
"Apa sudah lebih baik Dean?" tanya Leon. Matanya menatap Dean yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Dean menggelengkan kepala kesal tanda bahwa tidak ada perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Ya iyalah, baru saja beberapa jam dia dirawat di rumah sakit. "Kak Leon itu niatnya bercanda atau apa sih, baru beberapa jam lalu aku masuk ke rumah sakit," sarkas Dean.
Leon tertawa melihat Dean yang sudah mendapat julukan 'Teman Apartemen' darinya. Tawanya lama-lama semakin samar, ingatan tentang kabar bahwa Dean masuk ke rumaj sakit kembali berputar.
"Dean, kamu yakin nggak mau lapor ini ke polisi?" jantung Leon berdegup kencang menunggu jawaban yang akan dia dengar. Orang yang berulah sampai membuat orang lain mengalami patah tulang jelas sangat kejam, apalagi Dean bilang kalau dia tidak ada masalah apa-apa dengan orang sekitarnya. Kecuali dengan Clarie, mantannya.
Untuk kesekian kalinya Dean menggelengkan kepalanya.
"Dean! Ayo sadar! Masa kamu tidak mau melaporkannya sih?! Kalau kita lapor ke polisi kan setidaknya tidak ada korban lainnya! Apalagi korban yang nggak ada sangkut pautnya sama sekali!"
"Kak Leon! Udah lah, aku juga bingung Kak! Kalau aku mau lapor sudah dari beberapa jam lalu kan?" Dean mengambil jeda sebentar, matanya mulai berkaca-kaca. "Apa ada yang menaruh rasa dendam pada keluarga Lin?"
Leon menghela napas dengan kasar, frustrasi dengan pemikiran bocah yang baru lahir kemarin sore ini. "Dean, dengar ya. kalaupun ada yang dendam, nggak mungkin mereka bakal main sekasar ini. Apalagi sampai mukanya kelihatan? Mereka sama aja cari mati atau nggak punya otak, paham?"
"Tapi Kak,"
"Ssttt! Nggak ada tapi-tapi lagi, diam!" Dean akhirnya mengangguk pasrah. "Em, Dean, kamu tahukan kalau Clarie sudah pulang? Hari ini dia sepertinya kurang sehat," Leon membuka pembicaraan, dia juga duduk mendekat.
Mendengar nama mantan kekasihnya, Dean langsung dalam kondisi siap. Tatapan matanya seakan mengatakan kurang sehat? Maksudnya?
__ADS_1
"Karena tadi aku terlalu fokus dengan ceritamu, aku jadi lupa waktu. Nah saat aku tiba di cafe, Clarie tampak seperti biasanya. Tapi waktu aku mengatakan kalau aku terlambat gara-gara kamu, dia sedikit berubah.
Bahkan sampai didepan gadis itu ceritamu masih membekas. Bagaimana orang yang membuat tulangmu patah,"
Dean berdeham, lalu berkata, "Mungkin dia masih terguncang dengan berita yang Kak Leon katakan. Dulu saat Clarie terguncang, dia lebih memilih menyendiri atau membuat luka di tangan," jari Dean menunjuk ke arah lengan, di mana Clarie yang dulu biasanya membuat luka di bagian tubuhnya itu.
"Mungkin sekarang caranya sudah berbeda, tapi aku lumayan senang karena Clarie sudah tidak lagi menyakiti dirinya lagi," ucap Dean mengakhiri penjelasannya.
Suasana mendadak hening.
"Hei, kamu tahu akhir-akhir ini kebanyakan media memberitakan tentang pembunuhan. Sudah banyak korbannya,"
"Hahaha, tenang dong Kak Leon, santai aja. Mungkin memang..." sebelum menyelesaikan ucapannya, Dean menyadari satu hal. Jangan-jangan dia adalah salah satu target si pembunuh! "Kak,"
......................
22.00, tidak Leon kira mengobrol dengan Dean akan memakan waktu yang sangat lama. Sebagai teman apartemen yang baik, Leon menunggu Dean sampai terlelap. Lalu selanjutnya dia akan meninggalkan Dean dan menyerahkannya kepada perawat atau Renata.
Pelan, dia menutup pintu.
"Kak Leon, terima kasih sudah membantu ya," tiba-tiba di sampingnya sudah ada Renata. Sempat kaget? Iya.
__ADS_1
"Lain kali jangan begitu,"
"Iya, iya, maaf. Uhm, boleh bicara sebentar Kak? Tolong ya, walau Kak Leon sama sekali nggak suka sama aku. Tapi tolong kali ini dengerin ya,"
"Ok, tapi sebentar aja,"
Kedua orang itu duduk di kursi terdekat, kemudian Renata mulai membuka percakapan mereka. "Kak Leon pasti udah tahu kalau ini ulahku kan?"
"Bayar orang buat bikin patah kaki sama tangan suamimu sendiri?" tanya Leon tak percaya.
"Heeehh!! Bukan! Bukan itu! Kerjasama perusahaan itu, ditambah pertunangan Nona Alyta. Kak Leon sudah tahu kan?"
"Ya, lalu? Kamu mau apa lagi?"
"Semenjak hari itu kota ini jadi penuh berita pembunuhan, apa ini ada hubungannya dengan Clarie?"
"Maaf ya Renata, tapi kamu tidak punya hak untuk langsung menyimpulkan begitu. Aku tahu kamu itu sama sekali tidak suka Clarie, tapi jangan asal tuduh tanpa bukti!" ucap Leon dengan nada tajam.
Renata memainkan jarinya. "Iya, belakangan ini aku juga menyesal,"
"Percuma, semua sudah terlanjur. Kamu tinggal menunggu,"
__ADS_1
"Tapi Kak, tolong jaga jarak dengan Clarie mulai sekarang,"
"Kenapa? Itu urusanku dengan Clarie, jangan masuk ke hubungan kami sama seperti kamu membobol hubungan Clarie dengan Dean dulu!"