
Hari itu adalah hari Minggu, hari yang tepat untuk beristirahat atau menikmati waktu luang yang banyak. Namun itu tidak berlaku untuk Ben. Dia sedang bekerja di dalam kamarnya, tapi ada Clarie yang menemani. Ben meminta Clarie untuk menemaninya, supaya dia bisa terus mengawasi gadis itu.
Dagu Clarie diletakkan di atas telapak tangannya, matanya terus melihat ke arah Ben. Lebih baik dia mengutak atik handphone daripada harus memandangi wajah laki-laki itu. Namun, apa boleh buat karena Ben melarang Clarie membawa handphone ke dalam kamarnya. "Hari Minggu sama sekali tidak cocok untuk bekerja," ucap Clarie.
Ben tidak berkomentar sedikit pun atas apa yang baru saja Clarie katakan. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya hari ini, kemudian mengurus hal yang lain. "Ben, biasanya kamu akan menanggapi perkataanku. Kenapa sekarang tidak?"
"Diam, aku sedang bekerja,"
"Kalau aku mengganggu, seharusnya kamu tidak memintaku untuk di sini,"
"Kita akan membahasnya nanti,"
Clarie tersenyum miring mendengar balasan Ben. Benar-benar ingin memukulnya. Gadis itu membenamkan wajahnya dan memejamkan matanya, hal yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah tidur. Dia tidak mau mati kebosanan gara-gara menunggu Ben menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.
Beberapa jam kemudian, Ben membereskan mejanya. Pekerjaan yang sempat dia tunda sudah selesai, pekerjaan yang baru datang juga. Dia melirik ke tempat Clarie, gadis itu sedang tidur. "Dasar bodoh,"
__ADS_1
"Kamu mengatai aku bodoh? Hoam...Kamu sangat jahat, padahal waktu luang yang kupunya sebagian besar terkuras olehmu, Ben," Clarie meregangkan otot-ototnya, lalu menguap. Rupanya rasa kantuk belum juga hilang.
"Salah siapa kamu tidur, lain kali jangan tidur di sembarang tempat. Apalagi dihadapan pria, kamu mengerti kan?"
"Hahaha, anak kecil juga mengerti hal ini Ben. Oh iya, hari Rabu, ayo kita ke sebuah pesta. Kebetulan sekali ada yang mengajak kita,"
Ben mengangkat satu alisnya. "Siapa? Leon?"
"Bukan, Renata dan Dean. Yah, karena besok Rabu adalah hari yang lumayan berharga. Ulang tahun Renata, dan kupikir mereka akan mengadakan pesta itu seperti mereka mengadakan sebuah...yah kamu tahu?"
"Jangan berekspresi seperti itu, ada kami. Dan kamu tidak perlu menahan semua beban yang ada sendirian," ucap Ben berusaha menghibur.
"Baik, terima kasih. Pekerjaanmu sudah selesai kan? Berarti aku bisa keluar dari sini, Nenek sedang menunggu. Ada yang ingin dia bicarakan," Clarie berdiri dan berjalan menjauh. Tapi dia berhenti, kemudian berjalan mendekat. Dia memeluk Ben dan mengecup pipi laki-laki itu singkat. "Terima kasih, kamu memang teman yang baik,"
......................
__ADS_1
Clarie masuk ke dalam kamar nenek Ben, jarang sekali dia dipanggil oleh nenek itu. Setelah menutup pintu, dia duduk di kursi dekat tempat tidur. "Ada apa Nenek memanggil saya? Jarang sekali Anda memanggil saya,"
Aleeza yang tadinya sibuk membalik lembaran kertas mengalihkan pandangannya ke Clarie. "Masih ingat kan? 28 Agustus, tapi kukira itu terlalu lama,"
"Apa maksudnya terlalu lama?"
"Aku akan memajukannya, bagaimana kalau dua bulan lagi?"
"Nenek, kenapa Anda seenaknya memutuskan? Katakan secara langsung, saya bingung apa yang dimaksud oleh Anda,"
"Aku memintamu untuk menikah dengan Ben, dan tidak ada penolakan,"
"Tapi..."
"Sudah kubilang tidak ada penolakan,"
__ADS_1