
Sudah tiga hari Sari menginap dirumah ibu. Ibu sangat senang sekali bertemu dengan cucu kesayangannya tapi sayang kebahagiaan ibu belum lengkap karena Pelangi tidak ada dirumah. Hari ini Sari sudah bersiap-siap untuk pulang, sebenarnya dia ingin lebih lama lagi dirumah ibu tapi dia sudah berjanji dengan Reza menginap tiga hari dirumah ibu.
"Kok cepat betul ya kamu pulang, perasaan ibu baru kemarin kamu datang, padahal ibu masih kangen apalagi sama baby Gilang," kata ibu.
"Iya bu, ini sudah tiga hari Sari disini sudah waktunya Sari pulang kasihan mas Reza bu sendirian dirumah, "sahut Sari.
"Maaf ya bu cuma sebentar disini, nanti deh kalau mas Reza sudah gak terlalu sibuk, kita main lagi kesini bu," kata Sari lagi.
"Ibu kalau mau main ke rumah Sari juga boleh, Sari senang banget bu," ucap Sari.
"Jangan lupa bu ajak kak Pelangi," kata Sari.
"Iya nak nanti kapan-kapan ibu kerumahmu," sahut ibu.
"Mobil onlinemu sudah dipesan Sar," tanya ibu.
"Sudah bu, ini lagi nunggu mungkin lima menit lagi sampai," jawab Sari.
Tidak berapa mobil online pesanan Sari pun sampai didepan rumah.
"Nah....itu mobilnya sudah datang ibu, Sari pamit dulu ya bu," ucap Sari.
"Ya sudah, hati- hati ya nak salam sama suamimu ya," kata ibu.
"Iya bu...nanti Sari salamkan sama mas Reza, ibu jaga kesehatan ya, jangan capek-capek ya bu," ucap Sari.
Setelah pamit kepada ibu, mobil online yang membawa Sari dan baby Gilang pun pergi dari halaman rumah ibu. Sari sudah memberitahu Reza kalau hari ini akan pulang dan Reza pun sangat senang sekali akhirnya anak dan istrinya pulang. Reza kangen ingin bermain dengan Putra kesayangannya baby Gilang.
#####
Ditempat kerja Pelangi.
"Jadi kamu mau pulang hari ini Pelangi," kata Sinta.
"Iya Sin, sudah seminggu aku dirumahmu, kasihan ibu dirumah sendirian," jawabku.
"Emangnya adikmu Sari sudah pulang, kamu bilang gak mau ketemu sama dia," ucap Sinta.
"Tadi pagi ibu telpon aku, katanya Sari pulang hari ini," kataku lagi.
"Apa kamu gak mau memaafkan Sari, walau bagaimanapun dia saudara kandungmu, gak sepenuhnya itu kesalahan dia sih menurut aku," kata Sinta.
"Maaf Pelangi bukannya aku mau membela Sari jangan marah ya," kata Sinta lagi.
"Tau ahh Sin....mau benar atau salah, untuk saat ini aku malas ngomongin Sari, intinya aku masih sakit hati sama mereka," jawabku.
" Maaf ya Pelangi aku bukannya mencampuri urusan keluargamu," kata Sinta.
"Iya gak apa-apa Sin, aku ngerti kok...makasih ya kemarin aku sudah dibolehin nginap dirumahmu," ucapku.
"Ahh...kamu Pelangi, kamu kan sahabatku...kamu mau nginap selamanya dirumahku juga gak apa-apa asal kamu tahan," kata Sinta.
"Emang tahan apaan !....." tanyaku heran.
" Tahan dengar suara ngorokku setiap malam," ucap Sinta sambil tertawa.
"Hahaha....," aku tertawa mendengar perkataan Sinta.
"Baru kali ini aku mendengar suara orang ngorok unik banget kaya kamu Sin," kataku tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Pelangi....kamu jahat banget sih ngatain ngorok aku unik," ucap Sinta cemberut.
"Hahaha....maaf...maaf Sin, jangan cemberut gitu dong," kataku menahan tawa.
"Udah ahh...kita kerja lagi yuk..." ajak Sinta.
" Oh iya,nanti pulang kerja jadi kamu dijemput sama Hendra," kata Sinta lagi.
"Iya nanti sore aku dijemput sama Hendra," kataku.
Setelah asyik mengobrol tadi, aku dan Sinta melanjutkan pekerjaan kita masing-masing.
#####
"Pelangi mana jemputanmu Hendra? "kata Sinta.
"Masih dijalan Sin, tadi aku sudah telpon Hendra tadi," jawabku.
"Ya udah kalau gitu aku duluan ya, sudah dijemput Dani," ucap Sinta.
"Oh ya udah kalau gitu, makasih banyak ya Sin, hati-hati ya," kataku.
"Iya sama-sama...duluan ya sayang," kata Sinta sambil tertawa.
Akupun melambaikan tanganku kepada Sinta. Sinta memang gadis yang sangat menyenangkan, dia jarang sekali marah kepadaku walaupun sering aku bully, itu juga salah satu alasan kenapa aku senang bersahabat dengan Sinta,aku senang mengusilin Sinta. Setelah kepergian Sinta, tinggallah aku sendiri menunggu Hendra, dia sudah berjanji mau jemput aku. Lumayan lama juga aku menunggu Hendra akhirnya dia datang juga.
"Maaf ya nunggu lama tadi ban mobil aku bocor jadi aku ke bengkel dulu," kata Hendra menjelaskan.
"Oh...ya udah gak apa-apa," sahutku.
