Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 58 Bimbang


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan semenjak kematian Sari, Reza masih belum bisa menghilangkan kesedihannya. Sudah hampir tiga bulan juga ibu dan Pelangi untuk sementara tinggal dengan Reza untuk mengurus Gilang, karena sejak ditinggal Sari, Gilang semakin rewel saja. Pelangi sebenarnya ingin kembali kerumahnya, tetapi dia kasihan dengan Gilang, Gilang pasti akan menangis kalau ditinggal Pelangi. Semenjak tinggal dirumah Reza, Pelangi dan Gilang sudah semakin dekat. Pelangi sudah menyayangi Gilang seperti anak kandungnya sendiri dan itu juga yang membuat Pelangi menjadi bimbang apakah harus tinggal selamanya dengan Reza atau kembali kerumahnya. Di Minggu sore disaat Pelangi dan Gilang sedang bermain diruang tamu, Reza mencoba membicarakan perjanjian Pelangi dengan Sari, yaitu menikah dengannya.


"Pelangi...ibu kemana, dari tadi aku gak melihat ibu," tanya Reza.


"Ooh...ibu dan bik Inah lagi pergi belanja bulanan ke supermarket," jawabku sambil terus bermain mobil-mobilan dengan Gilang.


"Oh gitu...," ucap Reza pelan.


"Pelangi...," panggil Reza kemudian.


"Iya...," sahutku sambil terus bermain bersama Gilang.


"Tentang janji kita dengan Sari," ucap Reza.


Tiba-tiba saja jantung Pelangi berdegup kencang ketika Reza tiba-tiba saja membicarakan tentang janji mereka kepada Sari, yaitu mereka bersedia untuk menikah.


"Saat ini aku belum mau untuk membicarakan tentang itu," ucapku.


"Tapi...apa kamu mau memenuhi permintaan Sari," tanya Reza.


"Udahlah Za, aku gak mau membahas itu dulu," jawabku ketus.


"Maaf Pelangi kalau pertanyaannya itu membuat kamu gak nyaman," kata Reza.


"Oke...untuk sementara kita gak usah bahas itu dulu ya...," kata Reza lagi.


Pelangi tidak menjawab semua perkataan Reza, dia hanya diam saja dan berharap Reza tidak membahas lagi tentang pernikahan mereka. Pelangi menjadi bimbang, disatu sisi Pelangi tidak mencintai Reza lagi tapi harus menikah dengan Reza demi memenuhi janjinya kepada mendiang Sari, disisi lain Pelangi mencintai Hendra tapi sampai saat ini hubungannya dengan Hendra hanya sebatas teman saja walaupun saat ini mereka masih berkomunikasi. Malam ini di dalam kamar, Pelangi tidak bisa tidur, Pelangi terus gelisah memikirkan masalah itu. Pelangi lalu mengetuk pintu kamar ibu berharap ibu bisa memberikan solusi yang terbaik untuk dirinya atau kalau pun tidak menemukan solusinya, setidaknya Pelangi bisa sedikit lega karena ada teman untuk bercerita yaitu ibunya.


"Bu...," panggilku sambil mengetuk pintu kamar ibu.


"Iya nak...masuk aja," teriak ibu dari dalam kamar.


Pelangi masuk kedalam kamar setelah ibu menyuruhnya masuk. Ternyata ibu baru selesai sholat, terlihat ibu sedang melipat mukena dan sajadahnya.


"Ibu belum tidur," tanyaku.


"Belum nak...ibu baru selesai sholat...," ucap ibu dengan lemah lembut.


Ibu tahu kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Pelangi, karena sudah menjadi kebiasaan Pelangi kalau dia ada masalah yang dihadapinya Pelangi pasti akan mendatangi kamar ibunya untuk sekedar bercerita.

__ADS_1


"Bu....," ucapku pelan.


"Iya nak, ada apa ?" tanya ibu.


"Bu...Pelangi kangen dengan rumah kita, lama sudah kita tinggalin," ucapku.


"Sudah hampir 3 bulan kita tidak pulang bu," ucapku lagi.


"Bu... Pelangi pengen pulang ke rumah," kataku.


"Iya nak ibu juga kangen pengen pulang ke rumah kita," sahut ibu.


"Minggu depan kita pulang ya bu...," ajakku.


"Ibu sih mau aja pulang kapan pun juga, tapi ibu kasian sama Reza apalagi sama Gilang," jawab ibu.


"Terus ibu mau selamanya tinggal disini," ucapku.


