Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda

Pembalasan Manis Tuan & Nona Muda
71. Rumah Sakit (1)


__ADS_3

Pukul 15.30, aku sudah siap dengan kaus, jaket, dan celana jeans kesayanganku. Pakaian santai memang paling nyaman untuk kupakai. Setelah selesai bersiap, aku dan Damian menuju lantai bawah. Tebak pemandangan apa yang kulihat pertama kali? Sepasang manusia yang sedang menikmati waktu mereka yang berharga.


Rasanya jahat sekali jika mengganggu mereka, tapi bukankah aku ini ibarat tokoh antagonis di kehidupan ini? Tokoh yang menghancurkan masalah dan membuat konflik, lalu berakhir dengan penderitaan. Kurang lebih aku menganggapnya seperti itu.


"Ah! Clarie, ternyata kamu sudah siap?" Alyta sedikit kaget dengan kedatanganku. Jelas sekali dia berubah, kemana Alyta yang selalu menggangguku? Kemana Alyta yang terus menempel? Seakan dia hilang saja.


Terus berjalan dan mengacuhkan mereka berdua, itu caraku untuk menghindari rasa kesal. Tenang dan fokus, pusatkan perhatianmu tentang balas dendam Clarie.


Setelah aku, Damian, Ben, dan Alyta masuk ke dalam kendaraan, kami mulai meninggalkan kediaman keluarga Xiao. Selama perjalanan berlangsung, diam-diam aku memperhatikan kelakuan dua orang yang duduk di kursi depan. Mereka berbeda dari yang dulu, lebih bahagia, ceria, dan hangat. Seakan kepergianku beberapa hari yang lalu adalah sebuah berkat bagi kebahagiaan mereka. Sesak!


Sesampainya di rumah sakit, kami langsung saja menuju ke ruang di mana Papa dan Mama dirawat. Kebetulan Ben tahu, dan entah dari mana dia bisa tahu. Kamar nomor 137 adalah tempatnya.

__ADS_1


Yups, aku sudah ada di depan pintu kamar tersebut. Namun aku belum membukanya, entahlah, aku bingung. Aku mau pulang saja. "Mau kubukakan?" tawar Alyta, dan itu sedikit membuatku terkejut. Ayolah, dia jadi menyebalkan.


Karena aku tidak menjawab, dia membuka pintu kamar dan masuk. Kemudian Ben menyusulnya. Hei!!!! Dasar kep***t! Aku jadi ingin mencekiknya!! Apa-apaan yang barusan?!


"Nona, Anda bisa membalasnya. Ayo masuk, aku rasa mereka sedang menunggu kita," ucapan Damian lumayan benar. Aku bisa membalasnya.


Bau obat-obatan semakin bertambah menyengat, dan dengan terpaksa aku harus menutup hidungku. Aku benci bau menyengat seperti ini. Langkahku terhenti ketika melihat kondisi kedua orang tuaku. Mereka terbaring lemah di atas ranjang, wajah yang pucat. Aku ingin menagis. Ya ampun, aku jadi ingin mengambil gambar mereka.


Kepalaku menggeleng pelan, sekarang aku tidak menghiraukan bau obat-obatan ini. "Papa, Mama, bisakah kalian menghadap ke sini?" serentak kedua orang tua yang berbaring di ranjang menghadap ke arahku. Bukan hanya mereka, tapi Ben dan Alyta juga.


Suara jepretan kamera terdengar dan semua orang menatapku dengan tanda tanya yang jelas. "Hanya membuat kenangan saja," ucapku akhirnya. "Bagaiman Papa dan Mama bisa mengalami kecelakaan?"

__ADS_1


"Sepertinya ada yang sengaja mengotak-atik kendaraan kami, Nak. Awalnya semua baik-baik saja dan tidak ada yang aneh. Namun setelah memasuki jalanan yang ramai, mobil menjadi di luar kendali,"


"Maksud Papa, remnya blong?" tanyaku. Namun papa menggeleng.


"Bukan, seperti ada yang mengendalikan mobil yang kami naiki," setelahnya aku hanya bisa berkata 'oh'. Lalu diam memperhatikan keempat orang yang terlihat mulai asik mengobrol.


Cklek! Renata masuk, saat mendapati diriku ada di ruangan ini dia terkejut dan mengalihkan pandangannya. Apa dia juga ikut-ikutan berubah seperti yang lain? Dan jawabannya adalah iya, dia juga berubah.


"Hai Adik, apa yang kamu bawa?" aku mendekati Renata. Jelas sekali dia tampak khawatir, dan wajahnya menyiratkan ingin kabur. Ini bukan Renata yang kukenal. "Kenapa kamu ingin kabur? Apa kamu takut? Lalu kenapa tidak menjawabku? Sebenarnya kamu siapa? Apakah benar kamu Renata?" aku memberikan pertanyaan beruntut, terserah dengan keadaannya. "Di mana Renata? Di mana Renata yang suka mengejekku?"


"Clarie, berhentilah. Lihat dia jadi ketakutan,"

__ADS_1


__ADS_2