
Pagi ini keluarga Anton sudah duduk diruang makan untuk makan bersama. Ada pak Anton, bu Merry dan putra mereka Hendra.
"Biiik...tolong buah-buahannya dikupas semua dan dipotong-potong ya," kata bu Merry.
"Baik nyonya," kata bik Sum.
"Bagaimana perkembangan perusahaan kita sekarang, Ndra," tanya pak Anton.
"Pencapaian bulan ini lumayan pa, perusahaan kita ada peningkatan 85% keuntungan dari bulan lalu," jawab Hendra.
"Baguslah Kalau begitu, kamu memang bisa papa andalkan," kata pak Anton.
"Terus gimana hubunganmu dengan Pelangi," kata pak Anton lagi.
"Baik-baik aja pa," jawab Hendra.
"Mama gak suka dengan Pelangi, sebaiknya kamu cari wanita lain yang sebanding dengan kamu, Hendra," ucap bu Merry.
"Mama tau wanita seperti Pelangi itu cuma mau morotin kamu, wanita matre," kata bu Merry lagi.
"Ma, Pelangi gak seperti itu orangnya ma, Pelangi gak pernah morotin uang Hendra," kata Hendra.
"Kamu gak usah bela-bela dia didepan mama, mama gak suka," ucap bu Merry.
"Kalau kamu gak bisa mencari pasangan yang lebih baik, biar mama yang carikan," ucap bu Merry dengan nada tinggi.
"Hendra gak mau ma," ucap Hendra.
"Sudah..sudah...gak usah ribut, kita disini mau makan bukan mau ribut," bentak pak Anton.
"Papa pusing dengar kalian ribut masalah Pelangi," kata pak Anton.
"Ma, Hendra sudah dewasa biar dia yang menentukan pasangan hidupnya kita cuma bisa mendoakan dan merestuinya," kata pak Anton.
"Gak bisa juga kaya gitu pa, kalau pilihan Hendra wanita yang benar mama gak masalah," kata bu Merry.
"Wanita pilihan Hendra itu gak benar, makanya mama kasih tau Hendra cari yang lebih baik," ucap bu Merry.
"Kalau menurut mama wanita yang gak benar itu cuma diukur dari status sosialnya, mama salah besar," ucap Hendra.
"Jaman sekarang malah banyak wanita yang berpendidikan, orang tuanya tajir tapi tetap aja matre ma," ucap Hendra lagi.
"Ya udah pa, ma...Hendra pamit mau langsung berangkat kerja aja," kata Hendra.
__ADS_1
"Anak ini dikasih tau malah pergi, pokoknya mama gak setuju kamu dengan Pelangi," teriak bu Merry.
Hendra sebenarnya malas berlama-lama dimeja makan kalau mama masih membahas hubungannya dengan Pelangi. Dia lebih baik langsung berangkat kerja padahal masih terlalu pagi untuk ke kantor.
"Pa, mama akan menjodohkan Hendra dengan anaknya teman mama, anaknya teman mama itu dokter pa, cantik lagi, gimana menurut papa," kata bu Merry.
"Ma...papa sudah bilang kan kalau Hendra itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi, biarkan dia memilih sendiri pendamping hidupnya, kita sebagai orang tua cuma bisa mendoakan aja ma," kata pak Anton.
"Papa liat Pelangi juga orangnya baik, sopan, ramah dan sederhana gak macam-macam," kata pak Anton.
"Tapi Pelangi itu dari keluarga miskin pa, ibunya aja penjual kue, biasanya orang miskin mendekati orang kaya karena ada maunya," kata bu Merry.
"Mama yakin Pelangi mendekati Hendra itu karena uang aja, sekarang banyak orang yang pengen cepat kaya tapi malas bekerja," ucap bu Merry.
"Sudahlah....terserah mama, papa capek berdebat dengan mama," kata pak Anton.
Setelah berpamitan dengan istrinya, pak Anton lalu berangkat kerja. Ibu Merry menyuruh pembantunya untuk membereskan meja makan dan setelah itu dia berangkat menuju ke tempat butik dan salonnya.
#####
Hendra tidak tahu lagi bagaimana caranya supaya mamanya menyukai Pelangi. Dia ingin sekali melamar Pelangi untuk menjadi istrinya, tapi mama pasti tidak merestuinya. Malam ini bu Merry akan mengadakan acara makan malam keluarga, bu Merry sengaja mengundang temannya yang putrinya akan dikenalkan dengan Hendra. Hendra tidak mau ribut lagi dengan mamanya, terpaksa dia mengikuti saja kemauan mamanya. Apa salahnya cuma berkenalan saja, bukan untuk langsung menikah pikir Hendra. Bu Merry turun langsung kedapur membantu bik Sum untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk tamunya. Bu Merry tidak ingin mengecewakan tamunya nanti. Akhirnya semua sudah disiapkan sesuai dengan keinginan bu Merry dan tinggal menunggu kedatangan tamunya.
