
Walaupun hubungan Hendra dan Pelangi masih belum mendapatkan respon positif dari tante Merry, mamanya Hendra tapi Hendra berjanji akan berusaha terus untuk mendapatkan restunya, karena itu syarat Pelangi mau menikah dengannya. Hari minggu sore, Hendra mengajak Pelangi jalan-jalan. Setelah berpamitan sama ibu, mereka pun pergi.
"Kamu mau ngajak aku kemana sih," ucapku.
"Ya jalan-jalan lah...masa aku gak boleh sih ngajak pacarku jalan," sahut Hendra.
"Iya boleh lah ! maksud aku, kamu mau ngajak aku jalan kemana? kan harus ada tujuan, gimana sih," kataku sedikit merajuk.
"Iya, iya... bawel, jangan marah-marah sayang," jawab Hendra.
"Aku gak mau kalau harus kerumahmu untuk bertemu dengan mamamu lagi, aku belum siap,' kataku.
"Ya udah kita mau kemana ini, biar kamu yang tentukan kita mau kemana," kata Hendra.
"Kita jalan ke mall aja yuk, lama juga aku gak ke mall" ajakku.
"Oke sayang, kita ke mall ya," ucap Hendra.
Kami pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke mall. Tidak berapa lama, kami pun sudah sampai disebuah mall ternama dikotaku. Aku dan Hendra masuk ke toko parfum, Hendra mencoba beberapa parfum dan membelikannya untukku. Setelah puas kami pun berkeliling mall lagi.
"Sayang, kita ke toko perhiasan itu yuk, " ajak Hendra sambil menunjuk sebuah toko perhiasan.
"Aku mau beliin kamu sesuatu disana," ucap Hendra.
"Sayang lain kali aja ya kita ke situ," kataku.
Aku bukannya tidak mau dibelikan perhiasan oleh Hendra. Wanita mana sih yang tidak mau dibelikan perhiasan oleh kekasihnya, semua wanita pasti menginginkannya. Aku tahu toko perhiasan yang ditunjuk Hendra itu barangnya sangat indah dan mewah, dan pastinya sangat mahal sekali, gajiku sebulan belum tentu cukup untuk membelinya. Aku tahu toko itu karena aku pernah ke toko itu dengan Sinta. Waktu itu aku dan Sinta cuma melihat- lihat saja tidak sanggup membelinya karena harganya mencekik leher kami, mahal sekali. Aku menolak, karena aku tidak mau Hendra menganggap aku cewek matre, lain cerita kalau aku sudah jadi istrinya. Selama pemberiannya masih batas sewajarnya tidak berlebihan aku masih mau menerima, kalau sudah menyangkut barang-barang mewah aku tidak berani menerimanya. Menurut aku laki-laki kalau sudah memberikan kita kemewahan, dia pasti juga akan meminta lebih dari kita, dengan alasan bukti cinta. Itu prinsip aku yang aku pegang sampai sekarang.
"Sayang, kenapa kamu menolak? " tanya Hendra heran.
"Bukannya aku nolak sih tapi lain kali aja ya...aku pengen beliin ibu baju, yuk kita jalan lagi," kataku berusaha mencoba mengalihkan pembicaraanku dengan Hendra.
Hendra mengikuti saja ajakanku, lama aku mencari-cari baju yang cocok untuk ibuku. Kulihat Hendra mulai gelisah karena aku belum selesai juga memilih baju, mungkin dia sudah kelaparan. Aku sengaja mengerjai Hendra, karena aku mau lihat seberapa sabar dia menunggu aku. Aku kasihan juga melihatnya, setelah selesai membayar di kasir, kami pun pergi.
"Kita makan ya... aku sudah lapar banget nih," ucap Hendra.
"Pantas dari tadi kamu gelisah ternyata kamu kelaparan ya," kataku.
"Duuuh kasian...lama ya nunggu tadi, itu looh belum lama, lain kali aku bikin lebih lama lagi," kataku sambil tertawa.
"Ooh jadi sengaja ya ngerjain aku tadi, awas ya kamu," kata Hendra tertawa sambil mencubit pipiku.
__ADS_1
"Aauuuuu...sakit," ucapku.
"Biarin...itu balasannya karena sudah mengerjain pacarnya," ucap Hendra.
Hendra lalu melepaskan cubitannya dan menggenggam tanganku mengajak keluar mall.
"Kita makan dimana sayang," tanya Hendra.
"Terserah aja maunya sayang dimana," kataku.
