Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
57. Hadiah Di Bawah Bantal


__ADS_3

Pandangan Daisy terus terfokus pada Clarie yang sedari tadi mondar mandir mencari suatu barang. Daisy sempat menawarkan bantuan, tapi Clarie menolaknya dan berakhir dengan duduk seperti orang bodoh.


"Itu di mana? Di mana aku meletakkannya? Di laci tidak ada, di lemari juga, lalu di bawah kasur juga. Di mana sebenarnya aku meletakkan benda itu!!" Clarie mengacak-acak rambutnya frustrasi.


"Tante sedang mencari apa?"


"Bukan apa-apa," kembali Clarie mencari, dia mengulanginya lagi. Laci, lemari, dan seterusnya. Ini sudah sore, dia juga belum mandi dan izin ke Ben untuk keluar nanti.


Sedari tadi siang Clarie mencari barang yang terakhir dia beli, yaitu sebuah kalung. Ini bukan hanya sebuah kalung yang biasa, ada beberapa hal yang berbeda dari kalung yang dijual. Kalung yang dia beli adalah alat perekam suara, maksimal alat itu akan merekam selama lima belas menit dan rekaman itu langsung masuk di handphone khusus yang diberikan untuk misi.


Tidak disangka Clarie menemukan web yang menarik, dan lagi web itu menyediakan pekerjaan dengan bayaran yang cukup tinggi untuk setiap misinya.

__ADS_1


"Mungkin Tante menyimpan barangnya di dalam tas? Bisa saja bukan? Coba dicek dulu," usul Daisy yang sudah bosan melihat Clarie berjalan kesana kemari tanpa henti. Selain itu, Daisy juga kasihan dan merasa bahwa barang yang dicari itu sangat berharga.


Clarie mulai mencari di dalam tasnya, dan benar, kalungnya ada di dalam sana. "Untunglah ketemu, terima kasih Daisy," katanya lalu menyimpan kalung itu di saku celana yang sudah disiapkan untuk nanti. "Kamu sudah mandi Daisy?"


"Sudah,"


"Uhm, ngomong-ngomong hari ini kamu tidak banyak bertingkah, apa ada yang salah denganmu?"


Setelah mandi dan memakai baju, Clarie menuju ke kamar Ben, diikuti Daisy di belakangnya. Pintu diketuk beberapa kali, tapi Ben masih saja tidak membuka pintu. "Apa Pamanmu mengunci pintunya setiap di dalam kamar?" tanya Clarie pada Daisy.


"Tidak, memang ada apa?"

__ADS_1


"Kalau tidak, aku bisa masuk ke dalam sana bukan?"


"Daisy mau ikut! Daisy mau ikut!"


"Tidak," jari telunjuk Clarie bergerak ke kanan dan kiri. "Ini pembicaraan orang dewasa sayang, kamu nggak boleh dengar ya," lagi, Daisy kembali merajuk. Tangan kecilnya disilangkan di depan dadanya. Clarie menggelengkan kepalanya, dan masuk ke kamar.


Dia menutup kembali pintunya dan mengamati pria yang sedang tertidur pulas. Tidak seperti biasanya Ben tidur di sore hari. "Ben bangun, jangan bilang ini adalah caramu untuk menghidari surat pengunduran diriku?"


Ben mengernyit dan membalikkan badannya ke arah yang berlawanan dengan Clarie. Senyum terukir di wajah Clarie, tanpa sengaja Ben membuatnya semakin bersemangat untuk membangunkannya dari tidur sore yang damai. "Ben," Clarie membisikkan nama Ben di telinga pria itu sendiri, tangannya dia letakkan di lengan Ben. "Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, kamu bangun dulu tapi. Kalau tidak bangun aku akan memukulmu,"


"Berhentilah mengganggu Clarie, semalam aku terjaga. Dan sekarang aku sangat mengantuk,"

__ADS_1


"Baiklah, aku meninggalkan hadiah untukmu, ada di bawah bantal. Jangan lupa untuk selalu memakainya, kalau aku sampai tahu kamu tidak memakainya, tamatlah riwayatmu,"


__ADS_2