
Clek! Ben menutup pintu rumah, baru saja ada kurir yang mengirim barang pesanan. Akhir-akhir ini Clarie mulai membeli sesuatu, tapi tidak ada yang tahu apa yang dia beli. Setiap bertanya tentang barang apa yang dia beli, Clarie akan mengalihkan topik atau diam saja. Patut dicurigai, tapi mungkin saja ini barang yang penting. Ben meletakkan kardus yang baru saja dia terima di meja, kemudian berjalan ke kamarnya.
"Ben aku pulang!" Ben berbalik saat mendengar suara Clarie. Gadis itu tidak pulang sendiri, dia bersama Riko dan April. Clarie nampak frustrasi dan sebal, dia melangkahkan kaki lebar-lebar dengan muka yang marah. "Ini barang yang kamu inginkan," kata Clarie sambil menyerahkan setumpuk kertas ke telapak tangan Ben. Ben menerimanya dengan senyum simpul. "Terima kasih, apa kamu memesan barang lagi?" tanya Ben.
Clarie mengangguk, ada rasa cemas di tatapan matanya. Kenapa setiap ditanyai tentang barang yang Clarie beli gadis itu selalu merasa khawatir? "Paketnya ada di atas meja. Aku harap itu bukan barang-barang yang aneh,"
Dari kejauhan Riko dan April mengawasi Clarie dan Ben. Sungguh, di mata mereka kedua orang itu sangat mirip dari segi sifatnya, tidak banyak bicara dan datar. Mirip besi. Riko memandang ke sekelilingnya, suasana yang masih seperti dulu, tidak pernah berubah dan tetap dipertahankan. Lampu yang sama, meja yang sama, kursi yang sama, dan beberapa perabot lain. Tapi kenapa Riko sedikit merasa terganggu? Ada yang aneh.
"Kakak!" Prang! Semua orang terkejut dengan suara teriakan dan barang yang baru saja pecah. Ben menatap Clarie dengan waspada, matanya mengisyaratkan untuk berhati-hati.
__ADS_1
"Ben, suara siapa itu tadi?" Riko bertanya dengan tatapan was-was, berada di rumah ini memang tidak sepenuhnya terjamin selamat.
Di rumah ini hanya ada Ben, Martin, dan Lena. Sejak tadi tidak ada hal yang mampu membuat ketiga orang itu curiga dengan hal barusan, penyusup. Ben tidak menyangka akan ini, dia meletakkan tumpukan kertas tadi di dalam lemari terdekat dan segera mengambil alat pemukul. Ben berlari duluan ke asal suara tadi, kemudian Riko menyusul Ben, dia membawa pisau dapur untuk berjaga-jaga.
"Sembunyi di dalam mobil, jangan perlihatkan sosokmu sampai Riko datang ke sana. Rumah ini tidak aman," ucap Clarie memerintah April untuk segera kembali ke dalam mobil. Ini salah satu tugasnya, salah satu dari perjanjiannya dengan Ben yang sudah dia sepakati. Melindungi anggota keluarga dan rumah mereka.
"Sudah selesai?"
"Belum, sebentar lagi,"
__ADS_1
"Tidak kusangka mereka sangat lemah, padahal orang-orang bilang kalau keluarga Xiao itu kuat. Dan lihat sekarang, mereka sudah pingsan hanya dengan beberapa pukulan dan tambahan serangan,"
"Stt, kecilkan suaramu. Bisa saja ini jebakan,"
"Jebakan? Yang benar saja, tidak ada...Arrgh!!" laki-laki itu berteriak kesakitan saat benda kecil itu menacap di kakinya, sebuah jarum. Jarum itu berasal dari Clarie, kemudian Clarie menyerang laki-laki yang lain. Sama seperti tadi, suara teriakan kesakitan terdengar jelas dan terdengar seperti sebuah melodi di telinga Clarie.
Ben dan Riko menatap Clarie dengan takjub, takut, dan kaget. Mereka belum pernah melihat senjata yang itu sedekat ini, senjata yang saat ini berada di tangan Clarie, sebuah senapan.
"Hei Ben, kamu tahu kalau Clarie bisa menggunakan benda semacam itu?"
__ADS_1