Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
34. Riko


__ADS_3

Clarie lelah karena seharian terus berada di ruangannya, bukan hanya badannya yang lelah, tapi pikirannya juga. Dia tidak bisa fokus karena Riko ada di ruangannya. Kalaupun Riko bekerja, Clarie masih bisa fokus, tapi Riko tidak bekerja dan malah mengusik Clarie dengan pertanyaan yang dia ulang.


"Riko, bisakah kamu kembali ke ruang sebelah dan menyibukkan diri? Seperti kembali bermesraan dengan kekasihmu?" tanya Clarie dengan nada yang kesal. Namun Riko malah tersenyum bahagia dan kembali bertanya, "Kamu sibuk malam ini?"


Laki-laki ini benar-benar sudah gila, sangat gila. Clarie tidak menyangka Ben berteman dengan orang yang menjengkelkan, banyak bicara, dan mesum. Di kantor Riko sangat jarang bekerja dan sebagian besar waktunya dia habiskan untuk hal-hal bodoh bersama dengan karyawan kantor. Satu hal yang menjadi keuntungan bagi Riko dan malapetaka bagi orang lain, Riko sangat pandai merayu. Entah itu merayu wanita ataupun merayu seorang pria. Clarie bergidik saat melihat Riko merayu orang.


"Hei, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa membujuk Ben untuk bekerja di sini. Terlebih lagi pekerjaanmu saat ini juga cukup penting," pernyataan yang Riko katakan memang terdengar biasa saja, sama saat seseorang menyatakan ini dengan sedikit keingintahuan. Namun tatapan matanya berbeda, tatapan mata yang diberikan Riko saat ini menanyakan seberapa hebatnya kamu saat melayani Ben?


"Maaf tapi aku tidak mau menjawabnya Riko, jika kamu ingin tahu tanyakan saja pada bos sekaligus temanmu itu. Dia tahu apa yang dia lakukan dan dia pasti memiliki alasan. Ngomong-ngomong, Ben ingin semua berkas yang sudah menumpuk selama empat hari ini segera kamu kerjakan, karena malam ini aku harus membawanya ke dia. Maka dari itu, keluar dari ruanganku, kerjakan tugasmu, kemudian serahkan. Paham?"

__ADS_1


"Bisakah kamu menemaniku mengerjakannya Clarie? Lagipula kita nantinya juga akan..."


"Tidak, kerjakan sendiri," Clarie menatap Riko dengan tajam sampai Riko hilang dari pandangan matanya. Orang yang merepotkan.


Sementara itu, Riko yang berada di dalam ruangannya tidak bisa berhenti memikirkan Clarie. Sikapnya mengingatkan sikap Ben dulu saat pertama kali berkenalan, pedas dan menghujam hati, tapi mampu menarik orang lain. Ben dan Clarie diibaratkan seperti magnet. "Sayang, kenapa dari tadi kamu senyum-senyum sendiri? Kamu punya wanita lain ya! Ayo ngaku!"


"Sudah, sudah. Kerjakan dulu pekerjaanmu, lalu kita bahas rencanamu itu," ucap April.


......................

__ADS_1


Sore datang, saatnya untuk kembali ke rumah masing-masing. Clarie berada di halte, menunggu bus yang digunakannya untuk kembali ke rumah. Hari yang melelahkan, sebelumnya dia belum pernah bekerja sampai secapek ini, sangat menguras tenaga dan membuatnya cepat terlelap saat sudah bertemu dengan tempat tidur.


"Clara!" Clarie menengok ke arah perempuan yang memanggil nama samarannya, perempuan itu adalah April. Clarie tersenyum kemudian berkata, "Ya, ada apa April?"


"Ayo pulang bersama kami,"


"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan kalian dan, mengganggu waktu kalian," tolak Clarie.


"Ayo naik saja, kebetulan aku juga ingin mengunjungi Ben. Sudah lama sekali tidak melihatnya,"

__ADS_1


__ADS_2