
Keesokan harinya, Clarie izin tidak berangkat bekerja. Dia menjaga rumah Ben bersama dengan Diena, sementara Ben, Lena, dan Deo berada di rumah sakit untuk merawat Martin.
Kedua penyusup itu tidak mengaku siapa yang memerintah mereka untuk mencuri data, itu masih menjadi teka-teki.
Matahari sudah berada di puncak, rumah Ben terasa lebih suram dari biasanya. Ketegangan dan kengerian sudah mereka lewati kemarin, tapi itu memakan korban. Katanya selama beberapa bulan terakhir tidak ada orang yang datang untuk mencuri atau melakukan hal-hal yang aneh, dan sekarang mereka datang kembali. Clarie memikirkan tentang respon Ben nantinya saat Ben sudah kembali, tentang senapan. Itu salah satu barang yang Clarie beli dari web yang tidak bisa semua orang akses. Bagaimana jika Ben menanyakannya sampai ke akar?
"Clarie, Kak Ben menyuruhmu untuk ke rumah sakit. Ada yang ingin dia bicarakan katanya," kata Diena. Clarie bangkit dan segera melapisi badannya dengan jaket. "Baik, tolong bilang ke Ben kalau aku sedang dalam perjalanan. Apa kamu akan baik-baik saja jika di rumah sendirian?" tanya Clarie memastikan semuanya akan berjalan dengan baik.
"Aku bisa mengaturnya,"
Setelah masuk ke dalam taksi yang Clarie pesan, di dalam kepalanya ada pikiran yang baru saja muncul. Apa Ben curiga dengan kelakuanku kemarin? Apa dia akan berterimakasih kepadaku atau mengusirku?
Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, masalah yang datang menumpuk bahkan masalah pribadinya masih belum terselesaikan dan sekarang dia harus mengurus masalah orang lain yang wajib dia tangani.
Taksi berhenti di seberang rumah sakit pusat, Clarie membayar ongkos dan segera menyebrangi jalan. Clarie cepat-cepat masuk ke rumah sakit dan menanyakan lokasi kamar nomor 45, kamar di mana Martin dirawat. Tok Tok Tok!
__ADS_1
......................
"Dia membunuh orang-orang itu, dia memandang mereka dengan tatapan yang tidak bersalah. Apa keputusanku salah Nek? Apa aku salah membawa orang?" tanya Ben kepada Neneknya. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau mengingat kejadian tadi malam, tidak bisa dipungkiri kalau keamanan dan kewaspadaan di rumahnya menurun sejak Clarie tinggal di rumahnya. Ben mencurigai Clarie, berdasarkan apa yang matanya lihat semalam, Clarie terlihat berbeda.
Deo dan Lena memandang lesu ke arah Martin yang tertidur dengan pulas, kemudian beralih ke Ben dan Aleeza. Pemandangan ini menyedihkan, sangat menyedihkan.
Tok Tok Tok! Pintu kamar diketuk oleh seseorang, Ben segera berdiri dan membuka pintu. Dia tahu siapa yang datang, Clarie. "Apa semuanya baik-baik saja? Ada apa kamu memintaku ke sini?"
Ben tidak menjawab pertanyaan Clarie, dia memilih untuk memandang lagi mata gadis itu. Memandang tatapan matanya yang mungkin berbeda dari tadi malam. Namun tatapan itu masih melekat, datar dan dingin.
Clarie yang menyadari kalau suasana hati Ben yang buruk, mengikuti Ben di belakang. Sekitar mereka sepi, tidak ada yang berniat membuka percakapan terlebih dahulu.
Mereka berdua duduk di bangku taman, angin berhembus menemani kepedihan hati. Masih sama seperti tadi, tidak ada yang ingin berbicara dan ini membuat Clarie lebih percaya dengan apa yang dia khawatirkan.
"Rumah bagaimana?" tanya Ben setelah sekian menit tidak membuka suara.
__ADS_1
"Baik, Diena ada di sana. Em, apa kamu ingin membicarakan masalah tadi malam? Sebenarnya senapan itu..."
"Saat melihat kedua orang penyusup itu meninggal, apa yang kamu rasakan?"
Clarie terdiam, pertanyaan yang tidak dia pikirkan tadi dan dia belum menyiapkan jawaban yang akan dia berikan.
"Apa yang kamu rasakan? Aku beri waktu 3 detik untuk menjawabnya,"
1 detik, 2 detik,
"Aku merasa sedikit puas, mereka terlihat seperti rusa. Dan aku merasa Kakekku ada di sana, menepuk bahuku berkali-kali dengan keras dan bangga,"
Seketika Ben menatap Clarie, mata gadis itu terpejam dan bibirnya sedikit tersenyum. Itu tidak masuk akal, mungkin itu hanya sebuah alasan yang dibuat-buat. "Clarie, manusia bukan hewan, keduanya jelas sangat berbeda,"
"Hah, ya, aku tahu. Tapi tidak ada salahnya bukan kalau aku melakukannya atas dasar perjanjian kita? Aku harus melindungimu dan keluargamu, apapun dan bagaimanapun caranya. Apa aku salah? Dan saat ini pasti kamu sedang mencurigaiku kan Ben?"
__ADS_1