
Hendra tidak menyangka kalau Pelangi dan adiknya Nina sudah saling mengenal dan berteman. Hendra menceritakan kepada Nina bahwa hubungannya selama ini dengan Pelangi terhalang oleh restu dari mama. Nina berjanji akan membantu Hendra dan Pelangi untuk menarik hati mama dan merestui hubungan mereka. Sementara kehidupan Sari dan Reza semakin hari semakin romantis dan bahagia.
"Sayang, gimana kepalamu...apa masih sering sakit," tanya Reza.
"Belakangan ini kepalaku tambah sering sakit mas, aku gak tau kenapa," jawab Sari.
"Nanti siang aku jemput kamu kita periksa ya...biar nanti dede Gilang sama bibik dulu," ucap Reza.
"Ya udah kalau gitu nanti siang aku tunggu ya mas," ucap Sari.
Setelah selesai sarapan, Reza berpamitan kepada Sari yang masih menggendong Gilang.
"Biiik..tolong meja makannya dibereskan ya bik," ucap Sari.
"Baik nyonya," kata bik Inah.
"Bik Inah saya mau istrirahat dulu dikamar, kepala saya pusing bik, nanti kalau sudah selesai beres-beres bik Inah kekamar saya ya," kata Sari.
"Ambil ade Gilang dikamar saya," kata Sari lagi.
"Iya nyonya...nanti setelah selesai beres-beres saya ke kamar nyonya," ucap bik Inah.
"Makasih ya bik," ucap Sari.
Bik Inah mengangguk pelan. Sari lalu menuju kamarnya sambil menggendong Gilang. Sari tidak tahu kenapa tiba-tiba kepalanya pusing dan sakit sekali. Setelah membereskan semua pekerjaannya bik Inah ke kamar Sari untuk menjaga Gilang, dilihatnya nyonyanya sedang tidur bik Inah membawa Gilang keluar kamar.
"Ayo anak ganteng kita main diluar ya," ucap bik Inah.
"Jangan ganggu mama ya, mama lagi sakit nanti kalau mama sudah sehat kita main sama mama ya," kata bik Inah.
"Anak pintar," kata bik Inah mengajak ngobrol dede Gilang.
Menjelang siang hari, Reza pulang sebentar kerumah untuk mengajak Sari berobat ke dokter. Dilihatnya keadaan rumah lagi sepi. Hanya ada bik Inah didapur sedang memasak.
"Bik Inah, nyonya dimana," tanya Reza.
"Dikamar tuan lagi tidur, tadi pagi nyonya kepalanya pusing jadi istirahat dikamar," jawab bik Inah.
"Dede Gilang juga sudah tidur dikamar," ucap bik Inah.
"Oh iya...saya kekamar dulu ya bik," ucap Reza.
"Iya tuan," jawab bik Inah.
Reza kemudian pergi ke kamar, dilihatnya istrinya itu sedang tidur, disampingnya ada dede Gilang yang juga tertidur pulas. Reza menghampiri Sari dan pelan-pelan membangunkannya.
"Sayang, bangun...," ucap Reza sambil mengelus-elus pipi Sari.
"Aaaggghh....mas Reza sudah pulang," ucap Sari.
"Iya aku kan sudah janji tadi mau ngajak kamu berobat siang ini," ucap Reza.
"Gimana kepalamu sayang masih sakit," ucap Reza lagi.
"Aduuh mas sakit banget kepalaku," kata Sari.
"Tadi pagi aku sudah minum obat sakit kepala tapi kok gak hilang-hilang sakitnya," kata Sari.
"Kok tambah semakin sakit," ucap Sari.
"Ya udah sekarang kamu siap-siap kita pergi ke rumah sakit," ucap Reza.
__ADS_1
"Nanti aku kasih tau bik Inah dulu untuk jagain dede," kata Reza.
"Iya mas," ucap Sari.
Setelah berpamitan dan memberi pesan kepada bik Inah untuk menjaga dede Gilang, Reza dan Sari pergi ke rumah sakit yang cukup terkenal dikota itu. Setelah menempuh waktu kira-kira setengah jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Tidak terlalu lama menunggu akhirnya tiba nomor antrian Sari untuk masuk ke ruangan periksa.
"Silakan nyonya Sari," kata suster menyuruh Sari dan Reza masuk ke ruang dokter.
"Selamat siang dok," ucap Reza.
"Selamat siang, silakan duduk," ucap dokter Ardi.
"Ada yang bisa saya bantu, keluhannya apa," tanya dokter Ardi.
"Ini dok, istri saya kepalanya sakit, sering banget pusing," ucap Reza.
"Iya dok, kadang sakitnya tiba-tiba aja datang, selama ini saya cuma minum obat pereda sakit kepala," kata Sari.
"Lumayan dok, sakit kepalanya hilang tapi beberapa hari kemudian kambuh lagi," kata Sari menjelaskan.
"Ada keluhan yang lainnya," kata dokter Ardi.
