
Kejadian sebelumnya...
Gusar, inilah perasaan yang menyelimuti Renata sekarang. Dia tahu kedua orang tuanya masih belum merelakan kakaknya itu pergi. Salah, keduanya tidak percaya kalau kakaknya keluar dari keluarga ini. Jadi...apa yang akan mereka bicarakan? Jangan sampai, jangan sampai Clarie kembali lagi.
Saat mendengar suara tawa lembut yang familiar, Renata buru-buru menoleh. Argghh, sial sekali hari ini. Muka mereka berseri-seri, pasti sedang ada yang membahagiakan. "Ah, kalian sudah kembali? Wow ada kabar apa ini? Wajah kalian terlihat bahagia, bisa bagi kebahagiaan kepada kami?"
Nita tersenyum. "Mama ada dua kabar, baik dan buruk. Yang baik adalah...kakakmu, Clarie kembali lagi ke keluarga kita. Dan kabar buruknya adalah, hah," Nita menghela napas sejenak. "Meski dia sudah kembali ke keluarga kita, dia akan tetap tinggal di rumah Tuan Muda Xiao,"
Nita, Kris, Clarie, dan Ben kembali duduk dan melanjutkan makan siang mereka. Setelah makan siang selesai, Renata mengantar Clarie, Ben, dan Daisy ke kamar milik Clarie dulu. Yah, sebenarnya dia tidak menyukai ini. Tapi apa boleh buat, dia tidak mungkin menolak apa yang diperintahkan oleh mamanya.
......................
Di sore harinya, setelah Clarie, Ben, dan Daisy pulang dari taman bermain.
"Jadi Kak Clarie, selamat datang kembali di keluarga kami, di rumah kami, dan di kamar Kakak. Semoga malam ini Kakak bisa tidur dengan nyenyak. Dan untuk kakak ipar..."
"Siapa yang bilang kamu bisa memanggil saya dengan sebutan 'kakak ipar' hah?" Ben memotong perkataan Renata.
Gadis itu menatap Ben tanpa rasa takut, dia merasa dirinya tidak salah. Kalau Calrie sekarang menjadi kakaknya kembali, berarti Tuan Muda Xiao ini adalah kakak iparnya. "Ingat siapa kamu, kamu tidak berhak memanggil Clarie 'kakak' dan kamu juga tidak berhak memanggil saya 'kakak ipar'. Katakan juga pada suami kamu,"
"Baik, mari saya antar Anda ke kamar tamu,"
"Renata pakai kamar yang ada kamar mandinya saja ya," tersenyum adalah pilihan terakhir yang bisa Renata lakukan. Ini menyebalkan, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan...dan dia malah mendapat berita yang buruk? Oh Tuhan.
Di sisi lain, Clarie sedang memandikan Daisy. Berhubung hari sudah sore, sudah seharusnya bocah kecil ini membersihkan diri. "Tante Clarie, Tante tahu nggak kalau Paman Ben itu sering banget curhat ke Daisy?" ucap Daisy membuka percakapan.
"Ya mana Tante tahu lah, Paman kamu itu kan nggak pernah cerita. Lagi pula ya, Tante rasa Paman kamu nggak pernah cerita masalah ke siapa-siapa,"
"Jadi...Tante mau tahu nggak? Tenang kok, Daisy kan anak baik, jadi Tante nggak perlu beliin Daisy permen sebagai imbalan,"
Clarie menjitak dahi Daisy. Baik? Baik dari mana? Usil, rewel, banyak maunya, mulut ember lagi. "Kalau mau ngomong tinggal ngomong aja lah,"
__ADS_1
"Tahu kenapa Paman Ben nggak nolak keputusan Nenek Alee? Karena Paman suka Tante. Tahu kenapa belakangan ini Paman sering menyendiri? Karena Paman sedang menenangkan diri. Selain Paman Ben, ada laki-laki lain yang suka ke Tante, namanya Leon,"
"Okay, terima kasih informasinya. Nah, Tante mau mandi dulu, kamu mau berguling-guling juga nggak apa-apa," Daisy tersenyum dan mengamati Clarie sampai tubuh Clarie menghilang dari pandangannya.
Clarie sedang memikirkan apa yang baru saja dikatakan Daisy. Ben menyukainya? Tidak bisa dipercaya, pria itu? "Huh, pikiranku jadi kacau. Ayo Clarie, tenanglah," dia menarik napas dan menghembuskannya.
Selesai mandi, Clarie memakai baju yang disiapkan Renata. Dia mengumpat karena gaun tidur yang disiapkan itu tipis, padahal malam ini cukup dingin, dia bisa saja terkena flu besok pagi.
Tok Tok Tok! "Ben, aku membawa baju untukmu. Ini baju milik Papaku,"
"Taruh saja," Claris meletakkannya di atas tempat tidur dan duduk di sebelahnya. Gadis itu ingin bertanya dan membicarakan sesuatu. Tak lama setelahnya, Ben keluar dari kamar mandi. "Kamu tidak kembali lagi ke kamar?"
