
Nah, ini dia kelanjutan babnya!! Selamat membaca❤❤❤.
......................
"20 milyar untuk keempat bocah itu!" teriak Nic, teriakannya itu mengundang perhatian orang. Sangat mengundang.
"20...milyar untuk keempatnya, nampaknya Anda sudah menunggu momen ini yah Tuan. Tapi tak apa! Apa ada yang ingin membeli dengan harga yang lebih tinggi lagi?!"
"21 milyar!"
"25 milyar!"
"30 milyar!" mulailah terdengar suara orang-orang, nominal yang lumayan besar. Tapi jangan sampai terlarut dalam perebutan seperti ini, itu sama saja membuang uangmu dan tidak memakai otak!
Sahutan orang-orang yang semakin lama harga semakin tinggi, mereka pikir keempat anak itu harganya semurah nominal yang kalian sebutkan? Sayang sekali manusia itu sangat mahal.
Mataku mengikuti ke mana Nic pergi, pria itu maju ke depan. Sebenarnya dia kenapa dan mau apa sih?
__ADS_1
"80 milyar! 88 milyar! 92 milyar! 100 milyar!" teriaknya. Semakin dia mendekati panggung, semakin besar nominal yang keluar dari mulutnya. Gila, uang sebesar itu mau tidak bisa didapatkan dengan mudah!
"Ba-baiklah, apa ada yang ingin menawarkan harga lebih dari 100 milyar?!" tak ada suara sedikit pun, artinya tak ada yang akan menawar lagi. "Baiklah, Tuan ini yang mendapatkan..." sebuah tinju mendarat di wajah laki-laki itu, lagi dan lagi. Nic memukulnya tanpa jeda sedikit pun, kalau dilihat dari sini dia lebih mirip robot yang sudah diprogram ketimbang mirip manusia.
"Nona, bawa anak-anak itu keluar sekarang," kata Damian. Aku mengangguk dan segera ke panggung.
"Halo, ayo keluar dari sini. Biar paman itu yang mengurus orang jahat itu," kataku kepada mereka. Meski mereka terlihat kelelahan, bau-bau kebebasan membuat semangat mereka terlihat jelas. Bebas adalah hal yang mereka nantikan.
Aku dan keempat anak dari keluarga Xia keluar lewat pintu belakang. Di sini aku menunggu Damian dan Nic. Tak lama kemudian mereka berdua keluar, tentu dengan penampilan yang berbeda-beda. Damian yang masih dalam keadaan rapi, dan Nic yang tangannya sedikit berlumuran darah.
......................
"Terima kasih sudah menolong kami," keempat anak kecil dengan marga Xia membungkukkan badan mereka ke arah kami. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana pikiran Tuan Xia sampai-sampai rela menjual anak dan keponakannya, rupanya dia sudah mulai gila.
"Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda, tolong katakan siapa nama kalian. Saya akan memberitahu Ayah bahwa kalian sudah menyelamatkan kami. Ayah pasti akan memberikan imbalan yang besar untuk kalian bertiga," ucap gadis tertua. "Tentunya kalian tidak mungkin menolong kami cuma-cuma," tambahnya.
"Maaf sekali, tapi kami tidak mau memberi tahu nama kami kepada kalian. Lebih baik kalian makan ini," Damian melempar roti ke arah mereka, mungkin lain kali aku harus mengajarinya memberikan barang kepada orang lain dengan benar. "Makan itu sambil menunggu Ayah dan Paman kalian,"
__ADS_1
Sungguh, sebagai ibunya aku merasa gagal mendidik anak itu. Ingin kuberi hukuman, tapi apa? Lagi pula aku juga tidak tega, bagaimana ini?
"Kamu baik-baik saja?"
Aku menoleh ke arah Nic, darah di tangannya masih juga belum dia bersihkan. Ya Tuhan, hari ini benar-benar gila. Aku menyerahkan sapu tangan yang memang kebetulan aku bawa. "Tolong bersihkan tanganmu dengan sapu tangan ini. Anak-anak itu tidak akan berselera saat melihat darah yang ada di tanganmu," kataku. Dia menerimanya dan segera membersihkan darah yang menempel.
Mataku melirik ke keempat anak itu, yup, seperti yang aku katakan tadi. Mereka mulai menggigit roti yang dibeli oleh Damian.
"Kendaraan kalian akan tiba sebentar lagi. Lalu tolong jangan katakan pada siapapun mengenai robohnya gedung itu ya," semua anak mengangguk menanggapi ucapan Nic. Bertepatan dengan selesainya pesan barusan, sebuah mobil mulai menepi. Nic dan Damian mengajakku untuk meninggalkan mereka, heran deh, kenapa mereka berdua kompaknya minta ampun?
"Terima kasih untuk hari ini Nic,"
"Sama-sama, kalau begitu aku akan pergi,"
"Hei kenapa buru-buru sekali? Paling tidak kamu minum atau makan dulu, baru pergi," kataku berusaha membuatnya tetap bertahan di sini meski hanya sebentar.
"Tapi masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan. Kalian segera kembali ke rumah, jangan sampai dibunuh dan masuk ke televisi dan koran," katanya sambil melangkah meninggalkan kami. Aku berdecak kesal, dia ini menjengkelkan sekali sih??!! Lalu dari mana dia tahu namaku?!
__ADS_1