.


"Badannya semakin kurus kering, dengan wajahnya yang sangat pucat, rambutnya juga sudah mulai menipis," kataku menjelaskan.


"Doakan aja...semoga Sari cepat sembuh," kata Hendra.


"Aku merasa bersalah selama ini kepada Sari, setiap dia ingin ketemu aku, aku selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan," kataku.


"Kamu jangan merasa bersalah kaya gitu dong sayang...," ucap Hendra.


"Menurut aku wajar kalau kamu bersikap kaya gitu setelah apa yang telah mereka lakukan sama kamu," kata Hendra.


"Kalau aku diposisi kamu, aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama," kata Hendra lagi.


Perkataan Hendra itu membuat Pelangi agak tenang dan berhenti menangis. Siapapun pasti akan merasa sakit hati apabila dikhianati apalagi sama saudara kandung kita sendiri, itu menurut Hendra.


"Sudah sayang...kamu jangan menangis lagi, gak usah mikir kaya gitu lagi ya..," ucap Hendra.

__ADS_1


"Aku menyesal gak mendengarkan kata-kata ibu," ucapku.


"Ibu sudah berkali-kali menasehatiku untuk berbaikan dengan Sari, tapi aku gak pernah perduli," kataku.


"Ya udah....sekarang yang harus kamu lakukan adalah mendoakan dan memberi dukungan kepada Sari supaya dia cepat sembuh," kata Hendra.


"Sari juga meminta tolong sama aku," ucapku.


"Mau minta tolong apa ?" tanya Hendra.


"Kalau memang kamu bisa bantu ya bantu aja," kata Hendra.


"Buat aku permintaan Sari itu permintaan yang sangat berat dan gak mungkin aku mengabulkannya," sahutku.


"Sari meminta aku untuk menikah dengan suaminya Reza," ucapku.


"Apaaa....! " teriak Hendra kaget.


"Permintaan apa itu...gila...!" kata Hendra sedikit berteriak.


"Aku gak mengizinkan kamu menikah dengan siapapun apalagi sama Reza, mantan kamu," kata Hendra.


"Yaaaahh....aku juga gak mau lah menikah dengan Reza," ucapku.


"Apapun alasan Sari, aku tetap gak bisa mengabulkan permintaannya itu," kataku.


"Kok bisa Sari punya pikiran seperti itu," tanya Hendra.


"Sari merasa penyakitnya udah gak bisa disembuhkan lagi," jawabku.


"Dia gak mau Reza menikah dengan wanita yang nantinya tidak menyayangi Gilang," kataku.


"Sekarang kamu gak usah memikirkan permintaan Sari apalagi sampai mengabulkan permintaannya," kata Hendra.


Setelah pembicaraan itu selesai, dalam perjalanan menuju rumah Hendra, Pelangi dan Hendra lebih banyak berdiam dengan pikiran masing-masing. Akhirnya mereka pun sampai dirumah Hendra. Hendra tidak tahu kalau Sandra pun ada dirumahnya. Sandra dan ibu Merry dan pak Anton sedang asyik mengobrol diruang tamu. Hendra menggandeng tangan Pelangi membawanya masuk kedalam rumah.


"Siang semuanya...," sapa Hendra.


"Siang...," sahut Sandra.


"Hendra...Pelangi...ayo masuk," ucap pak Anton.


Ibu Merry hanya diam saja tidak menjawab sapaan Hendra. Ibu Merry memandang sinis kepada Pelangi.


"Pelangi bawain sup asparagus kesukaan tante Merry," ucapku.


"Saya hari ini lagi gak mau makan sup asparagus," ucap ibu Merry dengan ketus.


"Ini enak looh ma..Pelangi sendiri yang buat ini khusus buat mama," kata Hendra.


"Kalau gitu papa boleh coba ya..," ucap pak Anton.


"Boleh om... Pelangi masak banyak kok om, jadi semua bisa makan," sahutku.


"Biik Suum...," panggil pak Anton.


"Iya tuan...," sahut bik Sum sambil bergegas menghampiri pak Anton.

__ADS_1


"Ini ada sup asparagus dari Pelangi, tolong bibik siapkan sebentar lagi kita mau makan siang," kata pak Anton menjelaskan.


"Baik tuan," ucap bik Sum.


"Biar Pelangi bantu menyiapkannya ya bik," ucapku.


"Aku ikut...," ucap Hendra.


Tanpa persetujuan dari bik Sum, Pelangi lalu mengikuti bik Sum ke dapur disusul Hendra dibelakangku. Sandra melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dihadapannya hanya bisa diam dengan kesal. Huuuh..Hendra seperti lem saja selalu mengikuti kemana Pelangi pergi, awas kamu Pelangi tunggu pembalasanku batin Sandra.


"Makan siang sudah siap tuan," ucap bik Sum.


"Makasih ya bik...," sahut pak Anton.


"Ayo Sandra kita makan," ajak bu Merry.


"Iya tante," ucap Sandra.


Mereka semua menuju ruang makan dan menyantap makanan yang dihidangkan.


"Enak banget sup asparagusnya," ucap Hendra.


"Iya...baru kali ini papa merasakan sup seenak ini, gak kalah dengan yang dijual direstoran," kata pak Anton memuji masakan Pelangi.


"Aah....om bisa aja..biasa aja kok om supnya," kata Pelangi.


"Gak..ini supnya enak banget, om mau nambah lagi," kata pak Anton.


"Silakan om...biar Pelangi yang ambilin," ucapku.


"Mama...Sandra...kalian gak mau coba, enak banget looh, nyesal banget kalau gak coba," kata pak Anton.


"Gak om...," ucap Sandra.


Ibu Merry sebenarnya ingin mencoba sup asparagus kesukaannya itu tapi malu karena sudah terlanjur bilang kalau tidak ingin makan sup asparagus apa lagi itu buatan Pelangi.


"Mama yakin gak mau coba," kata pak Anton.


"Ya udah... kalau papa maksa mama terus, ya udah ambilin mama supnya," kata bu Merry.


Pak Anton mengambil sup asparagus dan memberikannya kepada istrinya. Ibu Merry mencoba sup buatan Pelangi itu. Memang enak sekali sup buatan Pelangi ini batin ibu Merry. Sandra yang melihat ibu Merry makan masakan Pelangi jadi kesal.


"Gimana ma...enak kan," ucap pak Anton.


"Biasa aja...," ucap bu Merry.


Ibu Merry tidak mau mengakui kalau sebenarnya masakan Pelangi itu memang enak.


"Ya udah..sini biar papa yang habisin," kata pak Anton.


"Jangan pa...," ucap bu Merry.


"Ma...kalau supnya enak bilang aja enak," kata Hendra sambil tertawa.


Pak Anton ikut tertawa juga, ibu Merry sudah tidak perduli lagi dengan ejekan dari suami dan anaknya. Ibu Merry hanya ingin menghabiskan sup asparagus kesukaannya. Pelangi hanya bisa tersenyum, semoga ibu Merry hatinya bisa terbuka menerimaku batin Pelangi.


######

__ADS_1


Pembaca setia..makasih atas dukungannya, jangan lupa like, comment dan votenya ya...biar author tambah semangat lagi nulisnya....makasih😍😍😍🙏🙏🙏


__ADS_2