Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
74. Sean?


__ADS_3

"Hei, mau apa kamu duduk di jendela? Mau bunuh diri?" tanyaku kepada sosok pria yang sedang asik menatap langit malam.


Dia menoleh ke arahku dan tersenyum, dia sangat berbeda dengan Nic yang pertama kali kutemui, pendiam. Ya, dia sudah mengaku kalau dia adalah Nic. Nic adalah nama samarannya.


"Ya? Kenapa bunuh diri? Aku hanya ingin melihat langit malam saja," jawabnya. Nic sialan, amarahku belum reda tahu! "Kamu tidak tidur? Ini sudah pukul dua pagi,"


"Tidak bisa tidur," jawabku singkat. "Aku kan belum tahu apa tujuanmu kemari! Mana bisa aku tidur, bodoh," Nic terkekeh saat aku menonjok pelan lengannya. Matanya menatapku dalam, seperti dia bisa memasuki pikiranku dan mengetahui apa yang sedang kupikirkan sekarang.


Dia berpindah, ke kursi dekat tembok. Lalu kakinya disilangkan. "Tanyakan saja pada kedua orang tuamu besok. Lalu sekarang kamu istirahat saja, kebetulan aku tidak berniat tidur malam ini," katanya.


Alisku terangkat sebelah. "Sudah kubilangkan aku tidak bisa tidur, kamu belum menjawab pertanyaanku secara langsung,"


"Wah, terima kasih sekali mau menemaniku begadang malam ini. Aku sungguh terharu," dan ya, itu adalah percakapan terakhir sebelum kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku yang sibuk mengobrol dengan Damian melalui chat, dan Nic yang sibuk dengan ponselnya. Dia terlihat mirip seperti Damian, suka menghabiskan waktu di depan benda pipih itu.

__ADS_1


Pagi datang, matahari menyambut kamu dengan sinar yang menghangatkan tubuh. Aku meregangkan tubuh dan segera mandi. Setelah mandi, aku mendapati Diva yang sudah ada di dalam kamar. "Selamat pagi Kak Clarie," sapanya. Aku membalasnya dengan anggukan kecil, tanpa tersenyum.


"Kak, hari ini mau ikut aku sarapan? Apa Kak Sean mau ikut?" tawar Diva.


"Maaf tapi aku tidak..."


"Baiklah, ayo Clarie kita sarapan," tanpa seizinku, Nic sialan ini langsung saja menarikku keluar dari kamar. Diva yang sudah berjalan duluan beberapa meter di depan kami, berjalan dengan riang. Permulaan yang suram.


Saat sedang turun ke lantai dasar, kami berpapasan dengan Renata. Dia tersenyum, menyapa mungkin. Diva mengajak kami ke warung mie, letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


"Mie pedas," ucap Diva.


Lalu pelayan menghadap ke aku dan Nic yang berada di sebelahku. Dia ini suka sekali menempel huh? "Dua mie yang tidak pedas. Iya kan Clarie?"

__ADS_1


"Hm, lalu minumnya air mineral saja," ucapku, lalu si pelayan segera menyampaikan pesanan dan melayani pelanggan lain yang mulai berdatangan.


Diva sedikit kecewa, terlihat dari raut mukanya itu. Dia suka jus jeruk, makan apapun minumnya pasti jus jeruk. Dan dia tidak terlalu suka dengan air mineral.


Tiba-tiba satu buah pesan masuk, segera aku mengeceknya. Itu dari Ben, tempat sudah disiapkan. Diena dan yang lain akan membantu.


Wah, baru saja kemarin aku bilang. Sekarang sudah siap, tapi baguslah. Aku jadi tidak membuang-buang waktu, baguslah kalau begitu. Bersamaan dengan datangnya pesanan, aku menyimpan kembali ponselku dan menikmati makanan. Tak ada percakapan, tak ada hal yang menarik, tak ada kebisingan. Suasana yang bagus.


......................


"Kamu datang sendiri, Ben? Tidak mengajak Alyta?"


"Aku hanya punya perlu denganmu, jadi tak mengajaknya pun tidak apa-apa. Jadi...bagaimana caramu untuk membalaskan dendam?"

__ADS_1


"Yang benar saja kamu bertanya? Kita ini sudah tinggal serumah dalam jangka waktu yang lama Ben, dan kamu tahu bagaimana aku menangani ini,"


__ADS_2