
Halo kakak-kakak sekalian, maaf karena sudah banyak minggu aku nggak update novel ini😓. Karena libur udah selese dan terjebak dengan tugas-tugas, aku jadi gak bisa menyempatkan menulis. Maaf banget, mulai sekarang aku bakal menyempatkan beberapa menit buat nulis. Jadi update mungkin beberapa hari sekali.
Selamat datang kembali di cerita Pembalasan Manis Tuan dan Nona Muda ❤❤
......................
Clarie dan Damian baru saja memasuki taman hiburan, kebetulan sekali ada yang mengajak Clarie untuk mampir ke tempat yang penuh sesak itu. Clarie pikir ini keputusan yang cukup baik untuk mendekatkan diri dengan Damian, bocah laki-laki itu masih tertutup kepada Clarie. Kesannya seperti tidak ingin dekat-dekat, selain tertutup, Damian juga sering menyusahkan Clarie dengan hal-hal sepele. Contohnya seperti makanan, Damian meminta ini lalu meminta itu, berniat membuat Clarie kesusahan dan tidak tahan dengan dirinya. Sayang sekali Clarie tidak pernah memikirkan hal itu sampai Damian merasa kelakuannya tidak berguna.
"Kakak, sampai kapan kamu akan menggenggam tanganku ini? Rasanya sudah mulai remuk tahu," kata Damian sembari menatap tangannya.
__ADS_1
"Kakak? Sekarang ini aku itu ibumu, nak. Panggil yang bener dong,"
"Hei, Nona. Aku tidak berbicara formal saja itu sudah bagus. Tahu tidak kalau aku itu tidak suka berurusan dengan orang-orang seperti Anda? Saya juga tidak tahu apa yang Anda rencanakan, saya harap Anda tidak macam-macam dengan saya," ucap anak kecil itu dengan ekspresi mengancam. Inilah yang Clarie kagumi dari Damian, kemampuan untuk mengancam sedikit menakutkan.
Clarie mendengus kesal, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya tujuannya datang ke tempat ini murni hanya untuk bersenang-senang. Setelah menjalankan misi banyak nan menyusahkan dengan bayaran yang setimpal, jiwanya membutuhkan sebuah penghiburan.
Di dalam keramaian ini, sudut mata Clarie tak sengaja menemukan hal mengejutkan. Alyta dan Ben, wow ini sebuah kejutan. Oh dan apa lagi itu? Ada tambahan lainnya, Renata dan Dean. Aha, tampaknya kepergian Clarie merupakan sebuah berita bagus untuk mereka.
"Siapa orang yang tadi Anda lihat? Tampaknya Anda tidak senang saat melihat mereka,"
__ADS_1
"Adik angkatku, mantan pacarku, wanita aneh, dan iblis," jelas Clarie sembari menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Damian menatap mereka bergantian, mulutnya tidak berhenti memakan permen kapas yang baru saja dibeli.
Clarie dan Damian tanpa sadar terus menatap keempat orang itu. Meski menatap dengan tatapan yang datar, di dalam hati mereka api sudah berkobar dan siap melahap apa yang ada di depannya. Ok, sekarang mereka butuh pelampiasan. "Aku tidak paham kenapa semakin lama melihat mereka, aku jadi semakin kesal saja," desis Damian.
"Yah, aku juga sama. Rasanya tidak adil bukan? Kamu tahu Damian? Semenjak dekat dengan iblis itu, aku jadi seperti monster. Dendam, kecewa, dan kesedihan bercampur menjadi satu, mirip seperti ramuan yang manjur untuk memanggil makhluk mengerikan," Clarie memberi jeda sebentar. "Pertama kali aku membunuh orang, pikiranku menjadi kosong dan ada rasa kepuasan tersendiri. Namun lama kelamaan digantikan rasa penyesalan,"
"Kamu beruntungkan bergabung dengan kelompok rahasia itu? Senjata yang dimodifikasi, aksesoris yang berguna, barang-barang yang berfungsi tidak biasa. Lalu misi yang memberikan bayaran setimpal,"
"Yah, lumayan, paling tidak aku punya simpanan uang untuk berjaga-jaga. Tentunya aku ingin lepas dari iblis itu, aku mulai ragu dengannya. Janjinya tak pernah dia genapi,"
__ADS_1
"Kalau begitu tagih saja, ancam dia, kalau tidak langsung habisi. Mudah kan?"
"Iya mudah, sayangnya aku tidak bisa. Kami terikat perjanjian,"