Pelangi Dimatamu

Pelangi Dimatamu
BAB 44 Kedatangan Ibu dan Pelangi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali ibu dan Pelangi sudah bangun, setelah sholat subuh seperti biasa ibu sibuk didapur. Hari ini ibu tidak membuat kue untuk dijual tetapi ibu membuat kue untuk Gilang anaknya Sari, karena nanti ibu dan Pelangi akan kerumah Sari. Pelangi juga sudah sibuk didapur membantu ibu membuat berbagai macam jenis kue. Setelah selesai semua dan kue-kue sudah dikemas dalam kotak, Pelangi dan ibu bersiap-siap untuk ke rumah Sari.


"Ibu sudah kangen sama Gilang," ucap ibu.


"Sabar bu...sebentar lagi kan ibu bisa ketemu sama cucu ibu," kataku.


"Nah itu mobil onlinenya sudah datang, ayo bu," ajakku.


Setelah memberi petunjuk kepada sopir, mereka pun menuju ke rumah Sari. Sekitar dua puluh lima menit akhirnya mereka sampai dirumah Sari. Ibu mengetuk pintu rumah Sari dan mengucapkan salam kepada tuan rumah.


"Assalamualaikum...," ucap ibu.


"Waalaikumsalam....," sahut bik Inah sambil bergegas membuka pintu.


"Ohh ibu...ada mba Pelangi juga..., ayo masuk bu, mba...nyonya Sari ada dikamar lagi main dengan tuan muda Gilang," kata bik Inah menjelaskan.


"Silakan duduk dulu bu, mba...," ucap bik Inah.


"Makasih ya bik...," ucapku.


"Kalau tuan Reza ada dikamar juga ya," tanya ibu.


"Iya bu..tuan Reza selalu menemani nyonya yang sedang sakit," kata bik Inah.


"Sebentar ya bu saya kasih tau mereka dulu," kata bik Inah.


Tanpa menunggu persetujuan dari ibu, bik Inah pergi untuk memberitahukan keberadaan kami kepada tuan dan nyonyanya. Dulu saat nama Sari dan Reza disebut hatiku terasa sakit dan perih sekali, rasa marah dan benci kepada keduanya sangat besar sekali. Tapi sekarang entah mengapa semua perasaan itu hilang begitu saja ketika melihat kondisi Sari yang sekarang sangat memprihatinkan. Kini untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku dirumah mereka. Sekarang saat bertemu dengan Reza pun, aku sudah biasa saja seperti tidak pernah mengenal dia sebelumnya. Sari keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda karena dia sudah tidak terlalu kuat lagi untuk berdiri dan berjalan. Reza menggendong Gilang yang sudah mulai aktif bergerak. Untuk menutupi rambutnya yang sudah sangat tipis Sari memakai topi kupluk.


"Ibu...kak Pelangi...aku sangat senang kalian datang," ucap Sari.


"Iya Sar, kami datang untuk melihat keadaan kamu, ibu juga sudah kangen pengen liat cucu ibu," kata ibu.


"Ini kami bawain kue buatan ibu," ucapku.


"Makasih ya Pelangi," ucap Reza masih tetap menggendong Gilang yang semakin menggemaskan.


Pelangi hanya tersenyum dan mengangguk pelan kepada Reza.


"Gimana keadaanmu sekarang Sar...sudah ada kemajuan? " tanya ibu.


"Ya beginilah sekarang bu...seperti yang ibu lihat sekarang, badan Sari semakin hari semakin kurus bu, gak ada perubahan," jawab Sari.

__ADS_1


Sari ingin sekali menceritakan kondisi kesehatannya yang sebenarnya kepada ibu bahwa umurnya tinggal beberapa bulan lagi, tapi niatnya diurungkannya. Sari tidak mau ibu menjadi sedih karena memikirkannya. Ibu sudah terlalu banyak bersedih karena aku, biarlah ibu tidak perlu tahu kondisiku saat ini batin Sari.


"Kamu yang sabar ya nak...ibu selalu berdoa untukmu supaya kamu cepat sembuh," sahut ibu.


"Iya Sari...kamu harus yakin kalau kamu pasti sembuh," kataku.


"Makasih ya bu...kak Pelangi," ucap Sari.


"Oh iya bu...bulan depan saya mau ngajak Sari keluar negeri untuk berobat karena dirumah sakit xxxx disana katanya bagus bu," jelas Reza.


"Sari pengen ibu nemani Sari berobat kesana, ibu mau kan," pinta Sari.


