
Diva memandangi Renata terus menerus, tangannya mengelus kepala Renata yang disenderkan ke bahunya. Renata sedang bersedih, karena Dean tentunya. Dean tidak pulang selama berminggu-minggu, papa dan mamanya pergi ke desa, di mana kakek dan nenek tinggal. Mereka menjenguk salah satu saudara yang sakit.
Di rumah yang besar sendiri, meski ada beberapa pelayan, tapi mereka tidak terlalu suka dengan Renata. Sedih rasanya. "Kamu nggak pulang saja Div? Aku nggak apa-apa kok kalau harus sendiri," ucap Renata dengan nada lesu.
"Ren, aku kan sahabat kamu. Ya wajar kalau aku ada di sini, apalagi kamu kesepian begini. Tahu nggak sih? Nggak enak," jawab Diva dengan ceria, berharap keceriaannya itu menular ke sahabatnya. "Daripada terus sedih, kenapa nggak jalan-jalan saja? Kita ke mall, bioskop, salon, taman hiburan, kedai ice cream punya Kak Nathan," tambahnya.
Renata terkikik mendengarnya, kemudian mengangguk menyetujui usulan sahabatnya itu. Dia kemudian beranjak dari sofa dan bersiap-siap untuk pergi. "Div, tapi aku penginnya ke kedai calon pacar kamu. Hari ini ke sana saja ya?"
Diva dan Renata pergi menggunakan bus kota. Tidak seperti biasanya, kedua gadis itu memperhatikan jalanan, sesekali menunjuk ke toko-toko yang menarik perhatian mereka. Diva lega melihat sahabatnya kembali ceria, kembali berjalan-jalan bersama dengannya.
__ADS_1
Setelah sampai di kedai, Diva membuat pesanan. Matanya selalu melihat seluruh ruangan itu, mencari pemiliknya. "Renata, Kak Nathan ada di sini! Dia...dia jalan ke arah meja kita kan? Iya kan? Benar kan? Mataku nggak salah lihat?" katanya dengan gembira bercampur gugup.
Memang benar Nathan berjalan ke meja yang ditempati oleh Diva dan Renata. Dan dia fokus ke Renata, gadis yang diceritakan oleh Ben. Gadis yang membuat Ben mendapatkan seseorang yang mengagumkan. "Hai, terima kasih sudah jadi pelanggan setia ya," sapa Nathan.
"Sama-sama Kak Nathan, ice cream yang dijual enak sih. Jadinya hati kita nggak pernah pindah kedai," jawab Diva dengan semangat. Pujaan hati sudah mendekat, kenapa harus mundur? Kalaupun terlihat aneh di depan Nathan, Diva tidak masalah.
Deg! Terkejut, Renata terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nathan. Orang-orang di sekitarnya selalu mengucapkan nama Clarie, entah itu tetangga, teman kampus, dan ke manapun dia pergi. Seberapa populer si Clarie itu? Sampai-sampai Nathan juga bisa mengenalnya.
"Kamu tahu dari mana kalau kami itu bersaudara?"
__ADS_1
"Ya itu rahasia. Selain itu, saya juga tahu kok kalau Renata itu adik angkat dari Clarie, kamu juga istrinya Dean kan?" tanya Nathan sambil tersenyum polos. Dia rasa Renata sudah mulai marah.
"Kakakmu itu agak berubah, mungkin gara-gara pertengkaran kalian. Wajahnya selalu lesu, saya jadi kasian ke dia. Memang sih susah akur, apalagi kalian kan tidak sedarah. Oh iya bagaimana keadaan suami kamu? Sehat kan? Selamat atas pernikahannya ya,"
"Terima kasih ya Kak. Tapi, bisa tolong jangan bicara topik itu lagi? Saya nggak suka,"
"Oh maaf ya, kalau begitu saya kembali bekerja lagi. Selamat menikmati,"
Nathan kembali melayani pelanggan lain dengan ceria. Namun Renata tidak sebahagia tadi, suasana hatinya hancur. "Div, lebih baik kamu nggak usah suka sama Kak Nathan deh. Cancel, nyebelin banget,"
__ADS_1