"Ya gak lah, ibu kan masih punya rumah sendiri," sahut ibu.


"Ibu masih berat meninggalkan Gilang," ucap ibu lagi.


"Jadi ibu gak kepikiran lagi sama Gilang," kataku lagi.


"Terus gimana dengan Reza, apa dia mau kalau Gilang tinggal dengan kita," ucap ibu khawatir.


"Biar nanti kita bicarakan dengan Reza bu...," ucapku.


"Kasihan Gilang dia masih kecil masih butuh perhatian dan kasih sayang...Reza pasti akan sibuk dengan kerjaannya," kata ibu.


"Yaaaah semoga aja Reza mengizinkan ya bu...," ucapku.


"Amiin...," doa ibu.


"Bu...," ucapku pelan.


"Ada apa Pelangi...apa ada lagi yang masih mengganjal dihati kamu," tanya ibu melihat raut wajah Pelangi yang serius.


"Tadi sore Reza menanyakan tentang janji Pelangi kepada Sari bu...," kataku.

__ADS_1


"Reza menanyakan tentang pernikahan itu," kataku lagi.


"Terus jawaban kamu apa nak," selidik ibu.


"Pelangi belum bisa menjawabnya bu...Pelangi masih gak mau membahas itu," ucapku.


"Tapi Pelangi... cepat atau lambat kamu harus memutuskan apa kamu bersedia atau gak untuk menikah dengan Reza," ujar ibu.


"Semua itu tergantung dari kamu nak, maka pikirkanlah masak-masak jangan sampai kamu menyesal nantinya atas pilihanmu," nasehat ibu.


"Apapun nanti keputusan yang kamu ambil, ibu selalu berdoa dan mendukung kamu nak," ucap ibu.


"Kalau kamu bahagia, ibu pun akan ikut bahagia nak...pikirkanlah masak-masak," ucap ibu lagi.


"Tapi bu, Pelangi udah berjanji dengan Sari kalau harus menikah dengan Reza," ucapku.


"Sari udah gak ada nak...untuk apa kamu memenuhi janji untuk membahagiakan orang yang udah meninggal, sedangkan kamu sendiri gak bahagia menjalani hidupmu...pasti Sari disana juga bakal sedih melihatnya," ibu menjelaskan dengan panjang lebar.


"Iya bu...," ucapku.


Pelangi merasa sedikit lega dengan apa yang dikatakan ibu. Perkataan ibu memang ada benarnya, kita tidak harus memenuhi janji kita kepada orang yang sudah meninggal untuk bisa membahagiakannya sedangkan kita sendiri tidak bahagia.


"Ya udah kalau gitu...makasih ya bu, udah mau dengarin curhat Pelangi," kataku sambil memeluk ibu.


"Sekarang kamu tidur yang nyenyak, gak usah memikirkan yang macam-macam dulu ya," ucap ibu.


"Iya bu...ibu juga istirahat ya, jangan capek-capek," ujarku.


Setelah mengucapkan selamat malam kepada ibu, Pelangi pun meninggalkan kamar ibu menuju kamar tidurnya untuk beristirahat. Mendengar nasehat-nasehat dari ibu, pikiran Pelangi sedikit terbuka untuk mengambil keputusan apa yang harus diambilnya kelak. Sebelum masuk kekamarnya terlebih dahulu Pelangi ingin melihat keadaan Gilang. Begitulah rutinitas Pelangi sebelum tidur, memastikan keadaan Gilang betul-betul sudah tertidur nyenyak. Pelangi sangat menyayangi Gilang sudah seperti anak kandungnya sendiri. Malam itu dilihatnya Gilang sudah tertidur dengan pulas. Dipandanginya wajah polos Gilang dan mengelus-elus pipi montok bocah kecil itu.


"Gilang....kasihan banget kamu nak...," ucapku sambil terus mengelus-elus pipinya.


"Papa kamu sekarang sibuk dengan pekerjaannya...pasti kamu kesepian ya...," ucapku lagi.


"Tapi..kamu gak usah takut sayang, ada tante Pelangi, ada nenek yang menemani kamu," kataku.


"Kamu nanti kalau sudah besar jadi anak yang baik ya...nurut sama papa, gak boleh nakal," kataku lagi.


Tidak bosan-bosannya Pelangi memandangi wajah bocah kecil yang menggemaskan itu, begitu tampan dan sangat lucu. Setelah puas memandangi wajah Gilang, akhirnya Pelangi lanjut masuk kekamarnya dan tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2