
"Sudah kubilang kan Kak, Kak Clarie itu sudah berubah. Tuh, memang dulu dia bisa seramah itu?" ucap Renata tanpa menatap lawan bicaranya, Dean. Mereka sedang berada di balik pintu kamar yang digunakan Ben menginap. Dan itu karena Dean, laki-laki itu masih saja tidak percaya dengan apa yang Renata katakan tentang Clarie.
Tubuh Dean mematung dan matanya membulat saat menyaksikan Clarie mencium kakaknya. "I...itu tidak...mungkin," gagapnya.
"Apa?"
"Baru saja...baru saja Clarie mencium..."
"Minggir," Renata mendorong tubuh Dean sedikit kuat sampai terhuyung. Reaksinya pun sama dengan Dean. "Ayo cepat pergi, dia sedang mengarah ke sini. Cepat, cepat!"
Renata menghela napas, dia menggigiti kuku ibu jarinya. Baru saja, apa itu memang Clarie? Tidak bisa dipercaya Clarie melakukan hal senekat itu, itu pasti orang lain. Setelah berhenti bermain dengan pikirannya sendiri, Renata menoleh ke sebelah kiri. Hampir saja dia melupakan laki-laki itu.
"Kak Dean tidak apa-apa?" seharusnya dia tidak usah bertanya seperti itu. Kondisinya sekarang sudah terlihat sangat jelas, mirip mayat hidup. "Sebentar lagi makan malam, jangan terlihat beda dari biasanya. Mama bisa saja curiga,"
__ADS_1
Pukul tujuh malam tepat, semua orang yang ada di kediaman keluarga Lin sudah berkumpul di ruang makan. Mereka semua memasang wajah yang berseri, terkecuali Renata dan Dean. Renata khawatir dengan keadaan Dean, dan Dean masih belum bisa mempercayai apa yang dia lihat.
"Bagaimana perasaanmu setelah menjadi seorang pemimpin di perusahaan? Apa terasa sulit Renata?"
"Oh! Uhm, itu aku masih menyesuaikannya. Lagipula ada Papa dan Kak Dean yang membantuku,"
"Hahaha, Kak Dean? Seharusnya kamu panggil dia suami dong. Kalau Dean marah, mukanya ngeri banget lho," tawa canggung keluar dari mulut Renata dan Dean.
Ulang tahunnya kali ini adalah ulang tahun yang terburuk selama Renata hidup. Berulang kali dia meruntuki sikapnya yang bodoh saat menanggapi ucapan Clarie. Dan parahnya lagi, rencananya tidak akan berhasil. Dia sedang menghadapi Clarie yang lain, bukan Clarie yang dulu. Dia juga harus menenangkan Dean.
"Pa, Ma, kami pamit ya. Terima kasih untuk hari kemarin," ucap Clarie sebagai ucapan perpisahan. Lebih tepatnya lagi berpisah untuk sementara waktu saja, karena Clarie percaya beberapa hari atau minggu lagi mereka akan bertemu kembali.
Kris dan Nita tersenyum, mereka merasa senang. Akhirnya Clarie kembali memanggil sebutan mereka yang dulu.
__ADS_1
Langit yang terlihat cerah di pagi hari yang menyenangkan. Clarie mendapat satu hari untuk beristirahat, berarti dia libur hari ini. Dia sudah tidak sabar kembali ke kasur yang empuk dan tertidur. Perjalanan mereka cukup panjang, membuat Clarie sedikit bosan. Gadis itu ingin cepat-cepat sampai dan mengecek apa ada notif yang masuk. Semoga saja tidak ada yang dia lewatkan.
"Ben," panggil Clarie.
"Jangan lakukan apapun di dalam perjalanan. Nyawa kita bisa saja terancam jika kamu melakukan hal-hal yang aneh Clarie," peringatan yang keluar dari mulut Ben dan sebuah bukan jawaban. Dan pria itu mengucapkannya dengan penuh penekanan.
"Okay, okay, seperti apa yang bos perintahkan,"
Beberapa menit kemudian Clarie, Ben, dan Daisy sampai di rumah. C, nanti malam pukul sembilan kita akan berkumpul di Vic's Bar. Aku sudah memilih beberapa tugas, dan kita akan menjalankannya mulai nanti. Aku akan menjelaskannya nanti. Selamat bertemu nanti.
Tugas baru, tantangan baru. Sangat menarik! "Oh iya, aku harus menyerahkan surat pengunduran diri. Hampir saja lupa,"
"Kenapa ingin mengundurkan diri?"
__ADS_1
Clarie berbalik, Ben ada di dekat pintu kamar dengan dahi berkerut. "Kenapa? Mungkin aku sudah bosan dengan pekerjaannya. Ayolah Ben, aku ingin meregangkan otot-otot yang kupunya,"