Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
40. Berkelahi


__ADS_3

"Hei kalian berdua, itu tempat kami. Pergi cari tempat yang lain atau kami hajar,"


Dean berhenti, lalu mengarahkan pandangan ke laki-laki yang memakai jaket kulit. Dean menebak mereka adalah geng motor, dilihat dari cara mereka berpakaian itu sudah jelas. "Maaf tapi aku melihatnya lebih dahulu, berarti ini tempatku dan berarti kalianlah yang harus pergi mencari tempat lain," kata Dean meniru gaya bicara laki-laki itu.


Mereka mendengus dan tertawa sembari memandang satu sama lain. Lalu kembali menatap Dean dengan garang, jarak antara laki-laki itu dengannya mulai menipis. "Hei bocah, aku tahu kalau kamu memang kaya. Namun bukan berarti kamu bisa mendapatkan semua yang kamu inginkan dengan harta kekayaan yang kamu miliki. Di sini tidak pernah berlaku hal semacam itu.


Sekaya apapun kamu, kami tidak akan pernah mundur. Karena memang tempat ini sudah kami pesan sejak kemarin," gertak laki-laki itu.


"Kamu pikir aku takut?! Ayo sini maju kalau memang kekayaan itu tidak berguna," Dean menyiapkan kuda-kuda dan tangannya yang sudah mengepal berada tepat di depan mukanya. Laki-laki itu tersenyum, senyumnya mengejek. Dia pikir bocah yang baru saja keluar dari perlindungan orang tuanya ini bisa semudah itu menghadapi dunia luar? Dia sedang bermimpi.

__ADS_1


Dia melayangkan satu pukulan dan tenaga yang tidak terlalu kuat, dia percaya pukulan itu sudah sakit untuk bocah sok hebat di hadapannya. Namun sayangnya, pukulan itu tidak mendarat di wajah Dean. Pukulan itu mendarat di wajah Leon. Leon ingin menghentikan ini, tidak baik jika berkelahi di tempat umum.


"HEI! Kamu juga ingin sok hebat ha?!"


Perkelahian itu mengundang perhatian banyak orang, meski orang-orang menonton mereka dari jarak jauh. "Ada yang berkelahi di sana, apa mereka baru saja memperebutkan gadis?" ucap Clarie. Jarang sekali ada yang berkelahi di sini. "Aku pergi ke sana dulu ya Ben, mungkin mereka membutuhkan kotak ini,"


Clarie mendekat, tempat itu berada di meja yang sudah dipesan oleh Ivan. Clarie bertanya-tanya apa yang menjadi permasalahan sampai Ivan harus berkelahi. Padahal gertakkannya saja sudah cukup membuat orang takut.


"Ivan berhenti memukul! Dan kalian silakan lanjutkan menikmati malam yang masih tersisa," perintah Clarie.

__ADS_1


Ivan menatap Leon dengan bengis, terlihat ingin mencabik-cabik dan memakannya. Lalu tatapannya juga Ivan layangkan ke Dean yang terlihat ketakutan tapi juga terlihat senang. Clarie melihat orang-orang di depannya, mencerna hal yang baru saja terjadi. Matanya melihat ke arah Dean. "Ivan, boleh aku ikut duduk? Mereka juga? Apa boleh?"


"Baiklah, baiklah. Hei kalian berdua, khususnya kamu bocah! Kalau saja Clarie tidak datang, aku pastikan akan membuat kalian tinggal di rumah sakit selama satu bulan,"


Clarie tersenyum dan duduk di samping Ivan, matanya memberi isyarat ke Leon untuk duduk di sebelahnya juga. "Ivan, kurasa kamu salah memukul orang,"


"Ya, memang benar aku salah memukul orang. Seharusnya aku memukul bocah itu,"


"Ya, benar sekali," setelah itu tidak ada yang bicara. Anak buah Ivan sibuk mengobati Ivan, dan Clarie sibuk mengobati Leon. Terlalu banyak luka di wajah, terlalu lama untuk mengobati, dan terlalu lama jarak antara Clarie dan Leon sangat tipis sampai-sampai Leon harus menahan napasnya.

__ADS_1


Ini terlalu dekat, dan dia bisa melihat dan merasakannya dengan jelas. Wajah dan bibir yang mungil, mata yang sedikit sipit dengan tatapan sayu, dan aroma parfum maskulinnya yang kuat. Ini tidak baik, tidak baik untuk Leon dan tidak baik juga untuk kedua laki-laki lain yang sedang dibakar oleh api kecemburuan.


__ADS_2