"Biiik...coba liat Hendra dikamarnya, suruh cepatan turun, sebentar lagi tamunya mau datang ini," teriak bu Merry.
"Iya nyah," kata bik Sum.
"Ya sabar lah ma, tamunya aja belum datang juga kan," ucap pak Anton.
"Iya tapi kan gak enak pa, kalau tamunya datang Hendra baru turun," kata bu Merry.
Bik Sum lalu buru-buru ke lantai dua menuju kamar Hendra dan mengetuk pintu kamar Hendra.
"Tuan muda...disuruh nyonya cepat turun kebawah, tamunya mau datang," ucap bik Sum.
"Iya bik....sebentar saya turun," sahut Hendra dari dalam kamar.
Hendra membuka pintu, bik Sum masih berdiri manis didepan pintu kamar menunggu tuannya.
"Tuan muda, disuruh nyonya cepat turun kebawah," kata bik Sum.
"Temannya mama sudah datang ya bik," tanya Hendra.
"Belum tuan, mungkin sebentar lagi," kata bik Sum.
__ADS_1
"Tuan muda kok belum siap-siap," kata bik Sum lagi.
"Siap-siap mau kemana bik," sahut Hendra sambil tertawa.
Hendra sudah menganggap bik Sum sudah seperti keluarganya sendiri. Dari Hendra kecil bik sum yang merawat dan mengurus Hendra dan juga adiknya Hendra yaitu Nina.
"Loh kok tuan muda masih pake baju kaos sih, nanti nyonya marah," ucap bik Sum.
"Bik..bik..ini juga sudah bagus saya pakai baju, daripada saya telanjang," kata Hendra tertawa.
"Ya udah bik Sum turun duluan, sebentar lagi saya turun," kata Hendra lagi.
Bu Merry masih menunggu temannya dengan gelisah. Tidak berapa lama akhirnya teman bu Merry datang juga yaitu bu Irma dan suaminya dr.Joko, beserta putrinya dr.Sandra
"Selamat malam Mer, maaf ya agak telat," kata bu Irma.
"Iya gak apa-apa santai aja," kata bu Merry.
"Ini ya anak gadismu Ma," tanya bu Merry.
"Iya mer...," jawab bu Irma.
"Kenalkan om, tante saya Sandra," kata Sandra memperkenalkan diri kepada pak Anton dan bu Merry.
"Cantik banget anakmu Ma," puji bu Merry.
"Ayo kita ngobrolnya diruang makan aja," ucap bu Merry.
Mereka pun menuju ruang makan dan duduk menghadapi hidangan yang telah tersedia. Hendra turun dari lantai dua dengan hanya menggunakn t-shirt hitam dan celana jeans hitam, dia langsung menuju ruang makan.
"Selamat malam semuanya... selamat malam om, tante," ucap Hendra.
"Selamat malam," kata pak Joko dan bu Irma.
Ibu Merry hanya geleng-geleng kepala saja melihat penampilan Hendra seperti itu. Sebenarnya dia sangat marah dan malu melihat Hendra dengan pakaian seperti itu dihadapan bu Irma, dr.Joko dan dr.Sandra.
"Ini anak saya Hendra, dia pimpinan perusahaan xxx, maaf ya penampilannya seperti ini," kata bu Merry.
"Anak ini memang susah dikash tau kalau soal penampilan, kemauan dia sendiri," ucap bu Merry.
"Biasa laki-laki memang begitu bu," kata pak Joko sambil tertawa.
"Kalau Sandra praktek dimana," tanya pak Anton.
__ADS_1
"Saya masih di rumah sakit xxx, sama-sama papa, om," jawab Sandra.
Sandra putri bapak dr.Joko ini sangat cantik dan anggun, dan dia juga adalah seorang dokter. Ibu Merry sangat ingin menjodohkan Hendra dengan Sandra, tapi sedikitpun Hendra tidak tertarik kepada Sandra. Pintu hati Hendra sudah tertutup untuk wanita lain dan hanya Pelangi lah satu-satunya wanita yang dicintainya, dan hanya Pelangilah yang ingin dijadikannya istri. Hendra senang akhirnya acara makan malam pun berakhir, dia ingin segera kekamarnya dan langsung tidur. Hendra tahu setelah ini mamanya akan memarahinya karena penampilannya malam ini tidak sesuai dengan harapannya, dan juga mamanya akan membicarakan tentang Sandra.