
Aku memutuskan untuk keluar mencari udara bersama dengan Damian. Semuanya sudah berubah dan itu membuatku semakin kesal. Aku kesal, kesal melihat senyum yang terpampang di wajah mereka. Aku benci. "Bagaimana bisa setelah menghacurkan hidupku dan membuatku sengasara, mereka bisa tersenyum seperti itu?!" gumamku.
"Anda baik-baik saja?"
"Hm? Tidak, aku jadi semakin ingin melenyapkan mereka. Sekarang kebencianku bertambah,"
"Tapi Anda yakin pria itu mau membantu Anda? Lihat saja sikapnya belakangan ini, saya tidak yakin," Ya! Sikap Ben belakangan ini memang aneh, dan mungkin inilah yang sebenarnya. Sosok aslinya! Yang mungkin dia sembunyikan.
Grep! Aku merasa ada tangan seseorang berada di atas bahu kiriku. "Clarie! Kamu benar Clarie kan?" tanyanya. Dan aku tahu siapa pemilik suara ini. Rebeca!
Aku berbalik menghadapnya, memandangnya. Sekilas dia tampak terkejut dengan sikap yang kutampilkan. Karena dulu, aku adalah pribadi yang terlalu lembut. "Ya Rebeca, kenapa?" tanyaku balik.
Dia tertawa sebentar, lalu mendekat. "Kamu mau apa hah? Menghancurkan hubungan Dean dan Adikmu yang mulai membaik? Jangan harap ya Clarie, di hati Dean sudah tidak ada lagi tempat untuk dirimu itu," bisiknya di telingaku. "Karena kamu tidak pantas hidup dan berada di hati orang lain. Ingat itu baik-baik," lanjutnya.
"Memangnya Dean ada di sini?" tanyaku beralih ke topik lain. Yang lebih penting untuk diriku.
__ADS_1
Rebeca sedikit menjauh dengan mundur beberapa langkah, wajahnya masih saja sama. Terlihat menjengkelkan. "Dia masuk ke rumah sakit kan gara-gara kamu. Tulangnya patah,"
"Syukurlah,"
Matanya membulat. "Kamu bilang apa barusan? 'Syukurlah'? Clarie jangan-jangan kamu sudah gila ya?"
"Bersyukurlah kepada Tuhan karena orang yang mencelakainya masih sayang kepada nyawa sang korban. Tidak kusangka Dean masuk ke daftar korban pembunuhan itu," kataku lalu terkikik sebentar. Sedangkan Rebeca memandangku setengah geram dan setengah bingung.
Kami diam beberapa saat, wajar saja. Kami ini adalah musuh, aneh jika musuh terlihat sangat harmonis. Kemudian Diva datang, menatap heran kami berdua. "Hei, kalian ada di sini?" tanyanya. Dan kami membalasnya dengan anggukan kepala.
"Diva, bisa antar ke kamar di mana Dean di rawat? Aku mau menjenguk dia, kata Rebeca tulangnya patah," pintaku.
Nomor 101, itu adalah kamar di mana Dean di rawat. Diva membuka pintu dan mempersilahkan kami untuk masuk. Dean yang menyadari kedatangan kami, memasang senyuman bahagianya.
"Hai Kak Dean, gimana keadaan Kakak?" Rebeca langsung berada di samping Dean. Dean masih tersenyum. "Lumayan, makasih udah jenguk ya," katanya.
__ADS_1
Dia beralih menatapku yang mulai mendekat, aku membalas senyumnya. "Hai, aku nggak tahu kalau kamu ada di sini," sapaku.
"Nggak apa-apa, makasih udah mau jenguk ya," aku mengangguk. "Kamu ke sini sama siapa Clarie?"
"Ben sama Alyta, mereka masih di kamar Papa Mama. Oh iya, Renata juga ada di sana. Tapi kenapa Renata pakai pakaian begitu? Memang ada yang meninggal,"
"Temennya yang dulu ada yang meninggal, salah satu dari korban pembunuhan yang belakangan ini ramai dibicarakan. Diva juga baru pulang dari pemakaman temen kampus kan?"
Diva mengangguk. "Kak Clarie mau aku buatkan minum?" tanyanya. Ya ampun, dia juga ikut-ikutan berubah? Dia jadi manis banget.
"Nggak, sebentar lagi aku juga mau balik ke kamar Papa Mama. Jadi Dean, semoga nyawamu masih bisa bertahan ya. Jangan meninggal dulu," setelah mengucapkannya sebagai kalimat perpisahan untuk hari ini. Aku dan Damian keluar dari kamar dan berjalan kembali ke kamar Papa dan Mama di rawat.
Kenapa Diva juga ikut-ikutan berubah seperti itu ya? Ada yang aneh, tidak mungkin mereka tiba-tiba berubah dalam waktu beberapa hari saja. Sebelum masuk ke ruangan, aku mengambil dan membuang napas untuk menghilangkan rasa gugup yang biasanya datang.
Suasana masih sama seperti tadi, banyak percakapan dan tawa. Membuat rasa benciku kembali dan semakin bertambah. "Renata, bagaimana kalau aku yang mengurus Papa dan Mama? Sedangkan kamu mengurus suamimu saja?"
__ADS_1
Pertanyaanku mengundang perhatian kelima orang yang ada di dalam ruangan ini. Mama terlihat berseri-seri.
"Ok," jawab adikku sedikit lesu.