"Kita makan direstoran disamping mall ini aja ya," ajak Hendra.
"Oke sayang," jawabku.
Setelah masuk kedalam restoran kami pun mencari tempat duduk dan segera memesan makanan dan minuman yang kami inginkan. Tidak berapa lama makanan pun datang dan siap disantap. Aku dan Hendra menyantap hidangan sambil asyik mengobrol disertai dengan candaan Hendra yang bikin aku tertawa. Tiba-tiba di kejauhan pintu masuk restoran tidak sengaja aku melihat orang yang aku kenal. Aku melihat Sari dan Reza disana, Sari sedang menggendong anak balita, itu mungkin anaknya pikirku. Mereka mau makan juga direstoran. Aku pura-pura tidak melihat mereka, tapi aku yakin mereka pasti akan melihat kami kalau kami masih lama direstoran ini.
"Kok kamu tiba-tiba diam sayang, ada apa? " tanya Hendra.
"Ada Sari dan Reza direstoran ini juga," kataku.
"Aku gak mau ketemu sama mereka," kataku lagi.
"Kamu udah selesai makannya," tanyaku.
"Kamu gak usah panik gitu, santai aja, ada aku disini," kata Hendra.
"Ya udah lanjut aja lagi makannya," kata Hendra lagi.
"Iya...," jawabku pelan.
Aku lalu melanjutkan menyantap makananku, aku pura-pura tidak tahu akan kehadiran Sari dan Reza direstoran ini. Untunglah makananku dan Hendra sudah habis ludes, aku ingin segera pergi dari tempat ini. Ternyata keberadaanku dan Hendra direstoran ini sudah diketahui Sari dan Reza. Mereka menghampiri kami, aku pura-pura tidak melihat dan cuek saja.
"Kak Pelangi....," kata Sari.
"Kakak ada disini juga," kata Sari lagi.
"Iya...," kataku pendek.
"Kenalkan aku pacarnya kakak kamu, aku Hendra," kata Hendra.
"Aku Sari mas dan ini mas Reza suamiku," kata Sari.
__ADS_1
Hendra dan Reza berjabat tangan saling mengenalkan diri. Aku hanya diam saja melihat mereka, ingin rasanya aku cepat-cepat pergi dari tempat ini.
"Kalau yang kecil ini siapa namanya...duuh lucunya," ucap Hendra sambil mengusap lembut pipi Gilang.
"Nama saya Gilang om," ucap Sari sambil tertawa.
Hendra dan Reza ikut tertawa, aku hanya diam saja mendengarkan mereka. Aduh...Hendra pakai ngajak ngobrol basa-basi lagi, bisa lama ini batinku.
"Apa kabar Pelangi," tanya Reza.
"Baik...," jawabku.
"Kak Pelangi, mas Hendra ayo gabung sama kita, kita makan bareng yuk," ajak Sari.
"Meja kita ada disebelah sana," ucap Reza.
"Bukannya nolak sih, kita berdua baru aja selesai makan nih," kata Hendra.
"Lain kali aja ya, kita udah mau pulang," kata Hendra lagi.
"Ooh ya udah kalau gitu," sahut Reza.
"Kita duluan ya," ucap Hendra.
"Ayo sayang kita pulang," kata Hendra.
Aku hanya mengangguk pelan, tanpa basa basi lagi Hendra lalu menggenggam tanganku mengajakku pergi dari tempat itu. Reza dan Sari pun kembali ke mejanya. Akhirnya aku lega bisa keluar dari restoran itu.
"Makasih ya sayang," kataku.
"Makasih atas apa," kata Hendra.
"Makasih udah menyelamatkan aku dari Sari dan Reza," sahutku.
"Aku tau kamu gak nyaman ada didekat mereka, ya jadi aku berusaha supaya kita bisa keluar dari restoran itu," kata Hendra.
"Ya udah kita pulang sekarang ya," pintaku.
"Kita beli kue dulu ya buat ibu, kasihan ibu," kata Hendra.
"Iya sayang...," sahutku.
__ADS_1
Aku senang hari ini bisa jalan-jalan dengan Hendra, walaupun ada sedikit hal yang tidak menyenangkan yaitu bertemu dengan Sari dan Reza. Dihatiku sudah tidak ada dendam dan sakit hati lagi kepada Sari dan Reza, semuanya sudah hilang dengan kehadiran Hendra, tapi untuk akrab dengan Sari lagi aku sudah tidak bisa walaupun dia saudara kandungku.