
"Ben, bisa tidak kamu mengurangi kecepatan? Kita bisa saja kecelakaan," kata Clarie. Suasana hati orang di sebelahnya ini mungkin sedang tidak bagus, dari tadi tidak bicara, tersenyum, ataupun bertingkah seperti biasanya.
Ben dan Clarie sedang dalam perjalanan menuju ke tempat walikota, rumah tepatnya. Kemarin saat mereka berkunjung, walikota tidak ada, entah itu memang tidak ada karena ada urusan, sedang bersembunyi, atau melarikan diri. "Hei Ben, kira-kira walikota kenapa? Apa menurutmu dia sedang melarikan diri? Atau dia mungkin sudah bunuh diri?" tanya Clarie membuka percakapan. Biasanya kalau masalah yang seperti ini, Ben akan menjawab tanpa memedulikan suasana hatinya.
"Entahlah, aku hanya ingin uangku kembali sekarang. Dasar walikota kurang bertanggung jawab, kemana dia membawa pergi uangku," jawab Ben. Tepat sasaran, tidak diragukan lagi jika masalah uang yang Ben miliki, dia tidak akan ragu untuk menjawab.
Mereka memasuki halaman depan rumah walikota. Ben memarkirkan mobilnya kemudian turun, disusul oleh Clarie. Clarie memandang sekeliling, banyak bunga yang ditanam di halaman. Ben mengetuk pintu dan tidak lama kemudian walikota keluar dari dalam. Dia sedikit terkejut, tapi tetap menjaga ekspresi.
"Jadi Tuan Xiao, Anda ada keperluan apa sampai mendatangi rumah saya pagi-pagi begini?" tanya walikota dengan sedikit gugup. Pastinya dia tahu apa yang membuat Ben datang ke rumahnya, tapi itu hanya sekadar basa basi.
__ADS_1
Ben melirik ke arah Clarie yang duduk di sebelahnya, gadis itu juga balas melirik Ben. "Pak, kami ke sini karena masalah uang yang saya berikan untuk merenovasi taman di kota. Saya memberikan uang lebih, dan itu memang saya sengaja. Tidak usah basa basi lagi, uang itu, Anda gunakan untuk apa?"
"Itu...itu...begini Tuan Xiao, saya mohon maaf. Uang itu digunakan oleh putra saya, dia...em ada beberapa masalah yang mendesak yang tentunya membutuhkan uang. Jadi, dia mengatakan meminjam uang Anda,"
Suasana hening, pria yang kira-kira berusia empat puluh tahun itu menundukkan kepala. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya, dia salah, dan dia menyesali. Sedangkan Ben terus menatap walikota sembari berpikir, apa yang akan dia minta untuk mengganti uangnya.
......................
Kling! Lonceng cafe berbunyi saat Clarie membuka pintu dan masuk ke dalam. Sore yang cukup dingin tidak membuatnya mengurungkan niat untuk mengobrol dengan Leon. Laki-laki itu selalu mengajaknya bertemu setiap sore atau malam hari, mengobrol dan menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami.
__ADS_1
Clarie tersenyum dan melambaikan tangannya saat melihat Leon yang juga baru tiba di cafe. "Hai," sapa Leon dengan senyum khasnya.
"Ayo duduk, aku ingin menanyakan sesuatu yang cukup penting," Clarie mengajak Leon untuk duduk. Mereka mencari meja yang berada di dekat jendela, supaya bisa menikmati pemandangan luar. "Apa yang bisa membuat Ben marah?"
"Hei Clarie, kenapa kamu menanyakan itu kepadaku? Yang paling jelas itu tanyakan ke dia sendiri,"
"Sudah, tapi dia tetap diam mirip patung. Dan ngomong-ngomong, kenapa kamu terlihat pucat?"
"Dean menerorku, semenjak pulang dari sana, dia marah dan terus menerus menatap dengan tatapan membunuh. Dia cemburu, karena kejadian kemarin,"
__ADS_1