Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
39. Menyusahkan


__ADS_3

Di ruang itu hanya terdapat dua orang laki-laki yang usianya terpaut cukup jauh. Mereka sedang menikmati makanan yang baru saja mereka pesan, keheningan menyelimuti ruangan itu ditemani sinar matahari yang menembus kaca jendela. Kring Kring Kring!


"Angkat panggilannya," titah Leon ditambah dengan tatapan tajam yang dia berikan kepada laki-laki di depannya. Dean terlihat sangat keberatan dengan perintah yang dia terima. "Angkat panggilannya atau kamu tidak lagi bisa tinggal di apartemen ini,"


Dengan malas Dean menjawab panggilan itu, jika bukan karena diancam akan diusir dari apartemen Leon, Dean tidak akan menuruti perintah itu. "Halo,"


"Kak Dean, Kakak ke mana saja? Sudah tiga minggu Kakak tidak pulang ke rumah, Papa dan Mama khawatir Kak. Renata ingin Kak Dean pulang," suara Renata masih terdengar walaupun Dean sudah menutup kedua telinganya. Adik kekasihnya ini sangat merepotkan, seperti bocah, dan cerewet.


"Udah yang ngomong?" Tuts! Tanpa persetujuan dari Renata, Dean mematikan panggilan secara sepihak. Leon menatap Dean dengan alis terangkat. "Apa?!" tanya Dean sedikit kasar.


Marah, kalau Dean sudah marah dia tidak bisa mengendalikan diri. Leon tetap diam sampai emosi Dean stabil, bisa-bisa dia disembur kalau angkat bicara sekarang. Lama-lama dia bisa memahami perasaan Dean, tiga minggu sudah cukup untuk membuat dirinya mengerti. Namun menurutnya Dean adalah laki-laki bodoh dan lemah. "Sudah lebih baik?" tanya Leon, kemudian Dean menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dasar bodoh, seharusnya kamu itu menyangkal di awal-awal. Jadinya kan tidak akan seperti ini, bisa-bisanya kamu mau menikah dengan Renata. Padahal kamu suka Clarie,"


"Yah kan aku dijebak Kak, pantas lah kalau akhirnya jadi begini. Tapi masih ada kesempatan kan? Masih ada kesempatan untuk membalikkan keadaan seperti dulu lagi kan?"


"Yakin? Tidak mungkin, Clarie sudah berubah. Tidak ada kesempatan untukmu,"


......................


"Batalkan semua jadwal hari ini, undur menjadi besok,"


"Baik, semoga hari Anda menyenangkan,"

__ADS_1


Leon tidak peduli lagi dengan omelan yang akan dia terima setelah ini, karena dia harus segera menemui Dean di club malam milik Ben. Tidak disangka Dean nekat datang ke sana. Tapi ini semua juga karena mulutnya yang tidak bisa dijaga saat bicara, menyusahkan saja. Demi apapun, Leon paling tidak nyaman dengan orang yang nekat, seperti Dean. Ditambah lagi ini adalah kali pertama Dean datang ke tempat semacam itu, dasar bocah.


"Sebentar lagi aku sampai, tetap tunggu di dekat pintu masuk. Jangan berani-beraninya kamu masuk ke tempat itu sendirian," Leon mengirim pesan suara ke Dean. Ini menyusahkan, sangat menyusahkan, dia pikir dia bisa pergi sendirian???!!!!


Setelah sampai, Leon berjalan mendekati Dean di dekat pintu masuk, dan dia menggerutu melihat wajah sumringah Dean. Jika bukan di tempat umum Leon pasti sudah mencekiknya, jengkel sekali melihat wajah senangnya itu. Dean pikir Leon itu kakaknya yang selalu ada untuk menolong di kala sulit? Maaf saja, tidak tertarik.


"Ayo masuk, awas saja kalau kamu berbuat seperti ini lagi. Tidak ada tempat tinggal, tidak ada makanan, dan tidak ada bantuan," setelah memberikan ancaman itu, Leon membuka pintu dan masuk, kemudian diikuti oleh Dean.


Suasana yang asing bagi Dean dan suasana yang bersahabat bagi Leon. Dengan kuat Dean menarik lengan Leon, dia baru saja menemukan tempat kosong.


"Hei kalian berdua, itu tempat kami. Pergi cari tempat yang lain atau kami hajar,"

__ADS_1


__ADS_2