
Hari ini semua orang-orang terdekat Sari berkumpul dirumah sakit karena permintaan Sari, termasuk putra kesayangannya Gilang. Sari ingin sekali bertemu dengan anaknya karena sudah lama dia tidak bertemu dengan Gilang. Reza membawa Gilang serta bik Inah, asisten rumah tangga mereka yang selalu setia menjaga Gilang. Sari sudah merasa kalau sebentar lagi dia akan pergi untuk selama-lamanya.
"Mas Reza...dimana Gilang ?" tanya Sari dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
"Gilang ada diluar dengan bik Inah," jawab Reza.
"Aku pengen ketemu sama anakku," ucap Sari.
"Sabar ya sayang....aku akan segera membawa Gilang," ucap Reza.
Reza keluar kamar dan mendatangi bik inah yang sedang menggendong Gilang. Ibu menangis terisak melihat keadaan Sari yang semakin lemah. Pelangi mencoba menenangkan ibunya dengan memeluk ibunya sambil mengelus-elus bahu ibunya. Tidak berapa lama Reza kembali keruangan Sari dengan menggendong Gilang diikuti bik Inah dibelakangnya.
"Anakku sayang...," ucap Sari.
"Gilang...sini nak sama mama," ucap Sari sambil menangis.
"Mammmm....ma....mammm maaa....," ucap Gilang.
Sari lalu memeluk erat Gilang dan menciumi anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Gilang yang sudah berhari-hari tidak bertemu dengan mamanya itu menangis ketika dipeluk Sari. Gilang seakan-akan tidak mau ditinggal lagi oleh Sari.
"Mammmaaa...agi cakit ya...," kata Gilang.
Sari menjawab pertanyaan Gilang dengan anggukan pelan. Bocah kecil yang masih belajar berbicara itu, mencoba memijit-mijit tangan Sari. Sari tersenyum melihatnya dan tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Gilang sayang gak sama mama," ucap Sari pelan.
"Ayyyaaanng mammaaa...," ucap bocah kecil itu.
"Nanti....kalau mama pergi jauh, Gilang jangan nakal ya," kata Sari.
"Iyang mau ikut maaamma pelgi ya," ucap Gilang lagi.
"Gilang gak boleh ikut..Gilang harus temani papa kasian papa sendirian," sahut Sari.
"Gilang harus jadi anak yang baik...gak boleh nakal...," ucap Sari dengan suara yang sudah semakin melemah.
Gilang hanya mengangguk pelan.
"Gilang juga harus nurut apa kata papa, apa kata nenek, tante Pelangi dan bik Inah ya sayang....," kata Sari.
"Iyaaang mau cama mammaaa...," teriak Gilang.
"Sini mama peluk lagi," ucap Sari.
Sari lalu memeluk Gilang lagi, Gilang merasa senang berada dalam pelukan Sari dan tidak mau melepaskannya. Bik Inah yang melihat nyonyanya dalam keadaan sakit seperti itu mulai meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Mas Reza...," panggil Sari pelan.
"Iya sayang aku disini...," sahut Reza.
"Mas Reza maafkan semua kesalahanku selama menjadi istri kamu....aku banyak kekurangannya, maafkan aku ya mas, terima kasih sudah menjadi suami yang sempurna buat aku....," suara Sari mulai terdengar melemah.
"Sayang kamu ngomong apa sih, kamu adalah istri yang terbaik dan sempurna buat aku," ucap Reza.
"Sudah...kamu jangan ngomong macam-macam lagi, kamu sudah terlalu banyak ngomong, sekarang kamu istirahat ya biar cepat sembuh," kata Reza sambil mencium kening Sari.
"Aku sudah gak kuat mas...mungkin ini sudah waktunya aku harus pergi," ucap Sari.
"Gak kamu gak boleh ngomong kaya gitu," ucap Reza.
"Kak Pelangi...," ucap Sari lagi.
Pelangi dan ibu datang menghampiri mendekati ranjang Sari, begitu juga dengan bik Inah. Sari terlihat sudah sangat pucat, bibirnya bergetar memanggil kakaknya.
"Iya Sar....aku disini," ucapku sambil menangis.
"Kak Pelangi...mas Reza...aku mohon sama kalian... penuhi permintaan terakhirku supaya aku bisa pergi dengan tenang," ucap Sari dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
"Aku ingin kalian berdua menikah...tolong kabulkan permintaan terakhirku," ucap Sari lagi dengan tangisannya.
