
Di dekat pintu masuk aula terdapat segerombolan orang yang sedang berkerumun. Mereka mengerumuni salah seorang pria yang memiliki perubahan yang drastis, begitulah pikir mereka. "Hei Leon! Oh maaf, maksud saya Tuan Muda Bai. Senang bertemu dengan Anda," ledek salah seorang di kerumunan itu. Leon menanggapi dengan senyum canggung. Leon bingung bagaimana caranya agar dia bisa kabur dari teman-temannya, bukan, mantan teman sekelas. Masa kuliah Leon sangat suram, berbeda dengan sekarang yang lebih cerah. Dia korban perundungan di kampus hanya gara-gara penampilannya yang biasa saja dan sedikit gendut.
"Leon kamu sudah punya pacar?" tanya seorang gadis yang berjarak satu meter darinya. "Tidak,"
"Apa kamu sudah bertunangan?"
"Belum,"
Meski sudah berubah, tapi sifatnya yang rendah diri masih ada jika berada di kerumunan orang yang menghiasi masa lalunya yang suram. Bersikap canggung, senyuman yang canggung, menjawab pertanyaan yang ditanyakan, walaupun dia tahu bahwa orang-orang itu hanya sedang menarik perhatiannya saja dan mengincar barang berharganya.
Clarie yang baru saja melangkah masuk sudah mulai terganggu dengan suara dari kerumunan itu, padahal musik yang diputar sudah sangat keras. Tapi ketika telinganya menangkap kata 'Tuan Muda Bai', dia menjadi teringat dengan proposal. "Permisi tuan, bisakah Anda mengantarkan saya sampai ke pusat kerumunan ini?" tanyanya kepada salah seorang laki-laki, dan dengan mudahnya sekarang dia sudah sampai di depan Tuan Muda Bai.
__ADS_1
"Halo, senang bertemu dengan Anda lagi. Bisa kita bicara sebentar?" katanya. Pria itu mengangguk dan meninggalkan orang-orang yang mengerumuninya. "Terima kasih," ucap pria itu.
"Bisakah kamu tidak menerima proposal yang diajukan oleh L Group?"
"Maaf, tapi tadi siang baru saja aku setujui,"
"Batalkan!"
"Hei hei, tunggu sebentar. Siapa kamu? Dan apa hubunganmu dengan L Group? Dan kenapa kamu seenaknya menyuruhku?"
"Kak Clarie!!" Clarie dan Leon mendengar panggilan seseorang. Renata, dia mendekat ke arah mereka dan dia tidak sendirian. Renata bersama dengan Dean dan kedua orang tua Clarie. Clarie melihat ke arah orang tuanya, ada rasa kebahagiaan ditatapan mata mereka.
__ADS_1
Nita sangat bersyukur bisa kembali melihat putrinya, apalagi dia dalam keadaan yang baik. Nita segera mendekat ke Clarie dan memeluk erat tubuh Clarie. "Clarie, Mama bersyukur bisa bertemu denganmu lagi nak. Ngomong-ngomong, di mana kamu tinggal selama dua hari ini?" tanya Nita masih memeluk tubuh Clarie.
"Ke tempat yang lebih baik, di mana orang-orang di sana memperhatikanku dan tidak pilih kasih," Clarie menjawab dengan nada datar. Jawaban yang Clarie berikan membuat Nita perlahan melepaskan pelukannya, kemudian matanya menatap mata Clarie. Betapa cantiknya dia hari ini, tapi tatapan matanya terlihat tajam.
"Clarie, lihat, ini kalungmu nak. Mama sudah membawanya ke toko dan memperbaikinya untukmu, Mama tahu kamu sedang bercanda bukan?" ucap Nita, dia mengalungkan kalung yang sempat dirusak oleh putrinya.
Setelah kalung itu melingkar di leher Clarie, Clarie menyentuhnya. Kalung yang sama, tapi bukan barang yang baru. "Sebesar inikah rasa sayang kalian? Kenapa kalian tidak membelikan Clarie kalung yang baru?"
"Kalung ini masih bisa diperbaiki, maka dari itu kami membawanya ke toko untuk diperbaiki. Ini kan kalung kesukaanmu?"
"Jelas ini adalah kalung kesukaan Clarie karena Clarie hanya memiliki kalung ini saja," Clarie melepas kalungnya dan mengembalikan ke Nita. "Ini, Clarie sudah tidak mau menerimanya lagi. Clarie bukan bagian dari keluarga kalian sekarang. Hiduplah sebahagia yang kalian inginkan, Clarie hanya udara di keluarga kalian,"
__ADS_1
"Tuan Bai, mari kita kembali ke dalam aula. Masih banyak hal yang ingin saya bicarakan," lanjut Clarie, kemudian pergi meninggalkan keempat orang yang baru saja datang.
Kesempatan tidak datang dua kali, seperti sebuah nyawa kehidupan. Hanya ada satu nyawa, jika nyawa itu hilang maka akan sangat tidak mungkin untuk kembali hidup.