
"Ben, kemana saja kamu hah? Nenek datang ke sini malah kamu tidak ada," Aleeza menatap tajam Ben yang duduk di hadapannya. Merasa kesal karena kedatangannya seperti tidak disambut baik oleh cucunya itu. Kenekatan Ben sama persis dengan kenekatan Adam, ayahnya. Mata yang tidak pernah takut untuk menatap, dan mata yang tidak pernah bisa ditembus oleh siapapun.
Aleeza memijat pelipisnya pusing dengan tingkah laku Ben. "Ben, Nenek sementara akan tinggal di sini. Nenek sangat rindu dengan kalian," Aleeza mengucapkan tujuannya, tapi itu bukan tujuan utama dia berada di sini. Ben masih menatap neneknya tanpa rasa takut, tidak seperti Deo, Diena, Martin, dan Lena.
"Nenek, Ben tidak tahu bagaimana Alyta bisa masuk sebagai karyawan baru Ben. Jujur, Ben tidak peduli. Tapi Ben tidak suka dengan sikapnya yang seperti nyonya besar di sana. Baru saja dia masuk, dia sudah membuat kericuhan,"
"Kamu belum mengadakan pesta penyambutan karyawan baru?" Ben menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan neneknya. Dia tidak bisa mengadakan acara itu, walaupun wajib di perusahaannya. Tapi dia tidak mau berurusan lagi dengan Alyta, dia terlalu tinggi hati, sangat.
Dan salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan membawa wanita lain di hadapannya. Martin pernah merekomendasikan Clarie, tapi Ben tidak mau itu diketahui oleh umum. Ini hanya sebatas perjanjian saja yang kelak pasti akan berakhir.
Suasana pun menjadi hening, di dalam kepala Ben hanya berisi kegaduhan yang dibuat oleh gadis yang bernama Alyta itu. "BEN!" suara teriakan seorang perempuan. Ben segera berdiri dan membuka pintu, Clarie dengan wajah yang masam berada di depan pintu.
__ADS_1
"Ternyata ka..."
"Hei ada yang ingin aku tanyakan. Apa aku salah memutuskan hubungan dengan keluarga Lin?! Jawab!" tangan Clarie mencengkram bahu Ben, matanya menatap dengan marah dan mendesak untuk ssgera menjawab. Ben tidak tahu harus menjawab bagaimana, tapi yang pasti Clarie sedang dalam keadaan tidak tenang.
"Clarie ada masalah apa?"
"Boleh aku beristirahat di sini?"
"Nenek, kurasa Clarie sedang marah. Maafkan dia," pinta Ben melihat tatapan mata neneknya yang tidak lepas dari Clarie.
Clarie merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tidak lemas. Hanya tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan rasa kesalnya itu. Clek! Clarie bangun karena pintu dibuka oleh seseorang, itu adalah Ben, ada sedikit rasa lega. Ben mendekati gadis itu, wajahnya sedang kesal dan tangannya terkepal. "Clarie, kamu memutuskan hubungan dengan keluarga Lin?" tanya Ben.
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat lagi berada di sekitar orang-orang yang seperti itu Ben, mereka hanya menganggapku sebagai sebuah pajangan," ucap Clarie dengan nada yang lemah. Memang sejak Renata datang ke rumahnya yang damai, dia tidak pernah lagi diberikan perhatian penuh. Hanya ada Renata, Renata, dan Renata. Tidak ada yang lain lagi.
"Butuh pelukan?" pertanyaan itu membuat Clarie menatap berang Ben. Bukankah Ben sudah tahu kalau dirinya itu tidak terlalu suka dengan yang namanya kontak fisik? Kenapa malah menawarkan pelukan? "Biarkan aku menjadi tempat bersandar Clarie, aku akan selalu ada," tambah Ben.
"Tidak, kamu pasti bohong. Dean pernah mengucapkan kata-kata yang seperti itu, dan sekarang dia menikah dengan adikku. Aku tidak bisa mempercayaimu juga Ben," tolak Clarie. Hati yang tersakiti belum sembuh sepenuhnya, dan akan datang luka baru lagi. Dia tidak bisa membiarkan itu.
Namun penolakan Clarie tidak didengar oleh telinga Ben. Masuk ke telinga kanan, keluar dari telinga kiri.
Ben duduk di sebelah Clarie dan mendekap tubuh kecil itu, kemudian mengelus rambut panjang miliknya. "Kali ini aku tulus, tidak ada yang kuinginkan lagi. Tapi hanya satu, dan itu untukmu. Jangan bertindak gegabah, dan berkepala dinginlah Clarie. Itu yang ingin aku sampaikan kali ini,"
Tidak ada gerakan apapun dari dari Clarie, tapi perlahan Ben merasa lengan Clarie mulai melingkar di pinggangnya. "Jangan pergi Ben, jika kamu tulus, kamu baru saja bersumpah untuk menjadi tempat bersandarku. Jangan pergi seperti Dean pergi meninggalkanku,"
__ADS_1
"Ya,"