
Dengan langkah lebar Leon melewati puluhan orang di taman hiburan, sesekali dia melirik jam yang ada ditangannya. Kepergian Clarie yang cukup lama itu menimbulkan beberapa kejadian yang tak pernah dibayangkan.
Pertama, berita pertunangan Ben dan Alyta yang menggemparkan media. Kedua, berita kerjasama antara L Group dan perusahaan milik Ben. Dan ketiga, kecelakaan yang menimpa tuan dan nyonya Lin. Ketiga berita itu menjadi berita terpanas selama beberapa hari ini.
Sial sial, aku terlalu sibuk mengurus pekerjaan. Aku harap dia tidak marah.
Taman hiburan adalah tempat yang dipilih Leon untuk bertemu dengan Clarie. Mungkin Clarie akan berpikir dia hanya akan mengajaknya bersenang-senang, tapi sayangnya tidak. Dia ingin menyampaikan berita-berita itu, firasatnya mengatakan itu adalah deklarasi perang antara sekelompok orang dengan Clarie.
Dari kejauhan Leon melihat Clarie yang sedang bercakap-cakap, dia mempercepat langkah. Namun dia memperlambatnya, melihat siapa yang sedang mengobrol dengan gadis itu.
"Ternyata benar, kamu hanya ingin memanfaatkanku saja Ben. Tapi kamu salah, kamu telah mengubahku menjadi hal buruk. Ah sudahlah, bicara denganmu membuatku sakit kepala saja. Oh dan ngomong-ngomong, aku akan kembali bekerja. Jadi tenang saja, kamu tidak usah membuang tenaga untuk membujukku,"
"Bukan begitu maksudku, kita akan memperbarui perjanjiannya. Ada perubahan sedikit,"
"Percuma saja, aku yakin kejadian seperti ini akan terulang kembali. Jadi jangan buang-buang kertas dan tinta ya, kasihan uangnya. Lebih baik ditabung saja, selamat atas pertunangan kalian. Semoga cepat punya penerus ya, aku mau jalan-jalan dulu,"
Leon memastikan Clarie sudah berada jauh dari Ben, Dean, Alyta, dan Renata. Dia berusaha mendekatinya dengan santai dan berpura-pura tidak tahu dengan kejadian barusan. "Clarie, maaf aku terlambat. Apa sudah terlalu lama?" sapa Leon, tangannya melambai dan ada senyuman di wajahnya.
Clarie membalas lambaian tangan Leon dan senyumannya. Berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh pria itu, Clarie terlihat lebih santai dari biasanya.
__ADS_1
"Kamu sangat terlambat, aku sudah beli permen kapas tadi. Lain kali jangan membuat janji kalau tidak bisa menepatinya mengerti,"
Jleb! Dada Leon serasa tertusuk anak panah transparan. Kalimat yang sangat menyindir, benar-benar gadis yang berani. "Ma-maaf, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa kalau sudah waktunya aku berangkat ke sini," kata Leon dengan kikuk. Detak jantungnya masih belum stabil.
Clarie menghela napas dan kembali tersenyum. "Leon, perkenalkan ini Damian, putraku,"
Jder! Sekarang Leon terasa seperti tersambar petir. Hm, Leon rasa setelah pulang dari taman hiburan dia harus cepat-cepat ke rumah sakit untuk mengecek kesehatannya. Dikhawatirkan nanti malam bisa saja dia akan kehilangan jantung. Sekarang saja jantungnya berdetak, bukan. Jantungnya melompat-lompat ingin keluar dari tubuhnya.
"Dia putramu? Sejak kapan?" tanya Leon lirih, menatap tak percaya ke arah anak laki-laki yang ada di samping Clarie.
"Sejak kemarin, aku memungutnya,"
"Nah Damian, kamu tidak perlu ibu kenalkan ke Leon. Nantinya kalian juga akan mengenal satu sama lain. Sekarang ayo nikmati semua hiburan ini, Leon yang traktir kan?"
"I-iya,"
"Bagus, ayo main sepuasnya!"
......................
__ADS_1
Setelah seharian penuh berada di keramaian dan melepas penat. Seperti biasanya, Clarie dan Leon mampir ke cafe langganan mereka dengan pesanan yang sama. Hanya saja, ada satu orang tambahan, Damian.
Leon gugup setiap kali bertatapan dengan mata anak laki-laki itu. Dia memang tidak terbiasa berdekatan dengan anak kecil, dan lagi, Damian sedikit berbeda dengan anak-anak seumurannya. Dia nampak tenang, dan waspada. Dia selalu memerhatikan keadaan sekitar, orang-orang, dan benda.
"Ugh, aku ingin mandi pakai air hangat nanti," ucap Clarie sambil meregangkan otot untuk kesekian kalinya. "Kalau yang namanya Ben itu menjengkelkan ya? Baru kutinggal beberapa hari saja dia sudah langsung bertunangan dengan mantan tunangannya,"
Leon tercengang sebentar, Clarie mengatakannya dengan biasa saja seolah itu bukan apa-apa. Bukannya dia sehatusnya kecewa atau sedih?
"Leon, besok bisa menemaniku menghapus tato?"
"Y-ya, tentu. Ta-tapi Clarie, kamu tidak kecewa atau apa? Ben meninggalkanmu loh,"
Alis sebelah kiri Clarie terangkat. "Kenapa harus sedih atau kecewa? Itu berarti aku sudah menemukan jawabannya Leon. Kebimbangan ini sudah terjawab, setelah memenuhi perjanjiannya, aku akan pergi dari kehidupan Ben. Kamu tahu? Tidak baik berada di samping malapetaka, benar bukan?" Clarie kembali menampilkan senyumnya yang cerah.
"Begini Clarie, ada tiga berita yang sedang menjadi buah bibir. Salah satunya adalah berita pertunangan Ben dengan Alyta. Lalu kerjasama antara L Group dan perusahaan milik Ben. Dan yang terakhir adalah tuan dan nyonya Lin mengalami kecelakaan, mereka sedang dirawat sekarang,"
"Wah, beritanya menarik sekali! Sampai-sampai membuatku ingin melenyapkan orang-orang sialan itu. Hahaha," Clarie tertawa terbahak-bahak. Namun di detik berikutnya ekspresi wajah berubah menjadi serius, menyeramkan, dan terasa aura membunuh. "Aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Aku akan lepas dari jaring laba-laba ini, lihat saja aku akan menghancurkan mereka menjadi debu,"
"Eh? Apa Ben termasuk? Bukannya kalian sama-sama mempunyai rasa?"
__ADS_1
"Setelah mengetahui kebenarannya aku akan menimbang. Dan kebenaran yang baru saja kutemukan adalah, Ben masuk dalam daftar orang yang ingin kusiksa habis-habisan,"