Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 23 Bertemu Dengan Orang Tua Hendra


__ADS_3

Akhirnya aku dan Hendra menjadi pasangan kekasih. Aku tidak tahu dengan perasaanku yang sebenarnya terhadap Hendra. Aku memang sayang sama Hendra tapi masih belum sepenuhnya cinta. Aku menerima Hendra menjadi kekasihku supaya aku bisa melupakan kenangan masa laluku, mungkin dengan kehadiran Hendra aku bisa mencintai seseorang lagi.


"Halo sayang...nanti malam aku ingin mengenalkan kamu dengan orang tuaku, kamu mau kan," tanya Hendra ditelpon.


"Iya dra, tapi aku takut kedua orang tuamu tidak mau menerima aku lain kali aja ya gimana," kataku.


"Sama aja sayang... mau hari ini, besok atau lusa kan nantinya akan ketemu juga dengan kedua orang tuaku," ucap Hendra.


"Gak usah takut sayang, orang tuaku gak makan orang kok, makannya nasi sama teman-temannya nasi," ucap Hendra.


"Kamu aahh...sukanya bercanda terus, aku sudah serius kamunya malah bercanda terus," ucapku.


"Habis kamu tegang amat sih...kaya mau ketemu presiden aja, kamu tenang aja gak bakalan terjadi apa-apa kok," kata Hendra.


"Walaupun nanti orang tuaku gak setuju dengan hubungan kita, aku akan berusaha meyakinkan kedua orang tuaku," kata Hendra lagi.


"Ya udah kalau gitu, aku ngikut aja," kataku.


"Ikut kemana sayang," sahut Hendra.


"Tuh kan....kamu bercanda lagi," ucapku.


" Heheh...iya ya...jangan marah ya," kata Hendra sambil tertawa.


"Oke nanti malam aku jemput kamu ya," ucap Hendra.


"Iya..aku tunggu ntar malam," jawabku.


Setelah mengucapkan salam Hendra lalu menutup telponnya. Aku masih duduk terdiam diatas tempat tidurku. Aku masih belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Hendra. Kupandangi wajahku didepan cermin. Wajahku biasa-biasa aja, kalau dibilang cantik tidak juga sih, dibilang jelek juga tidak terlalu jelek dengan rambut panjang yang lurus dan kulit kuning langsat. Apa pantas aku mendampingi Hendra yang tampan, pengusaha dan anak orang kaya. Aku jadi minder, aku hanyalah seorang kasir ditoko roti dan ibuku hanyalah seorang tukang kue. Aku jadi tambah pusing memikirkannya, mau dibatalkan tapi sudah janji dengan Hendra. Terpaksa aku harus menjalaninya, malam yang menurut aku bakal menjadi malam yang sangat panjang.


#####


Malam hari jam tujuh aku sudah selesai dandan. Aku memakai dress panjang warna hitam dan rambutku kubentuk cepol biar terlihat agak sedikit anggun. Setelah beberapa lama aku menunggu akhirnya Hendra datang juga dan kami berpamitan kepada ibu untuk pergi kerumah Hendra menemui orang tuanya.


"Kamu sangat cantik malam ini sayang," ucap Hendra.


"Makasih," jawabku singkat.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang, apa ada yang kamu pikirkan," kata Hendra.


"Jujur aku masih takut ketemu sama orang tuamu, aku takut orang tuamu gak suka sama aku," ucapku.


"Tenang....dibawa santai aja, gak usah takut kan ada aku," kata Hendra.


Walaupun Hendra sudah menenangkan aku tapi tetap saja aku belum tenang. Orang tua Hendra pengusaha sukses papanya, pak Anton memiliki beberapa perusahaan dibeberapa daerah sedangkan mamanya, bu Merry memilik salon dan butik yang cukup terkenal dikota ini. Hendra memiliki seorang adik perempuan, Nina yang masih kuliah bisnis di luar negeri. Hendra pun lulusan bisnis luar negeri. Aku tidak selevel dengan keluarga Hendra. Dulu waktu ayah masih hidup mungkin kami selevel juga karena ayah juga seorang pengusaha sukses, tapi semenjak ayah meninggal kehidupan kami sangat sederhana sekali. Benar memang roda selalu berputar, hari ini kita diatas besok mungkin kita sudah berada dibawah. Akhirnya kami sudah sampai dirumah kediaman bapak Anton, papanya Reza rumah yang megah bak istana dalam dongeng.