Ibu menangis melihat itu semua, ibu yakin kalau Sari akan pergi untuk selamanya. Ibu menggendong Gilang yang masih ada didekat Sari. Gilang menangis ketika ibu menggendongnya seakan-akan dia tahu kalau mamanya akan pergi.
"Bik Inah...tolong gendong Gilang dulu ya," ucap ibu kepada bik Inah.
"Iya bu... ," sahut bik Inah.
"Tolong mas Reza..kak Pelangi...berjanjilah sama aku kalau kalian nanti akan menikah..kabulkan permintaanku," pinta Sari.
Reza menatap Pelangi seakan-akan meminta jawaban atas pertanyaan Sari. Pelangi tidak bisa menjawab apa-apa selain menangis. Pelangi tidak tahu harus menjawab apa saat itu. Pelangi tidak tega menolak keinginan Sari tapi sebelah hatinya, dia tidak ingin menikah dengan Reza.
"Kak Pelangi.....tooolong kak...ku mohon...," ucap Sari dengan nafas yang susah sekali untuk dikeluarkan.
Ibu menggenggam tangan Pelangi memberi kekuatan kepada Pelangi. Apapun keputusan Pelangi, ibu akan tetap mendukung dan merestuinya.
"Kak Pelangi...menikahlah dengan mas Reza, aku mohon kak," suara Sari memelas meminta belas kasihan.
"Iya Sar...," jawabku dengan tangis yang semakin kencang.
"Mas Reza....apa mas mau menikah dengan kak Pelangi !" tanya Sari lagi.
Reza menangis sambil memeluk dan mencium istrinya.
__ADS_1
"Mas....," ucap Sari lirih.
"Kalau memang itu permintaanmu....aku bersedia untuk menikah dengan Pelangi," sahut Reza.
"Terima kasih mas...terima kasih kak Pelangi....akhirnya aku bisa pergi dengan tenang," ucap Sari dengan tersenyum.
"Gak...kamu gak boleh pergi...sebentar aku panggil dokter," kata Reza.
"Gak mas...waktuku sudah gak banyak...aku ingin melihat kalian semua sebelum aku pergi," ucap Sari masih dengan tersenyum.
"Gilang sini nak...," panggil Sari.
Bik Inah datang dengan menggendong Gilang. Sari lalu memeluk Gilang dan menciuminya untuk terakhir kali.
"Bik Inah makasih ya selama ini sudah menjaga Gilang dengan baik...maafkan semua kesalahan saya ya bik," ucap Sari.
"Maafkan juga semua kesalahan saya nyonya," tangis bik Inah.
"Ibu, mas Reza, kak Pelangi, bik Inah...dan anakku sayang....," ucap Sari.
"Makasih atas semuanya...aku...peeerrrgiii...," ucap Sari dengan suara yang sudah ditenggorokan.
"Sari....," ucapku dan ibu hampir bersamaan.
"Sayannng...," teriak Reza histeris.
Mata Sari sudah tertutup, Sari meninggal dengan senyuman diwajahnya. Reza bergegas keluar ruangan untuk memanggil dokter. Mereka pun berlari menuju kekamar Sari dirawat. Dokter memeriksa denyut nadi Sari untuk memastikan keadaannya. Dokter pun menggelengkan kepalanya.
"Mohon maaf pak Reza...ibu Sari sudah meninggal, semoga pak Reza dan keluarga bisa tabah menghadapinya," ucap dokter.
"Gak mungkin....Sari...bangun sayang," teriak Reza sambil menangis.
"Sari bangun," ucapku dengan keras dan air mata yang mengalir deras.
"Maaammma...ayo baanguun maa..," ucap Gilang yang mengira mamanya cuma tidur.
Ibu dan bik Inah hanya menangis melihat Sari yang sudah meninggal, kemudian beberapa orang perawat masuk membawa Sari ke ruang jenazah.
"Mau dibawa kemana istriku....," teriak Reza.
"Maaf pak jenazah ibu Sari mau dibawa ke ruang jenazah untuk dibersihkan," ucap salah seorang perawat.
"Gak...istriku masih hidup, istriku gak boleh dibawa kemana-mana," teriak Reza lagi.
"Reza istigfar nak... Sari sudah meninggal, biarkan perawat itu membawanya...," ucap ibu.
__ADS_1
"Kamu harus mengikhlaskan kepergiannya biar Sari bisa tenang," ucap ibu lagi.
Reza masih saja berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Pelangi seakan tidak percaya kalau Sari sudah meninggal dunia. Pelangi merasakan kehilangan yang sangat mendalam dihatinya setelah kepergian Sari untuk selamanya.