Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
45. Berita


__ADS_3

Seharian menonton berbagai film horor bukan hal yang menyenangkan, tapi itu sangat menantang. Pukul 21.00, Clarie, Ben, dan Leon sudah meninggalkan bioskop. Mereka akan mampir ke cafe langganan Clarie dan Leon.


"Apa ini adalah sebuah tradisi bagi kalian? Setiap hari terus datang ke sini, memesan menu yang sama, dan mungkin akan membicarakan hal yang sama juga?" tanya Ben kesal. Seharian melihat Clarie dekat dengan Leon terasa sangat memuakkan.


Pelayan datang membawa pesanan, dan untuk beberapa saat tidak ada yang ingin berbicara. Leon terus menatap Ben dengan senang, wajah cemburunya itu terlihat lucu. Kalau diingat-ingat, dulu Ben tidak pernah berekspresi seperti ini. "Clarie, boleh aku ikut kamu nanti?" tanya Leon kemudoan dibalas anggukan oleh Clarie.


Mata Ben membulat, tidak percaya, benar-benar tidak bisa dipercaya. Dia memandang tajam Leon dan Clarie secara bergantian. "Hello? Apa kehadiranku di sini tidak pernah kalian rasakan? Kenapa kalian tidak mengajakku mengobrol? Oh! Atau kalian memang membuatku kesal supaya kalian bisa melanjutkan berkencan?"


Clarie melirik Ben sekilas. "Entahlah Ben, lama-lama aku terlalu malas menanggapimu. Suasana hatimu yang sedang buruk itu membuatku tidak terlalu nyaman," ucap Clarie.


"Itu semua kan gara-gara kamu sendiri,"


"Maksudnya? Kapan aku..."

__ADS_1


"Aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan Leon," Ben merasa gugup saat mengatakannya. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia bisa ketahuan kalau sedang cemburu. Jangan sampai Clarie tahu!


"Oh,"


......................


Tok Tok Tok! Tok Tok Tok! Pintu berkali-kali diketuk oleh Ben, kesabarannya tidak tersisa sedikitpun. Hari ini hari yang buruk untuk dirinya, kasihan sekali. "Riko itu sedang apa sih?! Tanganku sudah sakit dari tadi gara-gara mengetuk pintu keras ini. Sialan!" umpat Ben sambil menendang pintu rumah Riko.


Cklek! Pintu itu terbuka menampilkan sang pemilik rumah, Riko. Riko tersenyum lalu mempersilahkan Ben masuk. "Mau minum apa?" tanya Riko.


Beberapa saat kemudian, teh hangat sudah ada di depan Ben. Namun Ben hanya menatapnya tanpa berniat untuk meminum teh yang sudah dibuatkan Riko. Riko yang bisa menebak suasana hati Ben memberanikan diri untuk bertanya. "Masalah Clarie lagi?"


"Iya, dia dan Leon makin hari jadi semakin dekat. Aku kesal melihat mereka tambah akrab," jawab Ben tanpa mengalihkan pandangannya. Hah, moodnya hancur berkeping-keping. Tapi tidak dengan Riko, dia malah bersemangat.

__ADS_1


"Kamu cemburu Ben?!" tanya Riko dengan antusias. Ben menggelengkan kepalanya. "Ayolah, kamu itu sedang cemburu jangan menyangkalnya Ben. Kamu tahu? Aku dan April bisa membantumu,"


"Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya,"


Riko memilih menyalakan televisi untuk menghilangkan suasana canggung. Sesekali Riko juga melirik ke arah Ben, raut wajahnya belum berubah dari tadi. Berita kali ini tentang pembunuhan yang terjadi di gang kecil, mayatnya ditemukan di dalam gang dengan luka tusukan di bagian perut.


"Beberapa hari yang lalu juga ada korban, korbannya juga ditusuk di perut. Aku rasa pelakunya sama, bagaimana menurutmu? Korban yang sekarang juga ada hubungan yang dekat dengan korban sebelumnya,"


"Sepertinya si pelaku memang mengincar,"


"Iya lah, siapa juga yang iseng bunuh orang?"


"Polisi belum menemukan pelakunya? Sampai sekarang?"

__ADS_1


"Pelaku kali ini benar-benar keren Ben. Jika kamu tahu, hampir tidak ada petunjuk,"


__ADS_2