
"Clarie, bangun, hei ini sudah pukul sembilan. Tidak ingin sarapan?" Ben menarik selimut yang menutupi wajah Clarie. Saat sinar matahari pagi menembus kaca jendela dan jatuh ke wajahnya, Clarie mengernyit. Ini sangat silau. "Hei, ayo bangun," ucap Ben sekali lagi.
Clarie masih mengantuk, pagi ini juga terasa dingin. Keadaan seperti ini lebih tepat untuk bersantai di dalam rumah, menikmati kehangatan yang diberikan tempat tidurnya, dan menonton film atau membaca buku. Tunggu! Film?! "Ben, katakan kepadaku satu kali lagi. Ini pukul berapa?"
"Pukul sembilan tadinya, sekarang sudah pukul sembilan lewat dua menit,"
Rencana untuk bermalas-malasan tidak jadi, karena hari ini Clarie ada janji. Menemani Leon menonton film horor, katanya laki-laki itu sudah membeli tiket, dan film pertama dimulai pukul 09.45. Clarie segera mengambil handuk dan bergegas mandi, dia akan terlambat, dia akan terlambat. Sedangkan Ben, dia merapikan tempat tidur Clarie dan menyiapkan pakaian yang akan dipakai.
__ADS_1
"Baju sudah aku siapkan, aku tunggu kamu di dapur untuk sarapan," kata Ben.
"Baik, terima kasih Ben,"
Tidak seperti biasanya Clarie tergesa-gesa seperti ini. Apa ada hal penting? Kenapa perasaanku tidak enak ya? Ben terus memikirkan hal yang mungkin akan Clarie lakukan hari ini, tapi dia juga sedang memikirkan kenapa dirinya hari ini sangat cemas? Sepertinya Clarie akan bertemu dengan seseorang hari ini, dia jadi sibuk setiap hari.
Hari yang berbeda, suasana yang sama, pekerjaan yang sama, dan bertemu dengan orang yang sama. Itu adalah hal yang membosankan, Riko ingin sekali mengajukan cuti beberapa hari. Namun dia tidak berani mengatakannya kepada Ben, karena temannya itu keras kepala dan mulai tidak bisa memahami perasaan seseorang. Setiap hari dia harus berkali-kali menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan untuk menghilangkan rasa kekesalannya.
__ADS_1
"Riko! Perempuan itu tidak datang lagi ke kantor?! Apa dia sekarang sudah dipecat atau mengundurkan diri? Jawab hei, aku sudah menanyakannya sejak kemarin," Alyta muncul dari balik pintu, tanpa mengetuk pintu dan memberi salam terlebih dahulu.
"Tolong biasakan dirimu untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruanganku, dan memberi salam. Aku sudah malas melaporkan semua tindakanmu yang kekanakan ke Ben,"
Pintu ditutup oleh Alyta dengan kasar sehingga membuat suara yang cukup keras dan berisik. Alyta adalah sumber masalahnya setiap hari, dia mencari Clarie dan selalu membuat keributan. Alasannya? Dia tidak menyukai kedekatan Ben dan Clarie, Alyta masih belum merelakan Ben. Sungguh alasan konyol yang tidak perlu dibesarkan. Namun menurut Riko, sekeras apapun perjuangan yang Alyta lakukan tidak akan pernah berhasil.
Clarie dipilih langsung oleh Ben, dan Ben tidak akan mudah melepaskan Clarie. Dia tidak pernah membiarkan barang berharga jatuh ke tangan orang lain. Jika sempat jatuh, Ben akan mengambilnya kembali. Riko dan April juga sudah tahu kalau Ben dan Clarie hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih, itupun mereka ketahui dari Aleeza.
__ADS_1
Mereka berdua sempat kecewa saat mendengarnya, seandainya saja Ben menyukai Clarie atau Clarie yang menyukai Ben. Mereka selalu bersedia membantu dalam urusan ini. Sayang sekali mereka hanya sebatas teman yang saling membantu satu sama lain. "Huh, memang ya kalau terus memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi itu bikin pusing,"