Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
73. Rumah Sakit (3)


__ADS_3

"Ini baju untuk beberapa hari, apa kamu yakin mau menjaga mereka di sini?"


"Kamu pikir aku orang yang seperti apa? Aku masih memiliki rasa kasihan,"


"Lalu Damian,"


"Dia tetap berada di sana, dia bukan anak yang suka mencari masalah. Jadi tenang saja," untuk beberapa saat kami tidak mengeluarkan sepatah katapun. "Ini saatnya kamu memenuhi janjimu, Ben. Bantu aku untuk membalaskan dendam," ucapku akhirnya.


Ben menunduk, kemudian helaan napas terdengar. "Katanya kamu kasihan, kenapa malah ingin membalaskannya sekarang,"


"Tentu saja aku kasihan, mereka berbaring di sana dalam waktu yang lama. Mereka pasti menderita, aku ingin menghilangkan penderitaan mereka. Membuat mereka berada di alam baka. Bagaimana? Bukankah aku terlalu baik?" terdengar helaan napas lagi. Pria satu ini kenapa sih? Pekerjaannya menghela napas terus jika setiap berada di sekitarku.


"Kalau kamu tidak mau membantuku ya sudah, karena aku juga tidak selemah yang kamu bayangkan. Jika aku mau, malam inipun, aku bisa melenyapkan kedua orang tuaku. Lalu Dean dan Renata, Rebeca dan Diva,"

__ADS_1


Tiba-tiba tangan Ben menggenggam tanganku. Aku memalingkan wajah, tidak boleh menatapnya sekarang karena wajahnya sangat memuakkan. Dasar sialan. "Clarie, tunggu sampai waktunya tiba," katanya.


Waktunya tiba, tapi kapan? Dia sangat pandai membual. "Kapan? Sampai aku meninggal? Aku sudah sabar menunggu, tapi kamu...kamu terus saja bilang 'tunggu', 'tunggu', dan 'tunggu'," aku menggigit bibir bawah dan tanganku terkepal. Selama ini aku sudah menjadi orang yang terlalu baik, sampai-sampai mau dibodohi.


Tapi tidak apa-apa, kesalahan dan kegagalan adalah sebuah pelajaran hidup. Lain kali aku akan lebih berhati-hati. "Aku akan ke kamar, tolong jangan mengusik Damian,"


......................


Tok Tok Tok


Sekarang adalah saatnya aku melakukan peran. Sebagai seorang anak, aku mempunyai kewajiban untuk mengurus kedua orang tuaku. Seberapa bencinya, aku masih tetap anak mereka. Aku menyuapi mereka dengan hati-hati.


"Terima kasih Clarie," ucap mereka. Senyuman yang terukir di wajah. Terlihat memuakkan.

__ADS_1


"Apa ada masalah? Kamu terlihat sangat murung,"


"Banyak, kalian berdua tidak perlu tahu. Ini adalah urusanku," jawabku ketus. Mereka tidak tahu merekalah yang membuat hariku penuh dengan penderitaan.


"Baiklah. Jangan lupa untuk merawat dirimu sendiri,"


"Tolong jangan mengkhawatirkanku, sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja,"


Mendadak, pintu terbuka dari luar dan seseorang masuk ke dalam. Papa dan mama terlihat sedikit gugup dengan kedatangan orang itu, padahal dia terlihat sangat ramah. Tunggu! "Hei, apa yang kamu lakukan di sini?" geramku sambil menarik bajunya. "Mau apa kamu ke sini? Lalu bagaimana kamu tahu namaku yang asli?" di kalimat terakhir aku melirihkan suara supaya dua orang yang lain tidak mendengarnya .


"N-nak? Ka-kamu sudah mengenal Sean?" suara mama yang bergetar, dan pria dihadapanku yang mulai tersenyum. Oke, kendalikan diri dan buat seolah-olah aku salah orang.


Aku melepaskan cengkraman tanganku dari bajunya. Nic sialan, umpatku dalam hati. "Tidak, aku terlalu gegabah. Wajahnya itu terlalu mirip dengan seseorang,"

__ADS_1


"Selamat malam, apa Anda berdua sudah minum obat?" Nic yang mengaku bernama Sean tersenyum. Anehnya, papa dan mama bertambah gugup dan ketakutan.


Tuhan, kenapa banyak sekali hal yang tidak kuketahui!!


__ADS_2