"Ayo kita masuk, papa dan mama sudah menunggu diruang tamu," kata Hendra.


"Iya....," kataku pelan.


"Selamat malam pa, ma," kata Hendra.


"Selamat malam om, tante," kataku.


"Selamat malam," kata papa dan mama Hendra.


"Oh ini ya ndra, yang namanya Pelangi," kata om Anton dengan ramah.


"Boleh juga pilihanmu ndra, cantik," puji om Anton.


"Kalau menurut mama sih standar, biasa aja," ucap tante Merry.


Aku hanya bisa terdiam mendengar penilaian tante Merry. Aku tahu dia tidak menyukaiku dari caranya melihat aku dan juga menjawab pertanyaan Hendra.


"Ayo kita ngobrolnya diruang makan aja, papa sudah lapar juga ini," kata om Anton.


"Ayo Pelangi...," kata Hendra.


"Iya...," kataku pendek.


Kami semua menuju ke ruang makan, kulihat menu di meja makan sangat banyak dan berbagai macam lauk dan sayuran tersedia disana juga ada berbagai macam buah-buahan.


"Ayo dimakan Pelangi habiskan semuanya," kata om Anton tertawa.


"Iya om....makasih," ucapku.

__ADS_1


"Gak usah pake malu-malu dimakan aja semua," kata Hendra ikut tertawa.


"Pelangi, kegiatanmu apa sehari-hari," kata tante Merry tiba-tiba.


"Saya kerja tante," ucapku.


"Oh kerja...wanita karir juga ya ternyata, kerja diperusahaan apa? terus jabatanmu apa?" tanya tante Merry.


Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaan dari tante Merry, mulutku seakan-akan terkunci tidak sanggup menjawab semua pertanyaan dari tante Merry. Aku memandangi Hendra berharap dia mau membantu aku menjawab semua pertanyaan dari mamanya.


"Pelangi kerja ditoko roti sebagai kasir ma," kata Hendra.


"Apa...cuma kasir ditoko roti, mama pikir Pelangi itu seorang manager atau setidaknya sekretaris ternyata pegawai toko roti...," kata tante Merry.


"Itu juga kan pekerjaan halal ma," ucap om Anton sambil terus menyantap makanannya.


"Iya pa, tapi apa nanti kata teman-temannya mama kalau sampai tahu, kalau anak mama Hendra punya pacar seperti Pelangi, mama jadi malu pa," kata tante Merry.


"Perduli apa sama teman-teman mama," kata om Anton.


"Sudah....sudah cukup mama, Hendra minta tolong hargai pilihan Hendra," kata Hendra.


"Tapi pilihanmu itu salah Hendra, mama gak suka," ucap tante Merry.


"Ayo lanjut lagi makannya Pelangi," kata om Anton.


"Iya om, makasih," ucapku.


Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi ada dimeja makan ini, ingin rasanya aku berlari pulang tapi itu tidak mungkin aku harus hadapi ini semua. Mendadak perutku menjadi kenyang padahal aku cuma makan tiga sendok.


"Orang tuamu kerja dimana Pelangi," tanya tante Merry lagi.


"Ayah saya sudah meninggal dan ibu saya sehari-hari jualan kue," jawabku.


"Ooh...ibu kamu cuma jualan kue," ucap tante Merry.


"Iya tante," kataku pelan.

__ADS_1


"Sudah ah..mama sudah kenyang, selera makan mama tiba-tiba hilang, kepala mama pusing, mama mau istirahat dulu dikamar," kata tante Merry.


Kami bertiga melanjutkan makan malam kami tanpa suara lagi. Sesekali Hendra mengobrol dengan papanya membahas tentang perusahaan mereka yang aku sendiri tidak mengerti dan aku hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah acara makan malam selesai. Aku berpamitan pulang kepada om Anton diantar Hendra.


__ADS_2