
Ben dan Clarie pergi ke lokasi yang sudah ditentukan. Tempat yang akan digunakan oleh Clarie untuk membalaskan dendamnya, sebuah gudang tua yang jauh dari pemukiman. Tempat yang sangat cocok.
Pertama kali melihat gudang tua ini, Clarie langsung jatuh cinta. Dia baru saja tahu kalau di daerahnya tinggal terdapat gudang yang terkesan angker. "Ini sangat keren, kamu memilihkan tempat yang bagus," kata Clarie. Lalu gadis itu berlari ke dalam gudang.
Berlumut dan lembab, tidak ada pencahayaan dan ada tanaman menjalar yang tumbuh di dekat jendela. "Terima kasih, ini aku sangat menyukainya," kata Clarie sekali lagi dengan senyuman yang lebar. "Baiklah, sekarang ayo kita kembali. Aku sudah tidak sabar menunggunya,"
Mereka berdua pun kembali ke rumah sakit, yang satu dengan perasaan was-was dan yang satu dengan perasaan senang.
Sesampainya di rumah sakit, tepatnya di kamar orang tua Clarie dirawat, Renata dan Diva ada di sana. Begitu pula dengan paman dan bibi. Dan itu membuat Clarie sedikit bingung, atmosfer yang menyelimuti ruangan ini sangat berat. Wajah-wajah yang ada juga terlihat sedih. Kecuali Nic, wajahnya baik-baik saja, tepatnya sekarang dia sedang tersenyum.
"Kalian? Sebenarnya kenapa?" tanya Clarie yang sudah tidak sabar dengan wajah-wajah yang membuatnya kesal setengah mati.
Bibinya memalingkan muka ke arah yang berlawanan. Air matanya masih bisa dia bendung, sehingga air mata itu belum keluar dari matanya dan mengalir deras. "Bibi, ada apa?" tanya Clarie lagi, tapi tidak ada yang menjawab. "Papa, Mama, bisa tolong jelaskan? Kenapa kalian diam saja dengan raut wajah yang seperti ini?"
"..."
"..."
Klik! Clarie mengunci pintu kamar, dan tangannya sudah menggenggam pisau lipat cadangan milik Damian. Dia menunjukkan pisau itu di depan semua orang. "Bisakah kalian menjawab pertanyaanku? Atau aku harus menggunakan kekerasan untuk membuka mulut kalian satu per satu?"
Clarie mendekati Diva, dan memainkan pisaunya di sekitar leher gadis itu. Semuanya tersentak dengan apa yang Clarie lakukan sekarang. "Ka-kakak, aku mohon jangan sakiti temanku," pinta Renata yang berada tepat di sebelah Diva, sahabatnya.
__ADS_1
Clarie mengernyit. "Jadi kamu yang akan menggantikannya? Baiklah," pisau itu berpindah ke leher Renata. Keringat dingin mulai muncul.
Grep! "Clarie, berhenti bermain dengan benda tajam. Itu bisa melukai seseorang," ucap sang bibi. Clarie menurunkan pisaunya dan kembali menyimpan di dalam saku celana.
Dia menghela napas dan tersenyum. "Akhirnya, bibi mau bicara juga. Renata juga, terima kasih. Setidaknya ada orang yang berani membuka mulutnya. Berhubung pita suara kalian sudah melakukan pemanasan, bagaimana kalau sekarang menjawab pertanyaanku yang tadi?"
"Ti-tidak ada apa-apa, kamu baru saja dari mana?"
"Hm, dari tempat yang membuatku kembali bersemangat. Tapi, sepertinya Bibi tidak menjawab dengan jujur," suasana kembali hening dengan penuh kecanggungan. "Apa aku perlu mengeluarkan pisau itu lagi supaya kalian mau bicara?"
"Tidak pakai ini saja?" Nic mengeluarkan pistol dari balik jaket yang dia pakai dan melemparkannya ke Clarie. Dengan sigap, Clarie menangkapnya. Sekarang di tangan Clarie ada pistol dan pisau lipat, menambah perasaan takut dan terancam untuk orang-orang yang ada di dalam ruangan.
Clarie berdecak kesal saat tahu bahwa tidak ada peluru di pistol itu. "Cih, peluru saja tidak ada. Ingin bercanda ya?"
Dengan santainya Clarie memasukkan peluru itu ke dalam pistol, tanpa mempedulikan Renata, orang tua, paman, dan bibinya yang menatap dirinya ngeri sekaligus khawatir.
"Kakak, tolong berhenti melakukan hal yang membuat kami takut!"
"Hm? Aku belum membidik kalian loh, apa sudah takut?"
"Kakak! Yang benar saja!" teriak Renata.
__ADS_1
"Kalau kalian ingin selamat saat ini, katakanlah dengan jujur alasanku datang kemari. Aku rasa itu cukup untuk menghentikan tingkahnya," ucap Nic tiba-tiba.
Clarie menyeringai, lalu menatap bergantian antara orang tuanya, dan paman bibinya. Dia mengharapkan jawaban atas pertanyaannya. Namun waktu terus berlalu, dan tidak ada yang berniat untuk membuka suara.
Byur! Clarie menyiram Renata menggunakan air dingin. Yang disiram terkejut bukan main. Renata yang sudah mulai tidak tahan dengan tekanan pun mulai meledak-ledak. "Clarie apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu menyiramku menggunakan air dingin?!" teriaknya penuh dengan emosi.
"KYAA!" Renata kembali menjerit, jeritan kesakitan. "Apa yang kamu lakukan dasar sialan!!"
Tuk! Clarie meletakkan gelas di meja, dia berbalik menghadap Renata yang sekarang sedang terduduk di lantai. "Kamu bertanya kenapa menyiram dengan air dingin. Jadi aku menyirammu dengan air panas, bukankah itu yang kamu mau?" tanya Clarie enteng.
"Apa itu sakit Adik?"
"..."
"Oh ternyata tidak sakit, aku sangat kagum dengan daya tahan tubuhmu. Padahal dulu aku sangat kesakitan. Em, mari kita coba cara lain yang membuatmu sakit,"
Clarie ikut berjongkok menyamakan tingginya dengan Renata, kemudian mengambil tangan Renata dengan lembut. Renata yang masih terisak karena rasa sakit dari siraman air panas tadi tidak bisa melawan apa yang sedang dan akan dilakukan oleh Clarie.
Clarie memandangi tangan Renata dengan intens. "Kenapa kamu menangis? Seharusnya kamu menangis mulai dari sekarang kan?" perlahan, darah mulai mengalir dari lengan Renata bersama dengan pisau lipat yang menggores kulit lembut si pemilik.
Renata memekik tertahan, dia menggigit bibir bawahnya. Air matanya terus menetes, lebih deras, dan lebih deras lagi. Sementara yang lain, mereka menutup mulut menggunakan tangan mereka. Menatap tak percaya dengan penyiksaan yang secara terang-terangan dilakukan oleh Clarie.
__ADS_1
"Katakan...apa luka goresan ini sakit?" Renata menganggukkan kepalanya. "Baiklah, sepertinya sampai di sini dulu. Hapus air matamu dan bersihkan lukanya. Lalu bersikaplah senormal mungkin di luar sana. Awas saja kalau menceritakannya kepada orang lain, itu juga berlaku untuk kalian yang melihat ini,"
Setelah Clarie keluar dari kamar, Diva membantu mengobati luka Renata. Kemudian terdengar suara isakan lagi. "Maaf karena tidak bisa membesarkan putri kami dengan baik,"