Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
64. Jaring Laba-Laba


__ADS_3

Malam yang tenang dan hanya terdengar suara makhluk-makhluk yang beraktivitas di malam hari. Di dekat jendela, Clarie menikmati suasana malam tersebut. Mendengarkan alunan musik sembari membaca berita beberapa hari yang lalu yang sempat menjadi topik terpanas.


Clarie sempat merinding membaca judul berita yang terlalu dibesar-besarkan, dan itulah yang namanya kenyataan. Tiga berita utama, benar seperti yang dikatakan Leon kepadanya. Berita pertunangan, kerjasama, dan kecelakaan. Tidak salah lagi ketiganya pasti memiliki kaitan yang kuat.


"Anda belum tidur?" Clarie menoleh ke arah tempat tidur di mana seorang anak laki-laki sedang berbaring.


"Belum atau malah tidak. Di sini aku tidak akan bisa tenang, lengah satu detik saja nyawaku bisa melayang," jawab Clarie sembari mengelus pistol yang tak jauh dari tangannya. Senyumnya lembut, tapi tatapan matanya dingin.


"Wanita yang kita temui di taman hiburan tadi, dia juga tinggal di sini?"


"Tadinya tidak, tapi sekarang iya. Dan dia tidak menyukai keberadaanku. Kamu juga harus berhati-hati,"


"Anda tahu apa yang bisa saya lakukan,"


"Tentu saja,"


Damian turun dari tempat tidur dan mendengkati Clarie, dia mengambil ponsel gadis itu dengan sedikit memaksa. Matanya membaca setiap kata yang muncul di sana. Dia membacanya sampai habis lalu berpindah ke berita yang lain. "Kenapa orang-orang yang membuat berita ini melebih-lebihkan peristiwa? Menjijikkan sekali," komentar Damian tapi masih saja asik membaca berita saat ini.


"Rasanya ingin bunuh diri saja. Setelah aku keluar dari keluargaku, aku malah masuk ke jaring laba-laba. Semakin kamu berusaha untuk lepas, semakin kamu terjerat," Clarie menghela napas.


Mendengar itu, Damian menghentikan acara membacanya. Mati, bunuh diri, bisa-bisanya orang seperti dia mengatakannya dengan mudah. "Hei, kalau kamu berniat untuk mati, apa aku akan dibuang lagi? Apa artinya kamu mengadopsiku hah? Kalau kamu melakukan itu, kamu sama saja dengan sampah,"


Clarie tersenyum, anak ini memang cocok untuknya. "Sudah kuduga itu, makannya aku akan lepas dari semua ini perlahan. Pelan-pelan saja, tapi harus mematikan," Clarie mengambil jeda sebentar. "Pertama kali aku melihatmu, sorot matamu itu sangat kejam dan penuh penderitaan. Saat itu aku tahu, aku harus belajar dari Damian,"


"Penderitaan yang kualami belum seberapa dibanding dengan orang itu. Penderitaannya lebih besar dariku,"

__ADS_1


"Memang siapa?"


Damian mengembalikan ponsel ke pemiliknya, kembali ke tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut. Dari ujung kaki sampai ujung kepala, tak ada celah satu pun untuk nyamuk menggigit Damian. Merasa pertanyaannya diabaikan, Clarie jadi kesal.


"Hei, jawab pertanyaan ibumu dong,"


"Aku mau tidur, ngantuk,"


"Sebentar saja!"


"Jangan paksa anak kecil dong, kamu ibu macam apa sih?!"


"Loh kok malah jadi aku yang salah sih?" Damian tak bergeming, memilih menutup mata dan telinganya rapat-rapat.


......................


"Nanti sore mau ke cafe lagi?"


"Iya, itu salah satu rutinitas,"


"Yakin mau kerja?"


"Yakin dong, kamu baik-baik di rumah ya. Boleh pakai senjata tapi jangan merenggut nyawa. Intinya hati-hati," aku mengangguk menyetujui perkataan Nona Clarie. Dia mengelus lalu mengecup singkat puncak kepalaku. "Aku berangkat dulu ya," katanya lalu menghilang dari balik pintu.


Nona Clarie adalah ibuku sekarang, apa ini yang dikatakan oleh Nix? Rasanya mendapat kasih sayang. Cahaya kecil di dalam kegelapan abadi. Telapak tanganku menyentuh puncak kepala, mengingat kembali bagaimana Nona Clarie mengecupnya. Kuakui aku tidak terlalu yakin dia bisa menjadi orang tua yang baik, sikapnya saja sudah terlihat. Namun, dia sama dengan orang itu.

__ADS_1


"Hei bocah! Apa kamu benar anaknya Tanteku?" aku terlonjak kaget. Dengan sigap aku memegang pisau lipat yang selalu kubawa. "Hei, aku bertanya kepadamu! Apa kamu benar anaknya Tanteku?!" tanyanya dengan nada tinggi.


Dia ini bocah, dan aku lebih tua darinya. Dia itu bodoh atau tidak punya otak sih? Datang-datang langsung begini. "Ya benar, aku adalah anak dari Nona Clarie, maksudku ibu,"


"Kamu merebutnya dariku dan Paman! Kembalikan! Kembalikan!"


"Kamu hanya orang luar! Berani sekali ikut campur urusan ini!"


"Pergi kamu!" bocah perempuan ini terus-terusan mendorongku. Apa-apaan sih? Dasar anak manja.


"Katakan saja pada ibuku, lagipula tidak berniat merebutnya dari kalian. Nona Clarie sendiri yang mengadopsiku," ucapku setelah membalas perbuatan bocah itu.


Air matanya yang mulai mengalir membasahi wajah, sangat cengeng. Tapi aku tidak heran sih, dia anak yang dibesarkan secara normal. Normalnya keluarga yang sangat berkecukupan. Pantas dia bertingkah seperti ini.


"A-awas saja kamu...a-akan kuadukan pa-pada Paman," dengan kaki kecilnya dia berlari cepat tanpa menutup kembali pintu yang dia buka tadi. Merepotkan. Memang lebih baik aku menguncinya supaya tidak sembarang orang masuk ke kamar ini. Begitu juga dengan jendela. Kamar ini harus kujaga!


Tok Tok Tok, aku mendecak kesal. Apalagi? Apa yang datang kali ini adalah pamannya itu? Dengan malas aku membuka pintu kamar. Aku hanya membut celah, dan itu sudah cukup untuk mengetahui siapa yang datang berkunjung. "Ada apa Anda ke sini?" tanyaku dari balik pintu. Laki-laki yang kemarin.


"Bisa aku bicara sebentar denganmu?"


"Kalau Anda ingin menasihati saya, menanyakan bagaimana dan kenapa saya datang, atau tentang ibu saya. Saya sarankan Anda tidak membahas hal tersebut,"


"Memang kenapa?"


"Kita sama sekali tidak memiliki hubungan Tuan. Lalu, tolong lepaskan ibu karena Anda sudah punya tunangan kemudian menikah. Sudah cukup Anda memberikan harapan yang palsu kepada ibu saya,"

__ADS_1


......................


...Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. ❤❤...


__ADS_2