Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 61 Keraguan Pelangi


__ADS_3

Seminggu sudah Pelangi tidak melihat Gilang, rasa rindunya terhadap bocah itu sangat besar. Ingin rasanya Pelangi kerumah Reza untuk menemui Gilang tapi Pelangi mengurungkan niatnya itu karena Pelangi takut Reza akan melarangnya bertemu dengan Gilang. Sementara pagi itu dikediaman Hendra. Hendra dan kedua orang tuanya sedang sarapan, Hendra berniat ingin memberitahukan niatnya untuk menikahi Pelangi secepatnya.


"Ma...pa...dalam waktu dekat ini Hendra mau menikah," ujar Hendra.


"Menikah ?" tanya pak Anton.


"Apa kamu sudah yakin ?" kata pak Anton lagi.


"Sudah sangat yakin pa....," jawab Hendra.


"Kamu mau nikah dengan siapa ?" tanya bu Merry dengan ketus.


"Dengan Pelangi ma....," ucap Hendra pelan.


Hendra terdiam sesaat menunggu reaksi dari mamanya. Hendra tahu kalau mamanya tidak suka mendengar nama Pelangi.


"Mama gak akan merestui pernikahanmu dengan wanita itu," ucap bu Merry dengan nada keras sambil terus menyantap makanannya.


"Dengan restu atau tanpa restu mama, Hendra tetap akan menikahi Pelangi ma," ucap Hendra.


"Mama gak akan datang dipernikahan kamu nanti," ucap bu Merry dengan nada keras.


"Dan ingat Hendra....sampai kapan pun mama gak akan pernah menganggap Pelangi itu menantu mama," ucap bu Merry lagi.


Bu Merry lalu berdiri dan meninggalkan ruang makan menuju kamarnya. Hendra hanya bisa terdiam dan melanjutkan sarapannya.


"Hendra...," ucap pak Anton.


"Kalau memang kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu, papa merestui kamu menikah dengan Pelangi," kata pak Anton.


"Hendra sudah sangat yakin pa, dan juga sudah saatnya Hendra menikah pa...," sahut Hendra.


"Terima kasih pa, sudah merestui Hendra," ucap Hendra.


"Tapi gimana dengan mama pa...," ucap Hendra lagi.


"Nanti papa yang bicara dengan mamamu," ucap pak Anton.


"Iya pa...," ucap Hendra dengan lega.


Setelah menyelesaikan sarapannya Hendra dan pak Anton bersiap-siap untuk berangkat kerja.


#####


Ditempat kerja Pelangi


"Pelangi, dari tadi aku liat kamu kok gak fokus kerja, ada beberapa komplain dari customer," kata Sinta.


"Kamu sakit ya..," tanya Sinta lagi.


"Ya udah kalau kamu sakit, ijin pulang aja, biar aku handle pekerjaanmu," ucap Sinta.

__ADS_1


"Gak Sin...aku baik-baik aja," ucapku.


"Aku lagi banyak pikiran aja," ucapku lagi.


"Ada masalah apa Pelangi ?" tanya Sinta.


Sebenarnya Pelangi enggan bercerita tentang masalahnya kepada sahabatnya itu. Tapi Pelangi tahu kalau Sinta akan terus mendesaknya untuk cerita.


"Kamu gak menganggap aku sahabat kamu lagi ya Pelangi...," ucap Sinta dengan sedih.


"Bukan gitu Sin...ya udah nanti pulang kerja kamu ada waktu gak, aku mau curhat sama kamu," tanyaku.


"Untukmu selalu ada waktu kok," jawab Sinta dengan tersenyum.


"Apa suamimu gak marah kalau kamu pulang kerja keluyuran," tanyaku.


"Ya gak lah...lagian aku kan keluyurannya sama kamu, pasti Dani ngerti," jawab Sinta.


"Ya udah kalau gitu, pulang kerja kita ke cafe sunrise ya...nanti aku ceritakan," ucapku.


"Oke....," ucap Sinta.


Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, akhirnya Pelangi dan Sinta pergi menuju sebuah cafe yang sudah mereka rencanakan. Sesampai disana, Pelangi dan Sinta memesan minuman dan beberapa makanan ringan dan makanan berat.


"Pelangi...ayo dong cerita," kata Sinta penasaran sambil mengunyah kentang goreng.


"Hendra...mau melamar aku secepatnya," kataku pelan


"Aduh...aku senang banget dengarnya, akhirnya sahabatku yang cantik ini menikah juga," kata Sinta dengan senang.


"Itu kabar bahagia, terus masalahnya apa dong," tanya Sinta lagi.


"Memang berita bahagia sih, tapi masalahnya mamanya Hendra," ucapku.


