
Tok Tok Tok! "Clarie, kamu sudah bangun? Ayo sarapan!" Panggil Nita tepat di depan pintu kamar putrinya. Biasanya dia akan langsung masuk ke dalam kamar untuk membangunkan Clarie, tapi sekarang dia tidak bisa melakukannya, pintu dikunci dari dalam. "Clarie?"
"Pagi Ma," Clarie membuka pintu kamarnya, senyum lebar terpampang jelas di wajahnya. Nita terkejut dengan apa yang dia lihat. Sekarang Clarie mengenakan setelan baju kantor.
"Nak, kamu ingin kemana? Kenapa berpakaian rapi seperti itu?" tanya Nita. Namun hanya senyuman yang dia dapatkan.
Clarie berjalan mendahului mamanya, tidak peduli dengan apa yang ditanyakan. "Selamat pagi," sapanya, kemudian menarik kursi dan duduk di depan meja makan, tangannya sibuk memindahkan hidangan di meja makan ke piringnya. Renata tidak suka dengan sifat Clarie yang sekarang, dia menjadi lebih percaya diri. Apa Clarie pikir dia yang akan mewarisi harta keluarga Lin?
"Kakak mau pergi ke mana? Mengapa penampilan Kak Clarie rapi begini?" Renata tersenyum dan bertanya dengan nada yang polos. Dia harap Clarie tidak akan melakukan hal-hal yang aneh.
"Aku akan pergi ke perusahaan bersama Papa. Katanya hari ini akan ada pertemuan dengan Tuan Bai,"
__ADS_1
"Bukankah Papa bisa pergi sendiri?"
"Renata, kemarin Papa sibuk dengan pernikahanmu. Dia tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya, tidak kah kamu merasa kasihan kepada Papa kita ini? Atau kamu yang ingin menggantikanku?"
Tidak ada jawaban, 1:0 untuk Clarie. Nita dan suaminya saling bertatapan dengan bingung, sudah lama sekali Clarie tidak berbicara sebanyak ini, wajahnya juga lebih cerah. Ini sangat langka, tapi ini juga membut mereka bahagia dengan kembalinya sifat Clarie yang ceria. Clarie membawa piringnya ke tempat mencuci piring, kemudian mencucinya. Setelah itu dia menggendong tasnya. "Aku berangkat dulu ya. Sampai ketemu di ruangan ya Pa,"
"Tidak berangkat bareng Papa saja Clarie?" tidak rela jika putrinya berangkat terlebih dahulu, papa Clarie segera mengakhiri sarapannya. Clarie berbalik, melihat papanya yang terlihat terburu-buru.
"Santai saja Pa, Clarie juga tidak langsung ke perusahaan kok,"
"Ketemu temen,"
__ADS_1
Clarie meninggalkan kediaman Lin, mobilnya berjalan menyusuri jalanan kota. Tidak terlalu padat, tapi ini menjengkelkan. Dia merasa lebih baik, lebih bebas untuk mengekspresikan dirinya, lebih bebas untuk bertindak. Clarie puas dengan ekspresi khawatir yang sempat Renata tampilkan, sangat menyenangkan membuat orang lain ketakutan. Ini yang dia inginkan, sebuah keadilan.
^^^Clarie^^^
^^^Aku sudah sampai, kamu di mana?^^^
Clarie mengirim sebuah pesan ke Ben, memang hari ini dia ada urusan dengan pria itu. Calrie meminta bantuan Ben untuk memberikan profil seseorang, Rebeca. Dari sekian banyak orang-orang yang menindasnya, Rebeca yang paling jarang. Namun walaupun jarang menindasnya, Clarie tidak suka dengan gadis itu. Dia bermuka dua, Rebeca hanya ingin dekat dengan Renata saja. Dia mengincar hartanya juga, tentu Rebeca sangat iri dengan Diva.
Renata adalah sahabat baik Diva, dia memberikan barang-barang mahal untuk sahabatnya itu. Hanya Diva.
Tok Tok! Ben mengetuk kaca mobil, dari dalam Clarie bisa melihat benda yang dibawa oleh Ben. "Ayo masuk, kita bicara di dalam," perintah Clarie.
__ADS_1
"Ini, data tentang Rebeca," Ben menyerahkan flashdisk yang dia bawa. "Kenapa kamu meminta datanya? Apa kamu akan mulai balas dendam?"
"Entahlah, aku belum memikirkannya. Tapi aku yakin aku akan balas dendam...cepat atau lambat itu akan terjadi. Aku akan melakukannya,"