
Pukul 06.03, Clarie keluar dari kamarnya. Sebenarnya dia masih mengantuk, sangat mengantuk, tapi apa boleh buat karena dia di sini tidak hanya bersama dengan Ben, Martin, Deo, Lena, dan Diena. Di resort ini ada paman, bibi, saudara sepupu, keponakan, ayah, dan neneknya Ben. Jadi harus bangun lebih pagi.
Seperti kebiasaan sehari-harinya, tempat yang akan Clarie datangi setelah bangun tidur adalah dapur. "Selamat pagi Clarie, apa tidurmu nyenyak semalam?" sapa Ester. Ester adalah istri Jonas, saudara sepupu Ben.
Clarie berhenti sebentar, melihat pemandangan di dapur yang sangat jarang dia lihat. Semua sudah berada di dapur, tepatnya di meja makan, semua orang yang Clarie temui kemarin sudah siap untuk sarapan.
"Clarie ayo duduk dan segera sarapan, kami menunggumu," Clarie sedikit tertegun dengan ucapan nenek Ben. Mereka menunggu dirinya hanya untuk sebuah sarapan? Orang-orang di keluarganya saja tidak pernah berbuat demikian.
"Nenek, aku rasa Clarie belum benar-benar sadar. Mungkin dia butuh mandi dulu," Diena meninggalkan kursinya dan menuntun Clarie ke dalam kamarnya lagi. Setelah masuk ke dalam kamar, Diena cepat-cepat menutup pintu kemudoan menghadap ke arah Clarie.
"Clarie dengar, aku rasa nenek masih sedikit ragu dengan hubunganmu dengan Kak Ben. Jadi bisakah kamu terlihat sedikit lebih dekat dengan Kak Ben? Dengar baik-baik Clarie, kamu tahu kan kalau Alyta menjadi karyawan di perusahaan Kakak. Aku yakin dia ingin melakukan sesuatu, dia ingin mendapatkan hal yang tidak pantas dia dapatkan," Diena berhenti sebentar menarik napas dalam-dalam. "Kak Ben sangat mempercayaimu Clarie, dan kami juga. Kami percaya kamu bisa membantu Kak Ben,"
Clarie menatap Diena dengan tatapan kosong, otaknya berusaha mencerna. Semuanya terjadi agak tiba-tiba, terutama dengan syarat yang harus dia penuhi. Syarat kedua dari perjanjiannya dengan Ben. Berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Dia gila. "Tapi bisakah kamu mengatakan kepada Ben untuk sedikit mengurangi kontak fisik? Aku sangat sensitif dengan kontak fisik," ujar Clarie. Matanya menatap Diena yang sedang menyiapkan baju untuknya hari ini.
__ADS_1
"Itu agak sulit, sepasang kekasih yang saling mencintai bukannya mengekspresikan lewat sentuhan fisik. Seperti menggandeng tangan, merangkul bahu, berpelukan, atau ciuman di kening? Jika kamu hanya melontarkan kata-kata manis saja itu belum pasti. Karena cinta itu dibuktikan, bukan diucapkan. Dan sekarang waktunya mandi," Diena menyerahkan baju dan handuk, lalu mendorong Clarie ke kamar mandi.
......................
Rencana hari ini adalah bermain di pantai, semua orang terlihat bersemangat, kecuali Clarie. Saat dia tahu apa yang ada di hadapannya sekarang, dia merasa sedikit takut. Air. Ada kenangan buruk bersama dengan para air.
"Aku akan menemanimu jika tidak mau bermain bersama ombak," Ben menatap Clarie sedikit gusar. Sejak kemarin wajah gadis itu tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, seperti ada yang tidak bisa dia ungkapkan ke orang lain. "Dan tentunya kamu bisa mengatakan apa yang sedang mengganggumu Clarie, katakan saja padaku," tambahnya.
"Ya, aku akan mencoba melakukannya," Ben dan Clarie memilih duduk di bawah pohon kelapa, mereka menyandarkan tubuh mereka ke batang pohon kelapa itu. "Dulu saat aku berumur 14 tahun, Papa dan Mama mengajak kami untuk pergi berenang. Mereka ingin merayakan ulang tahun Renata di sana, semua terlihat biasa saja, tidak ada tanda-tanda kalau akan ada sebuah jebakan yang ditujukan kepadaku.
Clarie mengakhiri kisahnya yang sangat berkesan itu. Kejadian itu membuat dirinya takut dengan kedalaman. Tatapan yang terlihat kosong itu membuat Ben ikut merasakan ketakutan milik Clarie, dia paham bagaimana ketakutan mengurung seseorang dalam sebuah kandang. "Ikuti aku, mari kita coba selesaikan masalah ini,"
Ben membawa Clarie ke tempat yang lebih sepi, dengan ombak yang lebih kecil dan ada batu karang di sekitar sana. "Kenapa membawaku ke sini?"
__ADS_1
"Untuk menghilangkan ketakutan Nona Clarie?" nada bicara Ben sangat lembut, selembut angin yang berhembus di sekitar mereka. "Berjalanlah ke air Clarie, aku akan membantumu menghilangkan yang satu ini. Cobalah untuk menghadapi ketakutan itu dan bertambah kuatlah,"
Clarie menggeleng, dia tidak bisa berjalan ke sana, dia tidak bisa. Bagaimana jika ada makhluk laut yang ingin menerkamnya nanti? "Aku tidak bisa, aku tidak mau,"
"Aku bersama denganmu, percaya padaku,"
......................
"Hei semua, berhenti dulu. Ice cream sudah menanti kalian nih, ayo istirahat!" Nathan berteriak ke semua orang sambil menunjuk mangkuk kecil di tangannya. Semua orang pun mulai keluar dari air dan segera duduk di tempat yang sudah disediakan oleh Nathan. Satu per satu mangkuk diambil.
"Sisa dua mangkuk, siapa yang belum dapat?" tanya Nathan bingung melihat kedua mangkuk yang tersisa. Bukannya tadi aku membuat 17 mangkuk? Kenapa sisa dua? Tidak mungkin salah hitung kan?
"Ben! Ada yang tahu Ben di mana?"
__ADS_1
"Ben? Hei kukira dia ada di sini,"
"Oh, aku tahu. Dasar bocah itu, masih saja sama seperti dulu, masih pelit. Pasti sekarang dia sedang berkencan dengan Clarie, aku jamin itu. Aku akan memberinya pelajaran karena diam-diam berkencan tanpa memberi tahuku dulu," ucap Jonas sedikit kesal, dia meregangkan otot-ototnya, bersiap memberi pelajaran ke adik sepupu tercinta.