
Hampir dua minggu Sari dirumah sakit akhirnya Sari diizinkan dokter pulang. Sari harus teratur minum obat dan tidak boleh banyak pikiran. Ibu hampir setiap hari menjenguk Sari dirumah sakit dan itu tanpa Pelangi. Ibu sudah memberitahu Pelangi kalau Sari sakit kanker otak dan Sari ingin sekali bertemu dengannya. Tapi hati Pelangi seakan seperti sudah mati, dia tidak juga ada keinginan untuk menjenguk Sari yang sedang sakit. Ibu sudah berkali-kali menyuruh Pelangi untuk bertemu dengan Sari, tapi Pelangi hanya bisa diam membisu. Hari minggu pagi yang cerah ini Hendra ingin mengajak Pelangi ke rumahnya karena Nina sudah kangen ingin ketemu. Nina tahu kalau Pelangi pintar membuat kue, bakat yang diwariskan ibu kepada Pelangi. Nina ingin Pelangi mengajarinya membuat kue.
"Ibu...Pelangi pamit dulu ya bu, Hendra sudah jemput," kataku.
"Ibu...kami pergi dulu ya bu," sahut Hendra.
"Kalian hati-hati ya," pesan ibu.
Setelah itu keduanya pun pergi, ada rasa was-was dihati Pelangi kalau harus menginjakkan kakinya lagi dirumah Hendra. Tante Merry tidak suka dengan Pelangi pasti nanti tante Merry akan menghinanya lagi. Tapi Pelangi sudah berjanji kepada Hendra untuk berusaha mengambil hatinya tante Merry, agar hubungan mereka bisa direstui. Akhirnya mereka sampai juga dirumah Hendra.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Hendra.
"Iya..," sahutku pelan.
"Hai kak Pelangi....," teriak Nina sambil menghampiri Pelangi.
"Hai, Nina...," ucapku.
"Kok sepi, papa mama kemana Na," tanya Hendra.
"Papa lagi ngantar mama ke mall, Nina tadi nitip bahan-bahan kue sama mama," jawab Nina.
"Mungkin sebentar lagi mereka datang," kata Nina.
"Ooh...sayang aku tinggal dulu ya, aku mau ganti baju," kata Hendra kepadaku.
"Jangan lama-lama ya," ucapku.
"Duuuuh....takut banget kehilangan kakakku," ledek Nina sambil tertawa.
"Apaan sih Ninaaaa," ucapku malu.
"Iya lah Na...kakakmu ini kan paling gagah sedunia, makanya takut kehilangan," kata Hendra.
"Iiihhh....ge-er betul," ucapku.
Hendra dan Nina tertawa melihatku, lalu Hendra bergegas kekamarnya. Nina mengajak aku ke dapur untuk mengajarinya membuat kue. Tidak berapa lama ibu Merry dan pak Anton datang. Pak Anton masuk kekamarnya untuk beristirahat, sedangkan ibu Merry langsung menuju dapur, untuk menyerahkan belanjaan ke bik Sum.
"Bik Suum....," panggil bu Merry sambil menuju dapur.
Ibu Merry terkejut melihat Pelangi ada didapur. Pelangi hanya diam dan tertunduk melihat tatapan tajam dari bu Merry.
"Iya Nyonya...," sahut bik Sum.
"Ini belanjaan tolong diberesin," kata bu Merry.
"Selamat pagi tante," sapaku sambil tersenyum.
__ADS_1
Ibu Merry tidak menyahut sapaanku. Ya ampun kenapa tante Merry segitu bencinya sama aku, jangankan untuk menyahut sapaanku melihat aku pun tidak mau batinku. Tuhan tolong aku, keluarkan aku dalam situasi seperti ini doaku dalam hati. Ingin rasanya aku berlari pulang tapi aku tidak bisa, aku harus berusaha bertahan dan mencoba menarik simpatinya tante Merry demi hubunganku dengan Hendra. Nina, Hendra tolong bantu aku batinku dalam hati.
"Jadi ini Na, teman kamu yang ngajarin kamu bikin kue," tanya bu Merry.
"Iya ma, kak Pelangi pintar ma bikin kue, kue buatannya juga enak banget," jawab Nina.
"Nina...daripada kamu belajar sama orang ini, lebih baik kamu kursus bikin kue ditempat yang terkenal," kata bu Merry.
"Namanya kak Pelangi ma," ucap Nina.
"Oh iya ma... pesanan Nina tadi buah chery sama coklat batang ada kan ma," kata Nina.
"Ada tuh...di tas belanjaan warna merah," kata bu Merry.
"Ya udah mama mau ke kamar, mama malas liat dia ada disini," kata bu Merry dengan nada kesal.
Ibu Merry lalu pergi menuju kamarnya. Aku hanya diam dan merasa tidak enak berada dirumah tante Merry.
"Ya udah kak... gak usah dipikirin kata-kata mama, kita lanjut aja bikin kuenya," kata Nina.