"Kita makan dulu ya baru kuantar pulang," kata Hendra.
"Ya udah terserah kamu aja," ucapku.
"Kamu maunya makan apa?" tanya Hendra.
"Terserah kamu aja," jawabku pendek.
"Kok jawabannya dari tadi terserah, ya udah ini terserah aku looh ya kamu jangan protes," ucap Hendra.
"Iya.... terserah kamu, aku sih ngikut aja," kataku.
"Masih buka gak ya tempatnya jam segini,semoga masih buka," ucap Reza.
"Aku mau ke kantor KUA, mau mendaftarkan pernikahan kita," kata Reza dengan santainya.
"Apa kamu bilang......!" teriakku kaget.
"Haddeeeeeh...aku pikir jawabanmu iya, terserah kamu, aku sih ngikut aja ternyata bukan itu jawabannya," kata Hendra tertawa.
"Kamu ya suka betul ngusilin orang," kataku sambil kucubit pinggang Hendra.
"Aww...aduh sakit," ucap Hendra meringis kesakitan.
"Biarin siapa suruh ngusilin orang," kataku sambil terus mencubit pinggang Hendra.
Hendra lalu menepikan mobilnya dipinggir jalan karena tidak tahan terus kucubit. Lalu dia memegang kedua tanganku dan mencium bibirku. Aku kaget mendapat ciuman dari Hendra. Spontan aku langsung agak menjauhkan wajahku dari Hendra. Hendra masih memegang kedua tanganku.
"Lepaskan tanganku," teriakku.
__ADS_1
"Maafkan aku Pelangi," kata Hendra sambil melepaskan tanganku.
"Kamu marah sama aku Pelangi," tanya Hendra.
"Ya iya lah aku marah sama kamu, emangnya ada siapa lagi didalam mobil ini selain kita berdua, ya aku marah sama kamu," jawabku kasar.
"Kamu memang gak sopan, kamu pikir aku perempuan murahan yang seenaknya aja kamu cium," bentakku.
"Mungkin banyak sudah cewek-cewek diluar sana yang kamu kenal kamu perlakukan kaya tadi, mentang-mentang kalian bos, orang kaya jadi seenaknya aja kaya gitu," kataku.
"Aku mau pulang sekarang," kataku lagi.
Hendra hanya diam mendengarkan semua kemarahanku. lalu dia melajukan mobilnya mengantarkan aku pulang, sepanjang perjalanan kami hanya diam dengan pikiran kita masing-masing. Akhirnya mobil pun sampai didepan rumahku. Aku bergegas membuka pintu mobil, tapi dengan cepat Hendra menarik tanganku dan aku tidak jadi turun dari mobil.
"Pelangi...aku minta maaf," kata Hendra.
"Lepaskan aku," ucapku.
"Aku gak akan melepaskan genggaman tanganku sampai kamu mendengar penjelasanku dulu," kata Hendra sambil terus menggenggam tanganku.
"Aku menciummu bukan tanpa arti...aku menciummu karena aku mencintaimu dan aku juga bukan laki-laki murahan yang mencium semua wanita yang kukenal," ucap Hendra.
"Ciuman aku itu untuk satu orang spesial dan bukan banyak orang dan orang yang telah dipilih hatiku itu kamu Pelangi," kata Hendra.
"Semenjak kita bertemu didalam bis, aku sudah jatuh cinta sama kamu," kata Hendra lagi.
"Aku mencintaimu Pelangi...mau kah kamu menjadi pacarku yang nantinya akan kubawa ke pelaminan," ucap Hendra.
"Jawablah Pelangi," kata Hendra.
"Aku...aku...aku gak tau harus jawab apa!" kataku.
"Aku masih trauma, aku sudah cerita kan sama kamu bagaimana hubunganku dulu sama mantan aku, aku masih takut," jawabku.
"Iya aku tau..tapi mau sampai kapan kamu hidup dibawah bayang-bayang masa lalu, lihatlah masa depanmu, belajarlah melupakan dan memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kamu," kata Hendra.
"Pelangi lihat mataku, aku tulus sayang dan cinta sama kamu," ucap Hendra.
Hendra lalu memegang daguku, mengarahkan wajahku kearahnya. Wajah kami sangat dekat dan saling bertatapan, jantungku berdebar kencang, aku tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba timbul saat aku menatap wajah Hendra. Wajah putih yang tampan dan mata yang sendu membuat jantungku deg-degan, apa aku sudah jatuh cinta juga sama Hendra.
"Pelangi....aku mencintaimu mau kah kamu menjadi pacarku," ucap Hendra.
"Hendra...," kataku sambil mengangguk.
"Makasih ya...kamu sudah memberi aku kesempatan untuk menjadi pacar kamu, Insya Allah aku akan jaga semua ini," ucap Hendra.
"Sebenarnya aku tadi mau ngajak kamu makan dan sekalian mau mengatakan perasaanku sama kamu, eh...malah nembaknya didepan rumah kamu," kata Hendra tertawa.
"Hehehe...," sahutku ikut tertawa.
"Ya udah aku masuk dulu ya, udah gerah mau mandi nih," ucapku.
"Iya sayang, kalau gitu aku pulang maaf ya gak turun gak pamit sama ibu juga," kata Hendra.
"Gak apa-apa kok, ya udah pulang sana," kataku.
"Ngusir ya," kata Hendra tertawa.
Setelah pamit dengan Pelangi Hendra pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga karena hari ini dia resmi menjadi kekasih Pelangi.
__ADS_1