"Hm, tidak. Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya Ben. Tapi sebelum itu, kamu bisa memakai pakaian dulu," buru-buru Clarie mengalihkan pandangannya. Sungguh, Ben terlihat menggoda sekarang. Dan, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ya Tuhan, Engkau memang mengikatku dengan iblis itu.
"Kalau sudah selesai, kemari dan duduklah. Aku akan mengeringkan rambutmu,"
"Hei, tapi ada yang ingin kamu tanyakan,"
"Dasar iblis, menurutlah! Itu hanya perkara kecil kok," Clarie pun mulai mengeringkan rambut milik Ben. Entah kenapa dia merasa senang sekarang, seperti ada banyak bunga yang bermekaran. Padahal ini bukan musim semi. "Ini kali pertamanya aku dekat dengan pria jika kamu tahu. Aku selalu merasa tidak nyaman jika berada cukup dekat dengan pria.
Daisy bilang kamu menyukaiku, apa itu benar? Dan tentunya kamu tidak akan berniat mengajukan penolakan jika disuruh menikah denganku bukan?"
"Clarie..."
"Maaf, aku belum siap untuk itu. Kamu juga tahu aku baru saja mengalami yang namanya putus cinta, dan aku juga tidak terlalu cepat dalam melupakan hal yang termasuk penting,"
"Jadi kamu masih berharap orang itu kembali? Sekarang dia sudah menjadi suami adikmu Clarie, dia adalah adik iparmu sendiri,"
"Mereka adalah orang lain Ben, dia bukan adik iparku. Karena aku tidak pernah mempunyai saudara. Tapi, dunia tidak semudah itu. Di dalam hubungan bukan hanya cinta yang diperlukan, ada hal lain. Uang, contohnya. Jika kita menikah dalam waktu dekat, aku jamin kamu akan menyesal. Bisa saja aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai suami, tapi hanya partner kerja,"
"..."
__ADS_1
"Tapi bukan berarti tidak ada peluang," Clarie mendudukkan dirinya di sebelah Ben. Dari samping, dia tahu Ben sedang bersedih. "Lihat aku," setelah Ben menoleh, Clarie membawanya ke dalam ciuman yang singkat. "Aku memberi satu petunjuk, aku menyukai pria yang bisa membuatku tertantang,"
"Jika aku tidak menyulut apinya, kamu tidak akan pernah terbakar. Mau melakukannya sekarang?" saat bertanya, Clarie menyunggingkan senyumnya. Senyum yang mematikan, dan Ben merasa akan ada hal yang tidak terlalu benar.
"Ben?"
"Clarie, terima kasih atas penawaranmu. Tapi...tapi kita sedang ada di rumahmu," protes Ben, dia tidak mau dianggap pria bre*****.
"Itu tidak masalah, aku menyukainya. Aku suka tantangan," lagi, Clarie membawa Ben ke dalam ciumannya, dan ini lebih mengerikan dari tadi.
"Cla...Clarie, berhenti! Pintunya..."
"Hm? Biarkan saja tidak terkunci, bukankah itu lebih menantang?"
"Kamu gila,"
"Tepat sekali, dan ngomong-ngomong terima kasih bantuannya ya,"
"Apa?"
"Hahaha, kamu pasti tidak tahu. Dari tadi ada yang mengintip kita, terima kasih dan maafkan aku. Mungkin aku baru saja mencuri ciuman pertamamu, bersiaplah untuk makan malam. Tapi tentang peluang itu, aku serius, dan juga, aku memang menyukai pria yang bisa membuatku tertantang. Aku menantikannya saat kita di rumah,"
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Clarie meninggalkan Ben. Pria itu masih terkejut dan masih belum bisa menerima kejadian yang baru saja terjadi. Seluruh badannya mati rasa, gadis itu lebih pantas disebut iblis dari siapapun.
......................
Halo, nggak terasa udah masuk ke tahun 2021. Dan artinya ini adalah tahun yang baru. 😻😻
Untuk part ini mungkin sedikit...ehem, membingungkan🙀. Apalagi di adegan ciumannya🙈, saya yang nulis aja nggak bisa bayangin. Dan saya nggak tahu gmn bisa buat adegan itu🙃😹😹. Mohon maaf jika kurang nyaman di part ini.
Tapi tunggu,
__ADS_1
Selamat Tahun Baru semua (bagi yang baca tapi yah hehehe😆😆). Semoga di tahun baru ini kita (aku dan kamu, iya kamu) tetap semangat menjalani hari-hari, semangat berkarya , semangat bekerja, semangat belajar dan mengerjakan tugas, dan semangat melakukan aktivitas di tengah pandemi ini.
Semoga Tuhan memberkati🙄🙄