Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
30. Memulainya Dengan Perlahan


__ADS_3

"Papa, ingat ya kalau Clarie pergi itu gara-gara Papa. Pokoknya nanti Mama ingin Clarie kembali lagi ke rumah kita. Harus," ancam Nita kepada suaminya. Mengingat bagaimana Kris menceritakan Clarie yang memutuskan hubungan dengan mereka. Kris pikir Clarie hanya bercanda, tidak tahunya putrinya itu benar-benar tidak pulang sampai sekarang.


Nita menjadi marah, dan menganggap kepergian Clarie adalah kesalahan suaminya yang tidak bisa mengendalikan emosi. Membuat Renata keluar dari rumah sangat mudah, berhubung Renata memang sudah menikah dan mempunyai suami. Jadi wajar kalau Clarie memberi syarat untuk mengusir Renata, atau lebih halusnya lagi meminta Renata untuk tinggal di rumah suaminya, Dean.


Nita, Kris, Dean, dan Renata berangkat bersama menuju ke kampus. Menghadiri acara kelulusan putri dan menantu baru mereka adalah hal yang penting. "Pa, Ma, kalian dari tadi kenapa diam saja? Apa Papa dan Mama sakit?" tanya Renata melihat ekspresi kedua orang tuanya yang kurang bagus. Namun gelengan kepala yang menjawab pertanyaan Renata, dan Renata merasa itu bukan pertanda yang bagus. Keheningan menyelimuti semua orang di dalam mobil itu sampai mereka tiba di kampus.


"Hai Renata! Wow pasangan baru yang harmonis, jadi iri," baru saja satu langkah memasuki aula yang digunakan untuk kelulusan, ada segerombol gadis yang mulai menggoda Dean dan Renata.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, di mana Clarie? Dia tidak datang dengan kalian?" tanya salah satu gadis di gerombolan tadi, matanya mencari-cari sosok Clarie.


"Kak Clarie akan segera datang kok. Kalau begitu kami ke sana dulu ya, bye," Renata mengajak kedua orang tuanya dan Dean ke salah satu meja berisi hidangan. Hari ini adalah hari yang dinanti oleh Renata, hari di mana dia bisa merendahkan Clarie. Namun entah itu akan berhasil atau tidak, setidaknya ada Diva yang selalu membantu dirinya. Dan mari kita lihat penampilan Clarie yang membosankan.


......................


Lena memandang gaun-gaun yang tergeletak di tempat tidur, Diena menyuruhnya memilih salah satu untuk dipakai Clarie di acara kelulusannya. "Bisakah kamu saja yang memilihnya Diena? Aku tidak terlalu ahli dalam memilih gaun, itu keahlianmu," dengan nada yang putus asa Lena memohon kepada Diena. Kepala Diena menggeleng, dia tidak menyetujui permohonan Lena. Selama ini dia yang terus memilihkan pakaian untuk Clarie, sekarang giliran Lena.

__ADS_1


"Tidak, aku sudah bosan melihatmu bermain game tanpa henti. Giliran kamu yang memilihkannya,"


Perdebatan pun terjadi sampai mengguncang kedamaian di dalam rumah itu. Ben yang sedang menikmati istirahatnya terganggu dengan suara perdebatan. "Berhenti berdebat, aku yang akan memilihkan gaun untuk Clarie. Tapi sebagai gantinya, kalian berdua harus membersihkan rumah akhir pekan ini. Mengerti?" katanya dengan nada marah.


Diena dan Lena tercengang mendengarnya, kalau tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik tadi tidak bertengkar.


"Clarie kamu yakin pergi ke acara kelulusan sendirian saja? Tidak ingin ada yang menemani?" tanya Ben sembari menyerahkan gaun yang baru saja dia pilih.

__ADS_1


"Tidak usah, di kampus aku terkenal sebagai orang yang sangat nyaman dengan kesendirian. Yah, kalau di sana nanti ada seseorang yang ikut menemai aku akan biasa saja seperti dulu. Tidak usah khawatir Ben, aku ingin berlatih menjaga diriku sendiri,"


Setelah selesai mengganti pakaian, Clarie berangkat ke acara kelulusannya. Tidak peduli apa yang akan terjadi, bagaimana reaksi orang-orang tentang dirinya, orang tuanya, dan Dean. Sekarang yang terpenting adalah membuat dirinya semakin kuat dan membalaskan dendam. Sangat banyak yang ingin Clarie lakukan, dan dia akan memulainya dengan perlahan.


__ADS_2