Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
79. Keputusan


__ADS_3

Cklek


Clarie membuka pintu dan berjalan dengan terhuyung. Pagi sial dan pagi yang menyebalkan. Di saat suasana hatinya sudah tenang, mengapa Sean sialan itu mengeluarkan kalimat yang membuat otaknya berpikir. Mengapa?


"Clarie, sebagai salah satu orang yang tinggal di rumah ini. Seharusnya kamu tetap memperhatikan sikap sopanmu itu? Lihat ada tamu, mengapa kamu malah mengabaikannya?" Aleeza menghentikan langkah Clarie.


Gadis itu berbalik menghadap nenek tua yang menurutnya memiliki sifat yang sangat mengesalkan. Di sofa ruang tamu, Clarie dapat melihat seorang kakek. Mungkin seumuran dengan Aleeza.


"Sepertinya saya baru sadar kalau selama ini saya sangatlah bodoh. Bisa-bisanya saya masuk ke perangkap yang hampir mirip dengan anak sialan itu," ucap Clarie kemudian melanjutkan perjalanannya ke kamar. Damian, bocah laki-laki yang mungkin bisa dirinya percaya. Jika bocah itu tidak bisa, maka lebih baik lenyap saja.


" .... Dengar Damian, Tante hanya milikku dan milik Paman Ben! Tante tidak mungkin sudah menghianati Paman! Dasar pembohong, katakan kalau yang baru saja kamu katakan itu bohong,"


"Heh, anak kecil manja sepertimu itu sangat menyebalkan. Lalu anak kecil sepertimu tahu apa tentang masalah orang dewas? Keluar, jangan mengganggu,"


"Katakan kalau tadi kamu berbohong! Iya kan?"


Hm ... apa lagi keributan ini? Damian dan Daisy, mereka sedang bertengkar? Bahkan Aleeza tidak mempedulikan keributan yang dibuat oleh kedua anak ini. Apa yang nenek tua itu lakukan saat di rumah???!!!


"Damian, Daisy," panggil Clarie setelah membuka pintu kamarnya. Pertengkaran pun berhenti. "Mengapa kalian ribut? Ada tamu di luar, tolong jangan bertengkar," lanjutnya.


Kemudian Clarie menutup pintu dan merebahkan dirinya di atas kasur. Daisy mendekati Clarie dan ikut berbaring di sebelah gadis itu. "Tante punya masalah? Tante bisa cerita ke Daisy," ujar Daisy.

__ADS_1


Clarie menggelengkan kepala, tapi senyumannya yang tidak seperti biasa membuat Daisy percaya bahwa ada beberapa hal yang mengganggu Clarie.


Beberapa menit berlalu, hanya ada keheningan yang mengisi ruangan itu. Bahkan Daisy yang biasanya cerewet sekarang ini diam seribu bahasa. Damian yang sedari tadi duduk sambil memandangi layar ponselnya mulai sedikit bosan.


"Ibu, apa yang akan Ibu lakukan setelah ini?" tanya Damian.


"Mengucapkan salam perpisahan, mungkin. Atau menghilang secara tiba-tiba," jawab Clarie. "Dunia sangat tidak adil, aku ... aku tidak tahu mengapa harus seperti ini. Menjalani kehidupan yang ... yang sangat menyebalkan,"


"Apa Ibu bertemu dengan seseorang? Orang yang baru Ibu ketahui?" Damian bertanya kembali.


"Hm, dan yah ... seperti itu. Papa dan Mama mengatakan kalau dia adalah suamiku," balas Clarie.


...----------------...


Clarie POV


Seseorang menggoyangkan tubuhku, sayang sekali aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku cukup lelah. Lelah karena memikirkan hal yang terlalu rumit, yaitu kehidupanku. Aku tidak tahu mengapa kedua orang tuaku bersikap itu kepadaku. Ya, dunia memang tidak adil dan tidak ada yang pernah adil.


"Nona, ayo bangun! Ada masalah, dan Anda harus tahu itu," suara Damian terus mengganggu tidurku. Lagipula ada masalah apa? Apa Ben atau Neneknya?


Terpaksa aku pun bangun, masih dengan setengah sadar aku berjalan bersama dengan Damian. Entah apa yang ingin bocah ini tunjukkan kepadaku.

__ADS_1


Di ruang keluarga rumah ini, semuanya sudah berkumpul. Ekspresi mereka sama, datar, kecuali si Nenek. Dia tampak sangat bahagia, seperti baru memenangkan lotre saja.


"Ah, Clarie, ayo duduk," katanya. Aku menatap curiga orang tua itu sambil duduk, begitu juga dengan Damian. "Nah, karena orang rumah ini sudah berkumpul, ada yang ingin kusampaikan kepada kalian," lanjutnya.


Ada hening sejenak sebelum Nenek melanjutkan perkataannya. "Ben dan Alyta sebentar lagi akan menikah,"


Semua hening, termasuk diriku. Apa-apaan ini? Beberapa waktu lalu dia berkata bahwa aku adalah satu-satunya. Lalu sekarang, kenapa? Kenapa ini?! A-atau jangan-jangan-jangan Nenek itu sudah tahu kalau aku punya suami?


Tu-tunggu, ini bukan pokok permasalahannya. Masalahnya adalah aku yang akan dikeluarkan dari rumah ini. Ya, sangat menyedihkan. Hidupku tidak jauh berbeda dengan penjara dan budak, sangat menyedihkan.


Aku menoleh ke arah Ben, kepalanya tertunduk dengan wajah yang datar. Ekspresi apa-apaan itu?! Tapi sepertinya aku tahu kalau dia tidak suka dengan hal ini.


"Hanya itu?" tanyaku memecah keheningan.


Nenek Ben menatapku sedikit sengit. "Iya, hanya itu. Kenapa? Ada masalah? Kamu tidak setuju? Kalau Cucuku menikah denganmu, sampai kiamat pun kalian tidak akan pernah menikah," katanya.


Jari-jariku terkepal, aku sama saja sedang dihina. Nenek tua ini meremehkanku. "Kalau begitu, apapun yang akan saya lakukan ... Anda tidak akan ikut campur bukan? Dan saya juga bebas melakukan apa saja. Setiap keputusan yang saya ambil tidak akan dipengaruhi oleh Anda dan Cucu kesayangan Anda bukan?" tanyaku.


"Iya,"


"Berarti, saya resmi keluar dari bagian rumah ini. Mulai sekarang saya adalah orang asing," kataku. Namun, Nenek itu tidak memperhatikanku dan malah pergi dari ruang keluarga. Baiklah, keputusan sudah kuambil, Sean. Akan kuakhiri kehidupanku.

__ADS_1


__ADS_2