"Iya Na...," ucapku.
Tidak berapa lama Hendra keluar dari kamarnya dan ikut bergabung denganku dan Nina. Didapur juga ada bik Sum yang sedang memasak makan siang untuk keluarga pak Anton. Suasana didapur jadi bertambah ramai karena ada pak Anton yang ikut bergabung walaupun cuma sekedar jadi penonton. Setelah selesai memasak makan siang, bik Sum menyiapkannya diatas meja dibantu Pelangi dan Nina. Semua berkumpul diatas meja makan untuk menyantap makanan kecuali bu Merry. Ibu Merry sudah memberi pesan kepada suaminya kalau dia mau makan dikamar saja.
"Bik Sum..bawakan makan siang buat nyonya, hari ini nyonya mau makan dikamar," kata pak Anton.
"Biar saya aja yang bawakan makanan tante ya om," pintaku.
"Oh...ya sudah kalau gitu...tapi kamu makan aja dulu," kata pak Anton.
"Iya om," sahutku.
"Ayo sayang makan yang banyak," ucap Hendra.
"Iya kak gak usah malu-malu, sebentar lagi kan kita jadi keluarga," kata Nina sambil tertawa.
"Huuuuh...anak kecil ini sok tahu," kata Hendra.
"Laaah...memangnya kakak gak mau nikah dengan kak Pelangi," kata Nina.
"Ya maulah...mau banget, siapa bilang gak mau...dasar anak kecil," kata Hendra.
"Sudah...sudah...ayo kita makan, ayo Pelangi," kata pak Anton.
"Iya om...," sahutku pelan.
Setelah selesai makan, Pelangi mengantarkan makan siang yang sudah disiapkan bik Sum ke kamar bu Merry. Sebelum kekamar bu Merry, Hendra memberikan pesan kepada Pelangi.
__ADS_1
"Sayang, apa pun nanti kata-kata mama yang gak enak didengar, tolong jangan dimasukan dihati ya," kata Hendra.
"Iya sayang..," sahutku.
"Kakak mau Nina temani gak," kata Nina.
"Gak usah Na, biar kakak sendiri," ucapku.
"Ya udah aku ke kamar tante dulu ya," kataku.
Dengan langkah pasti Pelangi menuju kekamar bu Merry walaupun ada rasa ngeri kalau bu Merry pasti akan mengamuk melihat kehadiran Pelangi dikamarnya. Pelangi mengetuk pintu kamar bu Merry.
"Iya masuk...," ucap bu Merry.
"Kamuuu....," teriak bu Merry.
"Ngapain kamu kesini, saya gak suka ya melihat muka kamu," kata bu Merry marah.
"Saya mau ngantar makan siang tante, tante kan belum makan ntar tante sakit," kataku pelan.
"Saya gak mau ya makanan saya dibawa orang miskin kaya kamu, keluaaar dari kamar saya," teriak bu Merry.
"Bawa keluar makanan ini," kata bu Merry dengan marah.
Pelangi seakan tidak mendengarkan teriakan kemarahannya bu Merry, dia tetap membawa makanan itu dan meletakkannya diatas meja rias. Dengan sikap acuhnya itu bu Merry semakin marah kepada Pelangi. Praaanggg....bu Merry membanting nampan yang berisi makanan yang dibawa Pelangi, piring dan gelas pecah, makanan berserakan dilantai.
"Tante....," kataku dengan nada tinggi.
"Kenapa !" kamu gak terima...sekarang kamu beresin ini semua," bentak bu Merry.
"Gak..saya gak akan beresin ini, tante sudah keterlaluan, makanan ini gak salah tante," kataku dengan kesal.
"Oh jadi kamu melawan saya," teriak bu Merry.
"Saya memang orang miskin tante, tapi akhlak tante lebih miskin dari saya," kataku.
Praaak...satu tamparan keras mendarat diwajah Pelangi. Mendengar keributan dikamar bu Merry, Pak Anton, Hendra dan Nina bergegas kekamar. Pelangi memegang pipinya yang panas kena tamparan.
"Kurang ajar !" keluar kamu dari rumah saya," bentak bu Merry.
"Ada apa ini ribut-ribut," tanya pak Anton.
"Mama...," ucap Hendra dan Nina hampir bersamaan.
Tanpa satu patah kata pun dengan rasa kesal Pelangi langsung pergi begitu saja dari kamar bu Merry. Pelangi mengambil tasnya tanpa pamit dia langsung bergegas pergi meninggalkan rumah keluarga pak Anton. Hendra mengejar dan berteriak memanggilnya, tapi Pelangi tidak memperdulikannya. Pelangi menghentikan taksi yang lewat dan langsung masuk ke dalam taksi yang akan membawanya pergi.
######
__ADS_1
Buat pembaca yang masih setia nunggu lanjutan cerita ini....makasih ya...ditunggu like komen dan votenya ya...😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