"Ibu sih mau aja menemani kamu dan sekalian jagain Gilang juga, tapi Pelangi gimana sendirian dirumah," kata ibu.


"Aduuuuh ibu.....Pelangi kan sudah dewasa bu bukan anak bayi lagi, bisa ngurus diri sendiri," ucapku.


"Ibu pergi aja, kasian Sari lebih membutuhkan ibu, lagian Reza pasti kerepotan ngurusi Sari dan Gilang sendirian," kataku.


"Ya udah kalau gitu ibu setuju," ucap ibu.


"Kalau gitu saya urus semuanya kita berangkat bulan depan," ucap Reza.


"Sini Gilang main sama nenek ya...," ucap ibu.


"Taaa...taaaa..," ucap Gilang lucu membuat semua orang tertawa.


"Idiiiih gemas banget sih Gilang...tante pengen rasanya cubit pipi kamu," kataku sambil tertawa.


Semua pun ikut tersenyum dan tertawa melihat tingkah Gilang yang sangat menggemaskan itu. Ibu membawa Gilang bermain dihalaman rumah diikuti oleh Reza. Pelangi dan Sari duduk diteras rumah memperhatikan mereka bermain.


"Kak Pelangi...gimana kak !" tanya Sari.


"Apanya yang gimana Sar...," aku balik bertanya.


"Permintaanku tempo hari kak, apa kakak mau menikah dengan Reza," tanya Sari lagi.


"Apa kamu sudah gila ya Sar...ya gak mungkinlah aku mau menikah dengan suami adikku sendiri," jawabku.


"Aku juga sudah punya Hendra, kami akan segera menikah setelah mendapat restu dari mamanya Hendra," kataku.


"Jadi aku gak mungkin menikah dengan Reza, lagian aku sudah gak punya perasaan apa-apa sama dia, aku mencintai Hendra," kataku meyakinkan Sari.

__ADS_1


"Sudahlah Sar...kamu itu harus fokus untuk kesembuhan kamu bukannya fokus untuk mencarikan istri buat Reza," ucapku lagi.


"Emang kamu rela, ikhlas gitu kalau Reza menikah lagi," tanyaku balik.


"Ikhlas atau gak ikhlas aku harus lakukan itu kak demi kebahagiaan anakku," jawab Sari.


"Aku gak ngerti apa maksud kamu Sar," ucapku.


"Kak...dokter sudah memvonis umurku tinggal beberapa bulan lagi kak, sebelum meninggal aku ingin Gilang mendapatkan penggantiku yang bisa menyayangi dia seperti ibu kandungnya sendiri," jelas Sari.


"Apa kamu bilang...," kataku kaget.


"Iya kak Pelangi...aku akan meninggal," ucap Sari pelan.


Air mata Sari kembali mengalir membasahi pipinya, sebenarnya dia tidak ingin menceritakannya kepada Pelangi. Pelangi menggenggam erat tangan Sari, memberi dukungan kepadanya.


"Apapun kata dokter itu semua belum tentu benar, Allah yang berkuasa...," ucapku.


"Jodoh, rezeki dan maut itu sudah diatur oleh Allah, kamu harus yakin itu," ucapku lagi.


"Iya kak aku ngerti," ucap Sari.


"Tapi keadaanku kurasakan semakin hari sudah semakin lemah kak, aku sudah gak kuat," kata Sari.


"Kak Pelangi orang yang pantas buat jadi ibunya Gilang karena aku yakin kakak pasti menyayangi Gilang seperti anak kak Pelangi sendiri," kata Sari lagi.


"Kalau masalah cinta, walaupun kak Pelangi sudah gak punya perasaan lagi sama mas Reza, aku yakin dengan berjalannya waktu dan selalu bersama-sama pasti akan tumbuh perasaan cinta itu lagi," jelas Sari.


"Aku tetap gak bisa Sar....," ucapku.


"Pliiisss kak...," ucap Sari memohon.


"Sari kamu pasti sembuh," ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Pengobatan diluar negeri itu super bagus, aku yakin sepulang dari sana kamu pasti sembuh," kataku.


"Tapi kak...," ucap Sari.


Pembicaraan Pelangi dan Sari terputus karena ibu, Reza dan Gilang sudah menghampiri mereka. Pelangi kasihan melihat Sari, Pelangi semakin bimbang. Apa yang harus aku lakukan untuk menolong Sari batin Pelangi.


#####

__ADS_1


Makasih ya buat pembaca yang sudah setia di novelku...ditunggu like dan commentnya ya biar author lebih semangat lagi nulisnya...makasih🙏🙏🙏🙏


__ADS_2