"Kalau kumat sakit banget saya pernah pingsan dok," kata Sari lagi.
"Ya udah kalau gitu kita periksa dulu ya bu Sari," kata dokter Ardi.
Sari hanya mengangguk pelan dan mengikuti petunjuk dari dokter. Setelah selesai pemeriksaan yang dilakukan, Sari diminta untuk menunggu hasil test pemeriksaannya.
"Silakan duduk dulu bu Sari," ucap dokter Ardi.
"Iya dok, terima kasih." jawab Sari.
"Maaf bapak, ibu hasil pemeriksaannya masih menunggu hasil dari lab, mungkin sekitar dua jam hasilnya bisa kita ketahui," kata dokter Ardi.
"Bapak dan ibu masih mau menunggu atau besok datang lagi juga bisa untuk mengetahui hasilnya," kata dokter Ardi lagi.
"Gimana sayang, kita tunggu atau kembali besok lagi," kata Reza.
"Kita tunggu aja ya mas hari ini, aku penasaran dengan hasilnya," kata Sari.
"Ya udah kalau gitu," ucap Reza.
"Dok, kita tunggu aja hasilnya hari ini," kata Reza.
"Oke, dua jam lagi nanti bapak ibu bisa menemui saya lagi," kata dokter Ardi.
"Terima kasih dokter," ucap Reza dan Sari hampir bersamaan.
"Iya sama-sama," kata dokter Ardi.
Reza dan Sari keluar ruangan dokter Ardi, dan mereka duduk dikursi antrian pasien.
"Sayang, kamu belum makan siang kan," tanya Reza.
"Belum mas...," jawab Reza.
"Gimana kalau kita makan siang dulu, nanti dua jam lagi kita balik kesini," kata Reza.
"Ya udah kalau gitu, kita makan di kantin rumah sakit ini aja ya mas," kata Sari.
"Cari yang dekat aja, kepalaku masih pusing," kata Sari lagi.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu," kata Reza.
Reza dan Sari pun memutuskan untuk makan dikantin yang ada di rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.
"Ayo mas, aku sudah selesai makannya," ucap Sari.
"Kita juga sudah lama disini, sudah hampir dua jam," ucap Sari lagi.
"Aku bayar dulu ya sayang," ucap Reza.
Sari mengangguk pelan kepada suaminya. Setelah selesai membayar makanannya, mereka pun menuju keruangan dokter Ardi.
"Suster saya mau tanya, apa hasil pemeriksaan atas nama ibu Sari sudah ada," tanya Reza kepada suster jaga dibagian informasi.
"Sebentar pak ya, saya cek dulu," kata suster.
"Iya sus," kata Reza.
"Mas Reza aku kok jadi takut dengan hasil testnya," ucap Sari.
"Tenang aja sayang, kamu pasti baik-baik aja, itu cuma sakit kepala biasa," kata Reza.
"Sudah...kamu gak usah takut ya sayang," kata Reza sambil membelai rambut Sari.
"Permisi ibu Sari...," panggil suster.
"Iya sus, " ucap Sari.
"Silakan masuk keruangan dokter, hasil pemeriksaan ibu sudah ada," kata suster menjelaskan.
"Iya sus, terima kasih," ucap Sari.
Sari dan Reza bergegas masuk keruangan dokter Ardi. Sari sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Gimana dok," kata Sari.
"Maaf sebelumnya saya harus menyampaikan berita buruk ini, semoga ibu Sari bisa tabah menghadapinya," kata dokter Ardi.
"Istri saya sakit apa dok," kata Reza.
"Istri bapak menderita kanker otak stadium 3," kata dokter Ardi.
"Apa....saya kena kanker...itu gak mungkin dok," teriak Sari sambil menangis.
"Mas... dokter pasti salah kan mas," tangis Sari.
Reza terdiam dan hanya memeluk Sari yang masih menangis.
"Tapi masih bisa disembuhkan kan dok," kata Reza.
"Kita akan coba dengan jalan kemotrapi untuk membunuh sel kankernya," kata dokter.
"Dan harus minum obat yang rutin, istirahat yang banyak dan yang terpenting jangan stres, dan juga dukungan dari keluarga," kata dokter Ardi menjelaskan.
"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istri saya dok," kata Reza.
"Saya akan lakukan apapun untuk kesembuhan bu Sari," kata dokter.
"Terima kasih dok," kata Reza.
Setelah berpamitan dengan dokter Ardi, Reza dan Sari meninggalkan ruangan. Di dalam mobil Sari masih saja menangis, dia tidak menyangka bisa sakit kanker. Reza tidak tahu harus bagaimana, dia sendiri masih syok dengan penyakit yang diderita istrinya.Reza berharap penyakit istrinya masih bisa disembuhkan. Sebenarnya Reza ingin menangis, tapi dia harus kuat dihadapan Sari, dia tidak ingin menambah kesedihan Sari.
__ADS_1