Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
49. Ancaman?


__ADS_3

"June, July, dan Augustine. Dan namaku adalah Oktaviana," ucap wanita itu memperkenalkan anggota kelompok. Clarie menganggu anggukan kepalanya tanda mengerti. Nama mereka adalah nama bulan, jadi tidak terlalu sulit untuk menghafalkannya.


"Ini perlengkapannya, dan...ini pesananmu," July menyerahkan satu kotak berukuran besar dan satu kotak berukuran kecil. Clarie menerimanya dan langsung membuka. Topeng, jam tangan, kacamata, dan handphone. Barang-barang itu terlihat sangat mahal, tampilannya juga sedikit berbeda.


"Topeng itu untuk menyamarkan wajah kita ketika menjalankan misi. Jam tangan untuk penyampaian informasi. Dan handphone, itu khusus untuk mengakses web dan berhubungan dengan orang lain. Intinya jangan gunakan handphone itu untuk umum, jangan perlihatkan juga pada orang lain,"


"Kacamatanya?" keempat orang itu saling melemparkan pandangan satu sama lain. Bingung bagaimana menjawab pertanyaan anggota barunya. Mereka tidak menerima kacamata, hanya ketiga barang sisanya yang mereka terima.


'Halo semuanya, aku adalah penanggung jawab kalian. Panggil aku Nix.'


Seluruh perhatian berpusat pada hologram yang baru saja muncul.


'Selamat datang bagi para anggota baru, selamat datang juga untuk anggota lama. Hari ini kalian akan melaksanakan misi pertama. Semoga berhasil.'

__ADS_1


Hologram itu menghilang digantikan dengan bunyi notifikasi. "Perusahaan D, informasi produk yang sedang dipersiapkan," ucap Okta membaca misi yang harus dilaksanakan oleh mereka berlima.


......................


Ben duduk di sebelah Riko, punggungnya disenderkan di punggung sofa. Dia sedang merasa putus asa. Pekerjaan sudah selesai, tapi masalah pribadi malah semakin bertambah. Parahnya lagi dia tidak punya solusi yang baik.


"Sudah kamu pikirkan Ben? Nanti malam ingin makan malam di rumahku?" tanya Riko berharap Ben masih memiliki sedikit semangat.


Pintu terbuka lalu seseorang masuk ke dalam, Clarie adalah orang itu. Wajahnya nampak keleahan, dia juga berjalan sedikit terhuyung. Clarie menempatkan dirinya di sebelah Ben, kemudian ikut menyenderkan punggung seperti Ben.


"Dari mana?"


"Memangnya aku harus memberi tahu setiap ingin pergi!" bentak Clarie. "Keluargamu itu anggap aku sebagai apa sih Ben??!!! Enak banget ya sembarangan buat keputusan. Kamu juga! Ini di luar perjanjian kita Ben!" lanjut Clarie masih dengan membentak.

__ADS_1


Melihat wajah Ben saja sudah bisa mengingatkan kejadian tadi malam.


"Hei hei tenang. Aku sedang mencari solusinya...."


"Sepertinya kamu sama sekali nggak mencari solusi deh Ben! Solusi yang kamu punya pasti baru muncul ketika kita sudah kakek nenek. Itu terlambat! Bisa-bisanya ide gila dari keponakanmu disetujui keluarga??!!! Tolong ya aku masih terlalu muda,"


Riko menonton dari kejauhan perdebatan antara Clarie dan Ben. Sebenarnya masalah apa yang bisa membakar mereka berdua. "Kalian berdua berhenti dulu, suara kalian bisa sampai keluar ruangan loh," ucap Riko berusaha menengahi pertengkaran kedua orang itu. Sayangnya, mereka tidak mengindahkan Riko dan malah mulai menyalahkannya.


"Salahku apa sih, kalian kok malahan marah ke orang yang nggak ada sangkut pautnya??!"


"Sebenarnya sih kamu nggak salah apa-apa, tapi..."


"Tapi jangan coba-coba ikut campur masalah kami berdua. Suasana hatiku saat ini sedang buruk, dan aku tidak akan segan membunuhmu saat ini juga. Ingat itu, biarkan kami yang menyelesaikannya sendiri!" ucap Clarie sebagai ancaman.

__ADS_1


__ADS_2