
Renata mengurung dirinya di dalam kamar, sebal dengan kedua orang tuanya yang masih cemas dengan hilangnya Clarie. Mereka bahkan hampir tidak makan selama dua hari, kalau tidak dipaksa perut mereka pasti sedang meraung-raung sekarang. Seharusnya inikan momen untuk Renata menikmati kebahagiaan, kenapa malah sebaliknya. Apa Clarie sudah mulai melakukan serangan?
"Renata, Mama mau ke kantor polisi dulu ya bersama dengan Dean. Tolong jaga rumah ya," Nita muncul dari balik pintu kamar Renata. Wajahnya terlihat lesu dan kantung mata yang terlihat sangat jelas, menandakan bahwa mamanya itu kekurangan jam tidur. "Apa Mama tidak istirahat dulu saja? Mama sudah makan atau belum?"
"Sayang, Mama tidak bisa tenang selama Kak Clarie belum ditemukan," Clarie lagi?! Renata sebal mendengar nama itu. "Ma, Renata yakin berat badan Mama akhir-akhir ini turun drastis. Gimana kalau Renata saja yang pergi ke kantor polisi bareng Kak Dean? Mama di rumah saja beristirahat. Renata akan memberi tahu Mama nanti," Nita tampak berpikir dengan usulan Renata.
"Baiklah, terima kasih ya sayang,"
Renata segera berganti baju dan pergi dengan Dean. Padahal besok kan hari pernikahannya, kenapa dia harus repot-repot pergi ke kantor polisi untuk mengetahui kabar seputar kakaknya itu. Menyebalkan, tapi ini juga kesempatannya untuk memiliki waktu lebih dengan Dean. "Jangan menatapku terus Renata," ucap Dean saat di perjalanan, risi dengan tatapan yang diberikan oleh mata Renata.
__ADS_1
"Hehe, bilang aja kalau Kak Dean itu salah tingkah kan? Kak Dean gugup kan? Besok kita menikah lho Kak," Renata mulai menggoda Dean. Namun, wajah orang yang dia cintai tidak bisa ditebak, dia sepertinya marah dan khawatir, tapi juga datar. Apa begini sikapnya? Dulu dia sangat ramah, apa karena Clarie lagi?!
Jantung Dean tidak bisa berdetak secara normal. Clarie yang menghilang tiba-tiba seolah mencengkram jantungnya sangat kencang, rasanya seperti mau meledak. Dean tahu Clarie marah, kecewa, dan membencinya sekarang, tapi jangan menghilang seperti ini. Dia jadi merasa tambah bersalah. Dean menepikan mobil di depan kantor polisi, kakinya segera berlari masuk ke dalam. "Pak apa ada perkembangan dengan hal yang saya laporkan?"
"Kami benar-benar minta maaf Pak. Nona Lin pergi tanpa meninggalkan jejak, itu sangat misterius. Terlebih lagi tidak ada siapapun yang melihat Clarie di tempat yang Anda beritahukan. Jika dia diculik, pasti penculiknya akan mengancam kalian bukan? Dan kemudian mereka akan meminta imbalan. Tapi ini tidak Pak, kami benar-benar minta maaf untuk yang ini," salah seorang polisi yang menangani kasus hilangnya Clarie.
"Begitu ternyata, terima kasih sudah berusaha. Saya akan datang lagi," Dean berkata dengan lesu dan kembali ke dalam mobil. Dia menghela napas, mengusap wajah kasar, kesal sekali.
......................
__ADS_1
"Kalian serius mau pulang sekarang?"
"Iya nenek, kami akan pulang sore ini. Ada hal yang harus kami lakukan,"
Aleeza, nenek Ben menatap cucunya dengan curiga. "Yakin? Nenek tidak yakin hal apa yang akan kamu urus. Jangan membohongi nenek ya Ben," katanya.
"Nenek, Ben benar-benar akan melakukan hal penting. Kami tidak membohongi Anda," Aleeza menatap Clarie, yang katanya adalah kekasih Ben, cucunya. "Tapi Clarie, kamu masih bisa di sini. Kami masih ingin tahu tentang dirimu,"
Clarie menggeleng pelan, "Besok adalah hari pernikahan adik saya. Dan saya menghilang selama beberapa hari, perlu kalian semua ketahui bahwa saya ke sini tidak meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua saya,"
__ADS_1
Ester membelalak terkejut, "Jadi, kamu ke sini tanpa memberi tahu keluargamu?!"