"Aku yakin banget pasti tante Merry gak akan pernah setuju kalau aku menikah dengan anaknya," jelasku.


"Aku pernah cerita kan sama kamu gimana sikap tante Merry sama aku, kan kamu liat sendiri waktu kita ketemu tempo hari," ucapku lagi.


"Iya sih...mamanya Hendra itu benci banget sama kamu, tapi kamu juga berhak untuk bahagia Pelangi," kata Sinta.


"Kalau aku diposisi kamu, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku walaupun semua orang menentang termasuk orang tua," ucap Sinta dengan tegas.


"Itu namanya kamu egois, Sin...," ucapku.


"Gak memikirkan perasaan orang tua," ucapku lagi.


"Seharusnya orang tua ikut bahagia juga dong kalau anaknya bahagia, iya kan....," kata Sinta.


"Aku cuma mau kasih saran sama kamu Pelangi karena kamu itu sahabat aku tapi....kalau kamu gak suka ya sudah gak usah dilakukan, ikutin aja kata hatimu," kata Sinta menjelaskan.


"Aku sarankan kamu menikah aja secepatnya dengan Hendra, ntar kalau kamu sudah hamil dan punya anak pasti mamanya Hendra luluh juga melihat cucunya," jelas Sinta.

__ADS_1


"Aaah kamu Sin...kebanyakan nonton sinetron, itu kaya sinetron aja," kataku sambil tertawa.


"Hahahaaa....," Sinta pun ikut tertawa.


"Ada benernya juga sih omonganmu Sin...," ucapku.


"Seharusnya sebagai orang tua ikut bahagia juga kalau anaknya bahagia bukan malah menghalangi kebahagiaannya," jelas Sinta.


"Iya bu ustazah.....," ucapku sambil tertawa.


Sinta pun ikut tertawa mendengar ucapanku. Omongan Sinta memang benar, aku juga berhak untuk bahagia hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku, walaupun mamanya Hendra pasti akan habis-habisan menentang pernikahanku dengan Hendra. Selama Hendra yakin dengan keputusannya untuk menikah denganku, aku pun yakin dengan keputusan yang ku ambil.


"Heeh...Pelangi...kok kamu melamun sih," teriak Sinta mengejutkanku.


"Jadi sekarang apa keputusanmu ?" tanya Sinta.


"Apa kamu masih menunggu restu dari mamanya Hendra yang entah kamu sendiri gak tau sampai kapan," kata Sinta.


"Atau kamu memilih untuk menikah tanpa restu dari mamanya Hendra," tanya Sinta lagi.


"Entahlah Sin...aku bingung," jawabku.


"Tanyakan hati kecilmu, jangan sampai kamu menyesal nantinya," ucap Sinta.


"Sebagai sahabatmu aku cuma ingin melihat kamu bahagia Pelangi, terserah keputusan semua ada ditanganmu," tegas Sinta.


"Makasih ya Sin....kamu selalu ada disaat aku membutuhkan," ucapku.


"Makasih juga atas sarannya, moga aja kamu gak pernah bosan ngasih saran ke aku ya...," ucapku tersenyum kepada Sinta.


"Itulah gunanya sahabat Pelangi saling mengingatkan," ucap Sinta membalas senyumanku.


"Dan aku juga gak pernah bosan untuk ngasih saran ke kamu... mungkin kamu yang bosan mendengar ocehanku," ucap Sinta sambil tertawa.


Pelangi dan Sinta pun tertawa, mereka lalu menghabiskan makanan mereka yang sempat tertunda karena asyik mengobrol. Mendengar semua perkataan Sinta, Pelangi pun sudah yakin dengan keputusan yang akan diambilnya nanti. Pelangi dan Sinta makan dengan lahapnya sampai tidak ada satupun makanan yang tersisa di piring mereka.


"Kamu sudah selesai Sin?" tanyaku.


"Sudah Pelangi....ayo kita pulang, aku bayar dulu ya," ucap Sinta.


"Tunggu Sin....biar aku yang bayar, kan aku yang ngajak kamu...," ucapku.


"Gak bisa gitu Pelangi, kita bayar sendiri-sendiri aja ya," rengek Sinta.


"Gak Sin...kali ini aku yang traktir kamu ya, karena aku hari ini lagi bahagia jadi kamu harus ikut juga berbahagia," kataku.


"Sudah, gak usah protes lagi....tunggu ya," kataku lagi sambil berlalu menuju kasir.


"Makasih ya Pelangi," ucap Sinta.


Pelangi pun menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah Sinta. Setelah membayar semua makanan mereka, Pelangi dan Sinta pun pulang.

__ADS_1


__ADS_2